Perlu Manajemen Strategis

Dakwah di Era Global

Dakwah di era global selalu berhadap dengan politik luar negeri negara-negara besar dan maju yang cenderung mendominasi negara-negara kecil dan terbelakang. Konstelasi ini meniscayakan perubahan manajemen dakwah agar dakwah tidak hanya dipahami sebagai “orasi di atas mimbar”, tetapi juga semua aktivitas yang mengarah pada kemaslahatan dan kemakmuran umat manusia. Ketika Islam dan Barat tengah mengalami gangguan hubungan, kemasan dakwah yang dialogis dan universal menjadi kebutuhan yang relevan dan signifikan. Bagaimana manajemen strategis dakwah di era modern? Berikut perbincangan Reporter CMM dengan Dr. Ibnu Hamad, pakar komunikasi dan dosen Universitas Indonesia:

Bagaimana agar tema-tema khutbah para dai sesuai dengan masalah sosial kemasyarakatan?
Kita harus memahami konsep dai. Dai hendaknya tidak dipandang orang perorangan, tapi dalam sebuah manajeman organisasi yang baik. Di dalamnya bergabung orang-orang yang menguasai atau ahli dalam pelbagai disiplin ilmu. Jadi, dakwah utama sekarang tidak harus menjadi penceramah ulung di depan publik, tapi bagaimana memberdayakan masyarakat (society enpowerment) yang harus ditopang dengan teknologi rekayasa sosial (social engineering) dan dibantu oleh rekaya teknologi (technology engineering) yang baik. Dakwah kita maknai dengan usaha-usaha membangun peradaban umat. Petani yang bercocok tanam dengan baik dalam rangka beribadah kepada Allah termasuk juga dakwah. Kita seringkali memahami dai hanyalah orang yang mampu beretorika dengan baik di depan publik.

Jadi, setiap orang bisa menjadi dai dengan profesi masing-masing. Barangkali ini yang perlu dipahami oleh umat Islam, begitu?
Benar, tapi kita harus memperbaiki manajemen dakwah dengan memakai konsep manajemen komunikasi strategis atau dalam istilah lain manajemen dakwah strategis. Maksudnya, visi dan misi ajaran Islam diturunkan dalam level operasional, kemudian direncanakan dalam program kerja sehari-hari.

Bisakah Anda memberi contoh?
Contoh organisasi yang menerapkan konsep seperti ini adalah Muhammadiyah. Mereka punya visi dan misi yang diterjemahkan ke dalam bentuk sebuah program ekonomi ataupun pendidikan. Muhammadiyah telah berdakwah, tapi tidak dalam arti berpidato di depan publik.

Menurut Anda, pa makna kehadiran CMM bagi geliat dakwah di era global?
Menurut saya, CMM hadir sebagai wahana kita bersama memahami Islam dengan lebih komprehensif, tidak “kanan” dan tidak “kiri”. Dalam arti menciptakan suasana keislaman yang rasional bagi semua kalangan, termasuk umat Islam dan umat di luar Islam.

Bagaimana belajar agama yang efektif di tengah keberagaman pendapat tentang ajaran Islam?
Mengenai banyaknya ragam pendapat tentang ajaran Islam, saya cuma ingin menyatakan pendapat orang dahulu di pesantren, “Kalau mengaji tidak ada gurunya, sama halnya mengaji pada setan.” Artinya, dalam memahami Islam harus mempunyai guru. Islam mengajarkan tentang urusan dunia dan akhirat, berarti kita harus mempunyai guru yang mumpuni dalam kedua hal ini.

Bagaimana jika seseorang tidak bertemu dengan guru yang tepat?
Kita harus mencari guru yang baik. Saat ini alat-alat komunikasi semakin canggih yang memungkinkan seseorang mendapatkan guru yang baik tanpa harus tatap muka dengannya. Jika ia bertemu dengan guru yang menyesatkan, harusnya yang bersangkutan cross check dengan sumber-sumber lain sehingga bisa mengetahui kebenaran dari suatu pernyataan. Jangan taklid buta, tapi harus kritis.

Manusia menjadi tidak tidak berharga ketika mempunyai sifat sombong, misalnya. Menurut Anda, bagaimana mengatasinya?
Spirit dari kaum muslim yang Anda katakan adalah terlena dengan kebesaran Islam dan congkak. Ini adalah penyakit hati dan Islam melarang hal ini. Islam mengajarkan umatnya untuk rendah hati dan bersemangat dalam hidup. Kesempurnaan Islam bukan hanya keyakinan belaka, tapi harus dibuktikan sehingga tidak terjebak dari label yang kita agung-agungkan, padahal kita kecil.

Islam dan Barat kini berada dalam posisi berhadapan. Bagaimana mengatasinya?
Posisi Islam dan Barat seharusnya tidak bermusuhan tapi harus menjadi partner. Penyebab hal ini, kedua belah pihak mempunyai provokator yang selalu membuat kedua belah pihak sepertinya selalu berhadap-hadapan. Misalnya di Barat, ada sarjana yang melakukan analisa atau penelitian secara ilmiah, tapi tiba-tiba mengeluarkan suatu dogma ilmiah seperti konsep “clash of civilitization” dari Samuel P. Huntington.

Awalnya, apa yang dilakukan oleh Huntington adalah ilmiah tapi lama kelamaan berubah menjadi dogma ilmiah. Tesis Huntington menempatkan Islam dan peradaban di luar Barat, seperti Konghucu dan China, sebagai musuh peradaban Barat. Ini sangat disayangkan. Semestinya tesis Huntington dilanjutkan dengan kata, “meskipun peradaban berbeda-beda mestinya harus menjadi partner.” Tapi sayang kesimpulan dari tesis Huntington menyatakan akan terjadi suatu benturan besar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: