<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Manajemen dakwah</title>
	<atom:link href="http://manajamendakwah.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://manajamendakwah.wordpress.com</link>
	<description>majulah membangun dakwah yang terorganisir</description>
	<lastBuildDate>Tue, 14 Oct 2008 13:10:04 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='manajamendakwah.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Manajemen dakwah</title>
		<link>http://manajamendakwah.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://manajamendakwah.wordpress.com/osd.xml" title="Manajemen dakwah" />
	<atom:link rel='hub' href='http://manajamendakwah.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Aplikasi Perencanaan Dakwah</title>
		<link>http://manajamendakwah.wordpress.com/2008/09/26/aplikasi-perencanaan-dakwah/</link>
		<comments>http://manajamendakwah.wordpress.com/2008/09/26/aplikasi-perencanaan-dakwah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Sep 2008 14:59:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>manajamendakwah</dc:creator>
				<category><![CDATA[manajamen]]></category>
		<category><![CDATA[dakwah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://manajamendakwah.wordpress.com/?p=57</guid>
		<description><![CDATA[Aplikasi Perencanaan Dakwah Sasaran dakwah ini dilakukan disebuah daerah perkampungan di Jakarta Barat tepatnya di Jl. Palmerah Barat IIa Rt 010/009 Kelurahan Palmerah Kecamatan Palmerah Saya sedikit akan menceritakan kondisi masyarakat ini. · Jumlah penduduk secara keseluruhan ± 500 orang · Terdiri dari laki-laki dan perempuan. Terdiri dari ± 300 jiwa Laki-laki dan 200 jiwa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=manajamendakwah.wordpress.com&amp;blog=4519951&amp;post=57&amp;subd=manajamendakwah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Aplikasi Perencanaan Dakwah</strong><br />
	Sasaran dakwah ini dilakukan disebuah daerah perkampungan di Jakarta Barat tepatnya di Jl. Palmerah Barat IIa Rt 010/009 Kelurahan Palmerah Kecamatan Palmerah Saya sedikit akan menceritakan kondisi masyarakat ini.<br />
·	Jumlah penduduk secara keseluruhan ± 500 orang<br />
·	Terdiri dari laki-laki dan perempuan. Terdiri dari ± 300 jiwa Laki-laki dan 200 jiwa Perempuan.<br />
·	200 anak kecil dan ± 300 orang dewasa.<br />
·	Pendidikan beragam mulai pendidikan yang paling rendah sampai yang paling tinggi. Bisa digambarkan yang berpendidikan rendah sampai yang paling terendah mencapai 40% dan yang berpendidikan sedang, menengah sampai atas 60%. Bisa dibayangkan bahwa pendidikan dikampung ini masih dikatakan benyak yang berpendidikan rendah, tetapi tidak sedikit juga yang berpendidikan sedang, menengah ataupun tinggi.<span id="more-57"></span><br />
·	Profesi beragam, sektor formal dan informal. Saya akan sedikit menceritakan. Jika kita lihat persentase pendidikan diatas maka bisa kita simpulkan bahwa profesi warga dikampung ini lebih banyak berkerja disektor informal dan tidal sedikit juga warga yang berprofesi disektor formal.<br />
·	Kehidupan Keagamaan relatif kurang, bisa dikatakan kampung ini memang kehidupan keagamaannya masih kurang. Terutama sekali bagi kaum pemudanya karena banyak pemuda yang masih mabuk-mabukan ataupun menggunakan narkoba.<br />
·	Hidup dilingkungan pinggiran kota Jakarta membuat keadaan lingkungan dikampung ini jauh sekali dengan kehidupan yang bersih baik bersih jasmani maupun rohani.<br />
·	Keadaan kriminalitas masih sering terjadi. Mungkin dikampung ini masih bisa dikatakan kriminalitas masih sering terjadi karena kurangnya kehidupan keagamaan yang kurang terlebih bagi kaum pemudanya.<br />
·	Kehidupan sosial dan politik cukup sadar. Cukup sadar disini adalah masyarakat dikampung ini mereka tahu perkembangan polotik di Indonesia.</p>
<p><strong>Keadaan Ekonomi yang Lemah Bisa Menurunkan Iman Seseorang</strong></p>
<p>	Manusia kini ada dalam situasi global dan era reformasi, kita makin hidup mendekat satu sama lain, tidak ada yang dapat menghindari dari kecenderungan ini termasuk umat beragama. Secara global makin tampak proses enkulturasi dan alkulturasi nilai moral dari timur ke masyarakat barat, sedangkan di timur terjadi enkulturasi dan akulturasi pemikiran barat kedalam masyarakat timur dan juga hedonisme barat, tidak terkecuali masyarakat Indonesia kehidupan hedonistik jelas mengabaikan kehidupan beragama.<br />
	Memasuki millennium baru dunia dakwah menghadapi tantangan baru yang lebih sistematik sifatnya. Pengkajian kembali tentang pengertian, ruang lingkup, dan metode dakwah perlu terus dilakukan. Dakwah diera reformasi dimana dunia semakin didalam sebuah masyarakat yang tanpa batas dan umat manusia hidup didalam dunia semakin menciut imannya. Terutama disebabkan oleh lajunya perkembangan teknologi, komunikasi, informasi, dan transportasi, kunci keberasilan dalam pengembangan dakwah islam diera reformasi tidak bisa lain adalah pemanfaatan manajemen modern.</p>
<p><strong>NAMA KEGIATAN </strong><br />
Nama kegiatan dari acara ini adalah “OBSERVASI PERENCANAAN KEGIATAN DAKWAH”.<br />
<strong>METODE KEGIATAN</strong><br />
Metode yang kami lakukan terhadap masyarakat disana adalah PENDEKATAN yaitu kami membuka pengajian-pengajian, dll.<br />
<strong>TEMA KEGIATAN</strong><br />
Adapun tema kegiatan ini adalah “ MEMANAGE KEHIDUPAN DAN PRIBADI SEHARI-HARI SANGAT LAH PENTING UNTUK MELAWAN KERASNYA KEHIDUPAN”<br />
<strong>SUMBER DAYA MANUSIA</strong><br />
Sumber daya manusia ini adalah ORANG-ORANG YANG HAUS AKAN ILMU AGAMA”.<br />
<strong>SARANA DAN PRASARANA</strong><br />
Sarana dan Prasarana yang kita butuhkan adalah Kendaraan dll.<br />
SUMBER DANA<br />
1.Uang Pribadi.</p>
<p><strong>TUJUAN</strong><br />
Tujuan Observasi ini adalah “INGIN BAHAGIA DUNIA DAN AKHERAT”.<br />
<strong>TARGET</strong><br />
Target Dakwah kami adalah Masyarakat Rt 010/009 Kelurahan Palmerah Kecamatan Palmerah Jakarta Barat.<br />
<strong>BENTUK DAKWAH </strong><br />
Bentuk Dakwah kami adalah “BIL HAL, BIL LISN. Yaitu kami memberikan contoh bagaimana berprilakuan yang baik dan kami memberikan pengetahuan tentang agama yaitu dengan pengajian-pengajian.<br />
<strong>EVALUASI KEGIATAN</strong><br />
Evaluasi kegiatan kami masyarakat pada umumnya menerima semua kegiatan kami.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/manajamendakwah.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/manajamendakwah.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/manajamendakwah.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/manajamendakwah.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/manajamendakwah.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/manajamendakwah.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/manajamendakwah.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/manajamendakwah.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/manajamendakwah.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/manajamendakwah.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/manajamendakwah.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/manajamendakwah.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/manajamendakwah.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/manajamendakwah.wordpress.com/57/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=manajamendakwah.wordpress.com&amp;blog=4519951&amp;post=57&amp;subd=manajamendakwah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://manajamendakwah.wordpress.com/2008/09/26/aplikasi-perencanaan-dakwah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3923ca157b0f4916fdb4846b3799332c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">manajamendakwah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Penilaian Prestasi Kerja</title>
		<link>http://manajamendakwah.wordpress.com/2008/09/26/penilaian-prestasi-kerja/</link>
		<comments>http://manajamendakwah.wordpress.com/2008/09/26/penilaian-prestasi-kerja/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Sep 2008 14:49:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>manajamendakwah</dc:creator>
				<category><![CDATA[manajamen]]></category>
		<category><![CDATA[makalah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://manajamendakwah.wordpress.com/?p=55</guid>
		<description><![CDATA[Untuk melihat apakah seorang pekerja itu yang dilatih dan dikembangkan itu memperoleh manfaat dari apa yang mereka lekukan, maka perlu dilakukan evaluasi atau penilaian atas prestasi kerja merupakan hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang pekerja dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggungjawab yang diberikan kepadanya, tujuannya penilaian prestasi kerja adalah untuk mengetahui [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=manajamendakwah.wordpress.com&amp;blog=4519951&amp;post=55&amp;subd=manajamendakwah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:16pt;font-family:&quot;" lang="EN-US"><!--[if !supportEmptyParas]--><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">Untuk melihat apakah seorang pekerja itu yang dilatih dan dikembangkan itu memperoleh manfaat dari apa yang mereka lekukan, maka perlu dilakukan evaluasi atau penilaian atas prestasi kerja merupakan hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang pekerja dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggungjawab yang diberikan kepadanya, tujuannya penilaian prestasi kerja adalah untuk mengetahui apakah seorang pekerja telah berkerja sesuai dengan standar-standar yang telah ditentukan sebelumnya.</span></p>
<p><span id="more-55"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US"><!--[if !supportEmptyParas]--><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US"><span> </span>Kita akan menggunakan istilah penilaian prestasi kerja untuk menggantikan proses kesinambungan dalam memberikan kepada bawahan umpan balik tentang seberapa baik kontribusi mereka terhadap perusahaan mereka kerja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US"><!--[if !supportEmptyParas]--><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">Proses penilaian prestasi kerja ini terjadi baik secara informal maupun secara sistematis:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US"><!--[if !supportEmptyParas]--><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">1. Penilaian informal dilakukan dari hari ke hari, yaitu:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:14.2pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US"><span> </span>Seorang manajer secara spontan mengatakan bahwa suatu<span> </span>perkerjaan yang dilakukan oleh karyawannya apakah itu baik atau buruk. Penilaian informal dengan cepat mendorong prestasi yang diinginkan dan menghindarkan prestasi yang tidak diingunkan sebelum mendarah daging didalam perusahaan tersebut. Para pekerja harus memandang penilaian informal tidak hanya semata-mata sebagai suatu kejadian biasa tetapi sebagai suatu kegian penting.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:14.2pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US"><!--[if !supportEmptyParas]--><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:14.2pt;text-align:justify;text-indent:-14.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">2. Penilaian sistematis terjadi setiap setengah tahun atau setahun secara<span> </span>formal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:14.2pt;text-align:justify;text-indent:-14.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US"><span> </span><span> </span><em>Penilaian seperti itu mempunyai 4 maksud utama</em>:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:40pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:Wingdings;" lang="EN-US">v<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">Memungkinkan bawahan mengetahui secara formal prestasi mereka dinilai.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:40pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:Wingdings;" lang="EN-US">v<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">Mengetahui bawahan yang berhak atas kenaikan nilai.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:40pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:Wingdings;" lang="EN-US">v<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">Menemukan bawahan yang memerlukan latihan tambahan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:40pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:Wingdings;" lang="EN-US">v<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">Memegang peran penting untuk mengindentifikasi bawahan yang merupakan calon untuk promosi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US"><!--[if !supportEmptyParas]--><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">1. Perlunya Menilai Prestasi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:14.2pt;text-align:justify;text-indent:-14.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US"><span> </span><span> </span>Sebenarnya ada beberapa alasan untuk menilai prestasi. Pertama, penilaian prestasi menyediakan informasi sebagai dasar pengambilan keputusan tentang <em>promosi</em> dan <em>gaji</em>. Untuk kedua hal itulah penilaian paling sering digunakan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:14.2pt;text-align:justify;text-indent:-14.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US"><span> </span>Kedua, penilaian prestasi menyediakan kesempatan bagi manajer dan bawahan untuk bersama-sama meninjau perilaku bawahan yang berkaitan dengan perkerjaan. Semua orang pada umumnya membutuhkan dan menginginkan balikan tentang prestasi mereka (terutama sekali apabila hal itu menyenangkan) dan penilaian menyediakan balikan tersebut. Akhirnya, penilaian prestasi juga memungkinkan manajer bersama-sama dengan bawahan menyusun suatu rencana untuk memperbaiki setiap defisiensi yang dapat diketahui.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:14.2pt;text-align:justify;text-indent:-14.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US"><!--[if !supportEmptyParas]--><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:14.2pt;text-align:justify;text-indent:-14.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">A. Langkah-langkah Dalam Menilai Prestasi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:14.2pt;text-align:justify;text-indent:-14.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US"><span> </span><span> </span>Penilaian prestasi terdiri dari tiga langkah: Mendefinisikan perkerjaan, menilai prestasi, menyediakan balikan. <strong><em>Pendefinisian</em> <em>perkerjaan</em></strong> berarti memastikan bahwa manajer dan bawahan bersama-sama sepakat atas hal-hal yang diharapkan tercapai oleh bawahan dan standar yang akan digunakan untuk menilai prestasinya. <strong><em>Penilaian prestasi</em></strong> berarti membandingkan antara prestasi aktual bawahan dengan standar yang ditetapkan dalam langkah pertama. Selanjutnya, penilaian prestasi biasanya mengharuskan adanya <strong><em>pertemuan-pertemuan</em></strong> dimana dalam kesempatan itu juga dirancang rencana pengembangan yang mungkin diperlukan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:14.2pt;text-align:justify;text-indent:-14.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US"><!--[if !supportEmptyParas]--><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:14.2pt;text-align:justify;text-indent:-14.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">B. Masalah-masalah yang perlu dihidarkan dalam penilaian prestasi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:14.2pt;text-align:justify;text-indent:-14.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US"><span> </span>Dalam setiap langkah penilaian prestasi dapat timbul masalah-masalah. Sebagian upaya penilaian gagal karena bawahan tidak diberitahu sebelumnya tentang hal yang sesungguhnya manajer harapkan dari mereka dalam kaitannya dengan prestasi yang baik. Upaya penilaian lain gagal karena masalah-masalah yang timbul dari penggunaan format atau prosedur untuk menilai prestasi secara aktual; misalnya, supervisor yang toleran boleh jadi memberikan harkat “tinggi” bagi seluruh bawahan, meskipun banyak yang sebenarnya berprestasi tidak memuaskan. Masalah-masalah lain juga dapat timbul dalam sesi wawancara, yang antara lain meliputi perdebatan dan komunikasi yang buruk. Berikut ini kita akan membicarakan masalah-masalah tersebut dan cara menghidarkannya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:14.2pt;text-align:justify;text-indent:-14.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US"><!--[if !supportEmptyParas]--><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:14.2pt;text-align:justify;text-indent:-14.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">2. </span><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">Cara Mendefisinikan Perkerjaan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:14.2pt;text-align:justify;text-indent:-14.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;" lang="EN-US"><!--[if !supportEmptyParas]--><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:14.2pt;text-align:justify;text-indent:-14.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;" lang="EN-US"><span> </span></span><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">Memperjelas Prestasi yang Diharapkan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:14.2pt;text-align:justify;text-indent:-14.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US"><span> </span><span> </span>Biasanya uraian perkerjaan tidaklah cukup menjelaskan hal-hal yang manajer inginkan untuk dikerjakan oleh bawahan, karena uraian perkerjaan pada umumnya tidak disusun bagi pekerjaan tertentu yang spesifik tetapi bagi kelompok-kelompok pekerjaan seluruhnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:14.2pt;text-align:justify;text-indent:-14.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US"><!--[if !supportEmptyParas]--><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:14.2pt;text-align:justify;text-indent:-14.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">3. </span><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">Cara Menilai Prestasi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:14.2pt;text-align:justify;text-indent:-14.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;" lang="EN-US"><!--[if !supportEmptyParas]--><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:Wingdings;" lang="EN-US">v<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">Teknik Skala Pengharkatan grafik</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">Yaitu, teknik penilaian prestasi yang paling sederhana dan paling populer pengharkatan grafik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:Wingdings;" lang="EN-US">v<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">Metode Pemeringkatan Berselang-seling</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">Yaitu, teknik penilaian pegawai yang populer dan sederhana lainnya adalah dengan memeringkat prestasi para pegawai dari yang terbaik sampai yang terburuk atas beberapa faktor.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:Wingdings;" lang="EN-US">v<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">Metode Perbandingan Berpasangan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">Yaitu, metode ini membantu dalam lebih mengefektifkan metode pemeringkatan. Dalam metode ini setiap bawahan diperbandingkan satu sama lain secara berpasangan dalam tiap faktor (kuantitas perkerjaan, kualitas perkerjaan dan sebagainya).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:Wingdings;" lang="EN-US">v<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">Metode Distribusi Paksa</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">Metode ini serupa dangan cara, “memberikan nilai kepada kurva”. Dengan metode ini. Presentase pegawai yang akan diharkat yang telah ditetapkan sebelumnya ditempatkan dalam berbagai katagori prestasi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US"><!--[if !supportEmptyParas]--><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">Skala Pengharkatan Perilaku</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US"><!--[if !supportEmptyParas]--><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US"><span> </span>Skala pengharkatan yang dikaitkan dengan prilaku bertujuan untuk mengkombinasikan manfaat yang diperoleh dari insiden kritis naratif dan pengharkatan kuantitatif dengan mengaitkan suatu skala yang dikuantifikasi dengan contoh-contoh yang spesifik dan naratif dari prestasi yang abaik atau buruk. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US"><span> </span>Penyusunan suatu skala pengharkatan perilaku secara khusus terdiri dari lima langkah:</span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal"><em><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">Menghimpun      insiden-insiden kritis</span></em><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">.</span></li>
<li class="MsoNormal"><em><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">Menyusun      dimensi prestasi</span></em><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">.</span></li>
<li class="MsoNormal"><em><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">Merelokasi      insiden</span></em><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">.</span></li>
<li class="MsoNormal"><em><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">Menyusun      skala insiden</span></em><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">.</span></li>
<li class="MsoNormal"><em><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">Menyusun      instrumen akhir</span></em><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">.</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US"><!--[if !supportEmptyParas]--><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">4. </span><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">Masalah Isu Dalam Penilaian Prestasi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;" lang="EN-US"><!--[if !supportEmptyParas]--><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">Menanggulangi Lima Masalah Penilaian Pokok Dalam Skala Pengharkatan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US"><!--[if !supportEmptyParas]--><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:14.2pt;text-align:justify;text-indent:21.8pt;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">Ada lima masalah pokok yang dapat merusak teknik penilaian seperti skala pengharkatan grafik, yaitu: Standar yang tidak jelas, efek halo, kecondongan memusat, kemurahan hati.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:14.2pt;text-align:justify;text-indent:21.8pt;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US"><!--[if !supportEmptyParas]--><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:14.2pt;text-align:justify;text-indent:21.8pt;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">Cara Menghindari Masalah-masalah Penelitian</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:14.2pt;text-align:justify;text-indent:21.8pt;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">Pertama-tama, pastikan bahwa manajer benar-benar memahami masalah yang baru saja dibicarakan. Pemahaman atas masalah tersebut merupakan langkah besar pertama dalam upaya menghidarkan masalah-masalah itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:14.2pt;text-align:justify;text-indent:21.8pt;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">Kedua, pilih teknik penilaian yang tepat. Setiap teknik, seperti skala pengharkatan grafik atau metode insiden kritis, memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:14.2pt;text-align:justify;text-indent:21.8pt;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US"><!--[if !supportEmptyParas]--><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:14.2pt;text-align:justify;text-indent:21.8pt;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">Cara Memastikan bahwa Bawahan Memandang Penilaian sebagai hal yang Fair.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">a.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">Traning Pengharkat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">b.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">Penilaian Prestasi dan Praktek Kepegawaian yang Fair.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US"><!--[if !supportEmptyParas]--><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">5. </span><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">Siapa yang Seharusnya Melakukan Penilaian?</span><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:14.2pt;text-align:justify;text-indent:-14.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US"><span> </span>Soal mengenai siapa yang seharusnya mengharkat pegawai secara aktual merupakan pertanyaan yang penting. Meskipun pengharkatan yang dilakukan oleh supervisor masih merupakan pendekatan yang umum diterapkan, pada dasarnya ada beberapa pilihan yang tersedia.</span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">Penilaian oleh Supervisor Langsung. Pengharkatan      yang dilakukan oleh supervisor merupakan jantung dari seluruh sistem      penilaian umumnya. Hal ini disebabkan karena mudah untuk memperoleh hasil      penilaian supervisor dan dapat diterima oleh akal sehat.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">Penggunaan Penilaian teman Sekerja. Penilaian      seorang pegawai oleh teman kerjanya telah terbukti efektif dalam      memperkirakan keberhasilan manajemen dimasa depan.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">Penggunaan Panitia Pengharkatan. Banyak      perusahaan menggunakan panitia pengharkatan untuk menilai para pegawai.      Panitia ini sering beranggotakan para supervisor langsung dan tiga atau      empat anggota adalah supervisor lain; setiap anggota panitia seharusnya      mampu menilai prestasi pegawai yang baik.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">Swa-penilaian. Beberapa perusahaan telah      berpengalaman menerapkan pengharkatan prestasi oleh karyawan      sendiri(biasanya bersama-sama dengan pengharkatan supervisor). </span></li>
</ol>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/manajamendakwah.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/manajamendakwah.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/manajamendakwah.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/manajamendakwah.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/manajamendakwah.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/manajamendakwah.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/manajamendakwah.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/manajamendakwah.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/manajamendakwah.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/manajamendakwah.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/manajamendakwah.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/manajamendakwah.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/manajamendakwah.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/manajamendakwah.wordpress.com/55/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=manajamendakwah.wordpress.com&amp;blog=4519951&amp;post=55&amp;subd=manajamendakwah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://manajamendakwah.wordpress.com/2008/09/26/penilaian-prestasi-kerja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3923ca157b0f4916fdb4846b3799332c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">manajamendakwah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pengertian Syariah dan Fiqh</title>
		<link>http://manajamendakwah.wordpress.com/2008/09/10/pengertian-syariah-dan-fiqh/</link>
		<comments>http://manajamendakwah.wordpress.com/2008/09/10/pengertian-syariah-dan-fiqh/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Sep 2008 18:15:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>manajamendakwah</dc:creator>
				<category><![CDATA[FiQih]]></category>
		<category><![CDATA[syariah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://manajamendakwah.wordpress.com/?p=45</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu argumentasi yang kerap dilontarkan kelompok liberal-sekuler untuk menolak syariah Islam adalah dekonstruksi makna syariah dan fikih. Syariah disebut memang berasal dari Allah SWT sementara fiqh adalah hasil pikiran manusia yang lepas dari syariah. Pada gilirannya dikatakan penerapan hukum Islam oleh negara adalah sekedar persoalan fiqh, karenanya tidak berhubungan dengan Allah SWT. Berikut ini [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=manajamendakwah.wordpress.com&amp;blog=4519951&amp;post=45&amp;subd=manajamendakwah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Salah satu argumentasi yang kerap dilontarkan kelompok liberal-sekuler untuk menolak syariah Islam adalah dekonstruksi makna syariah dan fikih. Syariah disebut memang berasal dari Allah SWT sementara fiqh adalah hasil pikiran manusia yang lepas dari syariah. Pada gilirannya dikatakan penerapan hukum Islam oleh negara adalah sekedar persoalan fiqh, karenanya tidak berhubungan dengan Allah SWT. Berikut ini kami memaparkan makna syariah dan fiqh berdasarkan pandangan ulama. Intinya fiqh tidak bisa dilepaskan dari syariah Islam . Fiqh adalah adalah syariah Islam yang berdasarkan dalil yang rinci yang tetap bersumber pada Al Qur’an dan as Sunnah. Fiqh bukanlah semata-mata hasil pikiran manusia yang tidak berpijak pada hukum syara’ yang bersumber dari al Qur’an dan as Sunnah. Jadi yang menolak fiqh adalah juga berarti menolak syariah Islam.<span id="more-45"></span></p>
<p>Menelusuri Kembali Makna Fikih dan Syariat<br />
Al-Ghazali berpendapat bahwa secara literal, fikih (fiqh) bermakna al-‘ilm wa al-fahm (ilmu dan pemahaman). (Imam al-Ghazali, Al-Mustashfâ fî ‘Ilm al-Ushûl, hlm. 5. Lihat juga: Imam al-Razi, Mukhtâr ash-Shihâh, hlm. 509; Imam asy-Syaukani, Irsyâd al-Fuhûl, hlm. 3; Imam al-Amidi, Al-Ihkâm fî Ushûl al-Ahkâm, I/9). Sedangkan menurut Taqiyyuddin al-Nabhani, secara literal, fikih bermakna pemahaman (al-fahm). (Taqiyyuddin an-Nahbani, Asy-Syakhshiyyah al-Islâmiyyah, III/5).<br />
Sementara itu, secara istilah, para ulama mendefinisikan fikih sebagai berikut:<br />
Fikih adalah pengetahuan tentang hukum syariat yang bersifat praktis (‘amaliyyah) yang digali dari dalil-dalil yang bersifat rinci (tafshîlî). (An-Nabhani, ibid., III/5).<br />
Fikih adalah pengetahuan yang dihasilkan dari sejumlah hukum syariat yang bersifat cabang yang digunakan sebagai landasan untuk masalah amal perbuatan dan bukan digunakan landasan dalam masalah akidah. (Al-Amidi, op.cit., I/9).<br />
Fikih adalah ilmu tentang hukum-hukum syariat yang digali dari dalil-dalil yang bersifat rinci. (Asy-Syaukani, op.cit., hlm.3).<br />
Sedangkan syariat/syariah (syarî‘ah) didefinisikan oleh para ulama ushul sebagai berikut:<br />
Syariat adalah perintah Asy-Syâri‘ (Pembuat hukum) yang berhubungan dengan perbuatan-perbuatan hamba dan berkaitan dengan iqtidhâ‘ (ketetapan), takhyîr (pilihan), atau wadh‘i (kondisi) (khithâb asy-Syâri‘ al-muta‘allaq bi af‘âl al-‘ibâd bi al-iqtidhâ‘ aw al-takhyîr, aw al-wadl‘i (An-Nabhani, op.cit., III/31).<br />
Syariat adalah perintah Asy-Syâri‘ (Pembuat hukum) yang berhubungan dengan perbuatan mukallaf (khithâb asy-Syâri‘ al-muta‘allaq bi af‘âl al-mukallafîn. (Al-Amidi, op.cit.)Syariat adalah perintah Asy-Syâri‘ (Pembuat hukum) yang berhubungan dengan perbuatan-perbuatan hamba (khithâb asy-Syâri‘ al-muta‘allaq bi af‘âl al-‘ibâd (Al-Amidi, ibid., I/70-71).<br />
Syariat adalah perintah Asy-Syâri‘ (Pembuat hukum) yang berhubungan dengan perbuatan-perbuatan mukallaf dan berkaitan dengan iqtidhâ‘ (ketetapan), takhyîr (pilihan), atau wadh‘i (kondisi) (khithâb asy-Syâri‘ al-muta‘allaq bi af‘âl al-‘ibâd bi al-iqtidhâ‘ aw al-takhyîr, aw al-wadl‘i. (Asy-Syaukani, op.cit., hlm. 7).<br />
Dari penjelasan di atas, kita dapat menyimpulkan, bahwa fikih dan syariat adalah dua sisi yang tidak bisa dipisah-pisahkan meskipun keduanya bisa dibedakan. Keduanya saling berkaitan dan berbicara pada aspek yang sama, yakni hukum syariat.<br />
Fikih adalah pengetahuan terhadap sejumlah hukum syariat yang digali dari dalil-dalil yang bersifat rinci. Sedangkan syariat adalah hukum Allah yang berlaku pada benda dan perbuatan manusia. Menurut Imam al-Ghazali, fikih mencakup kajian terhadap dalil-dalil dan arah yang ditunjukkan oleh dalil (makna), dari tinjauan yang bersifat rinci. Contohnya, penunjukkan sebuah hadis pada makna tertentu, misalnya nikah tanpa wali secara khusus. (Al-Ghazali, op.cit., hlm. 5). Sedangkan hukum syariat adalah perintah Asy-Syâri‘ yang berhubungan dengan perbuatan hamba, baik dengan iqtidhâ‘, takhyîr, maupun wadh‘i.<br />
Baik fikih maupun syariat harus digali dari dalil-dalil syariat: al-Quran, Sunnah, Ijma Shahabat, dan Qiyas. Keduanya tidak boleh digali dari fakta maupun kondisi yang ada. Keduanya juga tidak bisa diubah-ubah maupun disesuaikan dengan realitas yang berkembang di tengah-tengah masyarakat. Sebaliknya, realitas masyarakat justru harus disesuaikan dengan keduanya.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/manajamendakwah.wordpress.com/45/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/manajamendakwah.wordpress.com/45/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/manajamendakwah.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/manajamendakwah.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/manajamendakwah.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/manajamendakwah.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/manajamendakwah.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/manajamendakwah.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/manajamendakwah.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/manajamendakwah.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/manajamendakwah.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/manajamendakwah.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/manajamendakwah.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/manajamendakwah.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/manajamendakwah.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/manajamendakwah.wordpress.com/45/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=manajamendakwah.wordpress.com&amp;blog=4519951&amp;post=45&amp;subd=manajamendakwah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://manajamendakwah.wordpress.com/2008/09/10/pengertian-syariah-dan-fiqh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3923ca157b0f4916fdb4846b3799332c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">manajamendakwah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam</title>
		<link>http://manajamendakwah.wordpress.com/2008/09/10/sejarah-pemikiran-ekonomi-islam/</link>
		<comments>http://manajamendakwah.wordpress.com/2008/09/10/sejarah-pemikiran-ekonomi-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Sep 2008 17:11:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>manajamendakwah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[makalah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://manajamendakwah.wordpress.com/?p=39</guid>
		<description><![CDATA[Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam Munculnya Islam membuka zaman baru dalam sejarah kehidupan manusia. Kelahiran Nabi Muhammad Saw adalah suatu peristiwa yang tiada tandingannya. Beliau adalah utusan Allah Swt yang terakhir dan sebagai pembawa kebaikan bagi seluruh umat manusia (Rahmatan Lillalamin). Michael Hart[1], dalam bukunya yang terbaru menempatkan beliau menjadi seratus orang yang berpengaruh karena beliau [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=manajamendakwah.wordpress.com&amp;blog=4519951&amp;post=39&amp;subd=manajamendakwah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Munculnya Islam membuka zaman baru dalam sejarah kehidupan manusia. Kelahiran Nabi Muhammad Saw adalah suatu peristiwa yang tiada tandingannya. Beliau adalah utusan Allah Swt yang terakhir dan sebagai pembawa<span> </span>kebaikan bagi seluruh umat manusia <strong>(Rahmatan Lillalamin)</strong>. Michael Hart<a name="_ftnref1" href="#_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]-->[1]<!--[endif]--></span></span></a>, dalam bukunya<span> </span>yang terbaru menempatkan beliau menjadi seratus orang yang berpengaruh karena beliau sangat biajak dalam bidang agama atau bidang duniawi. Banyak permasalahan semasa pemerintahan Rasululah Saw dari mulai politik &amp; urusan kontitusional, Rasulullah Saw merubah sistem ekonomi &amp; keuangan Negara sesuai dengan ketentuan Al-Qur’an &amp; Hadist nya<a name="_ftnref2" href="#_ftn2"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]-->[2]<!--[endif]--></span></span></a>. Didalam Al-Qur’an telah dituliskan secara jelas semua petunjuk bagi umat manusia tentunya bisa diambil dan diadobsi menjadi petunjuk untuk semua urusan manusia. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Kemakmuran di dunia merupakan pemberian dari Allah Swt<span id="more-39"></span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><a href="http://doelmith.wordpress.com">Lanjutkan</a></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/manajamendakwah.wordpress.com/39/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/manajamendakwah.wordpress.com/39/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/manajamendakwah.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/manajamendakwah.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/manajamendakwah.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/manajamendakwah.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/manajamendakwah.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/manajamendakwah.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/manajamendakwah.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/manajamendakwah.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/manajamendakwah.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/manajamendakwah.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/manajamendakwah.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/manajamendakwah.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/manajamendakwah.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/manajamendakwah.wordpress.com/39/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=manajamendakwah.wordpress.com&amp;blog=4519951&amp;post=39&amp;subd=manajamendakwah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://manajamendakwah.wordpress.com/2008/09/10/sejarah-pemikiran-ekonomi-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3923ca157b0f4916fdb4846b3799332c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">manajamendakwah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sejarah Koperasi</title>
		<link>http://manajamendakwah.wordpress.com/2008/09/09/sejarah-koperasi/</link>
		<comments>http://manajamendakwah.wordpress.com/2008/09/09/sejarah-koperasi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Sep 2008 13:03:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>manajamendakwah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Koperasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://manajamendakwah.wordpress.com/?p=35</guid>
		<description><![CDATA[Sejarah Koperasi Koperasi adalah institusi (lembaga) yang tumbuh atas dasar solidaritas tradisional dan kerjasama antar individu, yang pernah berkembang sejak awal sejarah manusia sampai pada awal “Revolusi Industri” di Eropa pada akhir abad 18 dan selama abad 19, sering disebut sebagai Koperasi Historis atau Koperasi Pra-Industri. Koperasi Modern didirikan pada akhir abad 18, terutama sebagai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=manajamendakwah.wordpress.com&amp;blog=4519951&amp;post=35&amp;subd=manajamendakwah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>S</strong><strong>ejarah Koperasi</strong></p>
<p>Koperasi adalah institusi (lembaga) yang tumbuh atas dasar solidaritas tradisional dan kerjasama antar individu, yang pernah berkembang sejak awal sejarah manusia sampai pada awal “Revolusi Industri” di Eropa pada akhir abad 18 dan selama abad 19, sering disebut sebagai Koperasi Historis atau Koperasi Pra-Industri. Koperasi Modern didirikan pada akhir abad 18, terutama sebagai jawaban atas masalah-masalah sosial yang timbul selama tahap awal Revolusi Industri.<span id="more-35"></span></p>
<p>Koperasi merupakan salah satu lembaga ekonomi yang menurut Drs. Muhammad Hatta (Bapak Koperasi Indonesia) adalah lembaga ekonomi yang paling cocok jika diterapkan di Indonesia. Hal ini dikarenakan sifat masyarakat Indonesia yang tinggi kolektifitasannya dan kekeluargaan.Tapi sayangnya lembaga ekonomi ini malah tidak berkembang dengan pesat di negara Republik Indonesia ini. Kapitalisme berkembang dengan pesat dan merusak sendi-sendi kepribadian bangsa tanpa berusaha untuk memperbaikinya. Sehingga jurang kesenjangan sosial semakin lebar dan tak teratasi lagi.</p>
<p>Gerakan koperasi digagas oleh Robert Owen (1771–1858), yang menerapkannya pertama kali pada usaha pemintalan kapas di New Lanark, Skotlandia.<br />
Gerakan koperasi ini dikembangkan lebih lanjut oleh William King (1786–1865) – dengan mendirikan toko koperasi di Brighton, Inggris. Pada 1 Mei 1828, King menerbitkan publikasi bulanan yang bernama The Cooperator, yang berisi berbagai gagasan dan saran-saran praktis tentang mengelola toko dengan menggunakan prinsip koperasi.<br />
Koperasi akhirnya berkembang di negara-negara lainnya. Di Jerman, juga berdiri koperasi yang menggunakan prinsip-prinsip yang sama dengan koperasi buatan Inggris. Koperasi-koperasi di Inggris didirikan oleh Charles Foirer, Raffeinsen, dan Schulze Delitch. Di Perancis, Louis Blanc mendirikan koperasi produksi yang mengutamakan kualitas barang.</p>
<p>Koperasi diperkenalkan di Indonesia oleh R. Aria Wiriatmadja di Purwokerto, Jawa Tengah pada tahun 1896. Dia mendirikan koperasi kredit dengan tujuan membantu rakyatnya yang terjerat hutang dengan rentenir.<br />
Koperasi tersebut lalu berkembang pesat dan akhirnya ditiru oleh Boedi Oetomo dan SDI.</p>
<p>Belanda yang khawatir koperasi akan dijadikan tempat pusat perlawanan, mengeluarkan UU no. 431 tahun 19 yang isinya yaitu :<br />
- Harus membayar minimal 50 gulden untuk mendirikan koperasi<br />
- Sistem usaha harus menyerupai sistem di Eropa<br />
- Harus mendapat persetujuan dari Gubernur Jendral<br />
- Proposal pengajuan harus berbahasa Belanda</p>
<p>Hal ini menyebabkan koperasi yang ada saat itu berjatuhan karena tidak mendapatkan izin Koperasi dari Belanda. Namun setelah para tokoh Indonesia mengajukan protes, Belanda akhirnya mengeluarkan UU no. 91 pada tahun 1927, yang isinya lebih ringan dari UU no. 431 seperti :<br />
- Hanya membayar 3 gulden untuk materai<br />
- Bisa menggunakan bahasa derah<br />
- Hukum dagang sesuai daerah masing-masing<br />
- Perizinan bisa di daerah setempat</p>
<p>Koperasi menjamur kembali hingga pada tahun 1933 keluar UU yang mirip UU no. 431 sehingga mematikan usaha koperasi untuk yang kedua kalinya.<br />
Pada tahun 1942 Jepang menduduki Indonesia. Jepang lalu mendirikan koperasi kumiyai. Awalnya koperasi ini berjalan mulus. Namun fungsinya berubah drastis dan menjadi alat jepang untuk mengeruk keuntungan, dan menyengsarakan rakyat.</p>
<p>Setelah Indonesia merdeka, pada tanggal 12 Juli 1947, pergerakan koperasi di Indonesia mengadakan Kongres Koperasi yang pertama di Tasikmalaya. Hari ini kemudian ditetapkan sebagai Hari Koperasi Indonesia.</p>
<p>AWAL PERTUMBUHAN KOPERASI INDONESIA<br />
Pertumbuhan koperasi di Indonesia dimulai sejak tahun 1896 (Ahmed<br />
1964, h. 57) yang selanjutnya berkembang dari waktu ke waktu sampai<br />
sekarang. Perkembangan koperasi di Indonesia mengalami pasang naik<br />
dan turun dengan titik berat lingkup kegiatan usaha secara menyeluruh yang<br />
berbeda-beda dari waktu ke waktu sesuai dengan iklim lingkungannya.<br />
Jikalau pertumbuhan koperasi yang pertama di Indonesia menekankan pada<br />
kegiatan simpan-pinjam (Soedjono 1983, h.7) maka selanjutnya tumbuh pula<br />
koperasi yang menekankan pada kegiatan penyediaan barang-barang<br />
konsumsi dan dan kemudian koperasi yang menekankan pada kegiatan<br />
penyediaan barang-barang untuk keperluan produksi. Perkembangan<br />
koperasi dari berbagai jenis kegiatan usaha tersebut selanjutnya ada<br />
kecenderungan menuju kepada suatu bentuk koperasi yang memiliki<br />
beberapa jenis kegiatan usaha. Koperasi serba usaha ini mengambil<br />
langkah-langkah kegiatan usaha yang paling mudah mereka kerjakan terlebih<br />
dulu, seperti kegiatan penyediaan barang-barang keperluan produksi<br />
bersama-sama dengan kegiatan simpan-pinjam ataupun kegiatan<br />
penyediaan barang-barang keperluan konsumsi bersama-sama dengan<br />
kegiatan simpan-pinjam dan sebagainya (Masngudi 1989, h. 1-2).<br />
Pertumbuhan koperasi di Indonesia dipelopori oleh R. Aria Wiriatmadja patih<br />
di Purwokerto (1896), mendirikan koperasi yang bergerak dibidang simpanpinjam.<br />
Untuk memodali koperasi simpan- pinjam tersebut di samping<br />
banyak menggunakan uangnya sendiri, beliau juga menggunakan kas mesjid<br />
yang dipegangnya (Djojohadikoesoemo, 1940, h 9). Setelah beliau<br />
mengetahui bahwa hal tersebut tidak boleh, maka uang kas mesjid telah<br />
dikembalikan secara utuh pada posisi yang sebenarnya.<br />
Kegiatan R Aria Wiriatmadja dikembangkan lebih lanjut oleh De Wolf<br />
Van Westerrode asisten Residen Wilayah Purwokerto di Banyumas. Ketika<br />
ia cuti ke Eropa dipelajarinya cara kerja wolksbank secara Raiffeisen<br />
(koperasi simpan-pinjam untuk kaum tani) dan Schulze-Delitzsch (koperasi<br />
simpan-pinjam untuk kaum buruh di kota) di Jerman. Setelah ia kembali dari<br />
cuti melailah ia mengembangkan koperasi simpan-pinjam sebagaimana telah<br />
dirintis oleh R. Aria Wiriatmadja . Dalam hubungan ini kegiatan simpanpinjam<br />
yang dapat berkembang ialah model koperasi simpan-pinjam lumbung<br />
dan modal untuk itu diambil dari zakat.<br />
Selanjutnya Boedi Oetomo yang didirikan pada tahun 1908<br />
menganjurkan berdirinya koperasi untuk keperluan rumah tangga. Demikian<br />
pula Sarikat Islam yang didirikan tahun 1911 juga mengembangkan koperasi<br />
yang bergerak di bidang keperluan sehari-hari dengan cara membuka tokotoko<br />
koperasi. Perkembangan yang pesat dibidang perkoperasian di<br />
Indonesia yang menyatu dengan kekuatan social dan politik menimbulkan<br />
kecurigaan Pemerintah Hindia Belanda. Oleh karenanya Pemerintah Hindia<br />
Belanda ingin mengaturnya tetapi dalam kenyataan lebih cenderung menjadi<br />
suatu penghalang atau penghambat perkembangan koperasi. Dalam<br />
hubungan ini pada tahun 1915 diterbitkan Ketetapan Raja no. 431 yang berisi<br />
antara lain :<br />
a. Akte pendirian koperasi dibuat secara notariil;<br />
b. Akte pendirian harus dibuat dalam Bahasa Belanda;<br />
c. Harus mendapat ijin dari Gubernur Jenderal;<br />
dan di samping itu diperlukan biaya meterai 50 gulden.</p>
<p>Pada akhir Rajab 1336H atau 1918 K.H. Hasyim Asy’ari Tebuireng<br />
Jombang mendirikan koperasi yang dinamakan “Syirkatul Inan” atau disingkat<br />
(SKN) yang beranggotakan 45 orang. Ketua dan sekaligus sebagai manager<br />
adalah K.H. Hasyim Asy ‘ari. Sekretaris I dan II adalah K.H. Bishri dan Haji<br />
Manshur. Sedangkan bendahara Syeikh Abdul WAhab Tambakberas di<br />
mana branndkas dilengkapi dengan 5 macam kunci yang dipegang oleh 5<br />
anggota. Mereka bertekad, dengan kelahiran koperasi ini unntuk dijadikan<br />
periode “nahdlatuttijar” . Proses permohonan badan hukum direncanakan<br />
akan diajukan setelah antara 2 sampai dengan 3 tahun berdiri.<br />
Berbagai ketentuan dan persyaratan sebagaimana dalam ketetapan<br />
Raja no 431/1915 tersebut dirasakan sangat memberatkan persyaratan<br />
berdiriya koperasi. Dengan demikian praktis peraturan tersebut dapat<br />
dipandang sebagai suatu penghalang bagi pertumbuhan koperasi di<br />
Indonesia, yang mengundang berbagai reaksi. Oleh karenanya maka pada<br />
tahun 1920 dibentuk suatu ‘Komisi Koperasi’ yang dipimpin oleh DR. J.H.<br />
Boeke yang diberi tugas neneliti sampai sejauh mana keperluan penduduk<br />
Bumi Putera untuk berkoperasi.<br />
Hasil dari penelitian menyatakan tentang perlunya penduduk Bumi<br />
putera berkoperasi dan untuk mendorong keperluan rakyat yang<br />
bersangkutan. Selanjutnya didirikanlah Bank Rakyat ( Volkscredit Wezen ).<br />
Berkaitan dengan masalah Peraturan Perkoperasian, maka pada tahun 1927<br />
di Surabaya didirikan “Indonsische Studieclub” Oleh dokter Soetomo yang<br />
juga pendiri Boedi Oetomo, dan melalui organisasi tersebut beliau<br />
menganjurkan berdirinya koperasi. Kegiatan serupa juga dilakukan oleh<br />
Partai Nasional Indonesia di bawah pimpimnan Ir. Soekarno, di mana pada<br />
tahun 1929 menyelenggarakan kongres koperasi di Betawi. Keputusan<br />
kongres koperasi tersebt menyatakan bahwa untuk meningkatkan<br />
kemakmuran penduduk Bumi Putera harus didirikan berbagai macam<br />
koperasi di seluruh Pulau Jawa khususnya dan di Indonesia pada umumnya.<br />
Untuk menggiatkan pertumbuhan koperasi, pada akhir tahun 1930<br />
didirikan Jawatan Koperasi dengan tugas:<br />
a. memberikan penerangan kepada pengusaha-pengusaha Indonesia<br />
mengenai seluk beluk perdagangan;<br />
b. dalam rangka peraturan koerasi No 91, melakukan pengawasan dan<br />
pemeriksaan terhadap koperasi-koperasi, serta memberikan<br />
penerangannya;<br />
c. memberikan keterangan-keterangan tentang perdagangan<br />
pengangkutan, cara-cara perkreditan dan hal ihwal lainnya yang<br />
menyangkut perusahaan-perusahaan;<br />
d. penerangan tentang organisasi perusahaan;<br />
e. menyiapkan tindakan-tindakan hukum bagi pengusaha Indonesia<br />
( Raka.1981,h.42)<br />
DR. J.H. Boeke yang dulunya memimpin “Komisi Koperasi” 1920<br />
ditunjuk sebagai Kepala Jawatan Koperasi yang pertama.</p>
<p>Selanjutnya pada tahun 1933 diterbitkan Peraturan Perkoperasian<br />
dalam berntuk Gouvernmentsbesluit no.21 yang termuat di dalam Staatsblad<br />
no. 108/1933 yang menggantikan Koninklijke Besluit no. 431 tahun 1915.<br />
Peraturan Perkoperasian 1933 ini diperuntukkan bagi orang-orang Eropa dan<br />
golongan Timur Asing. Dengan demikian di Indonesia pada waktu itu<br />
berlaku 2 Peraturan Perkopersian, yakni Peraturan Perkoperasian tahun<br />
1927 yang diperuntukan bagi golongan Bumi Putera dan Peraturan<br />
Perkoperasian tahun 1933 yang berlaku bagi golongan Eropa dan Timur<br />
Asing.<br />
Kongres Muhamadiyah pada tahun 1935 dan 1938 memutuskan<br />
tekadnya untuk mengembangkan koperasi di seluruh wilayah Indonesia,<br />
terutama di lingkungan warganya. Diharapkan para warga Muhammadiyah<br />
dapat memelopori dan bersama-sama anggota masyarakat yang lain untuk<br />
mendirikan dan mengembangkan koperasi. Berbagai koperasi dibidang<br />
produksi mulai tumbuh dan berkembang antara lain koperasi batik yang<br />
diperlopori oleh H. Zarkasi, H. Samanhudi dan K.H. Idris.<br />
Perkembangan koperasi semenjak berdirinya Jawatan Koperasi tahun<br />
1930 menunjukkan suatu tingkat perkembangan yang terus meningkat.<br />
Jikalau pada tahun 1930 jumlah koperasi 39 buah, maka pada tahun 1939<br />
jumlahnya menjadi 574 buah dengan jumlah anggota pada tahun 1930<br />
sebanyak 7.848 orang kemudian berkembang menjadi 52.555 orang.<br />
Sedang kegiatannya dari 574 koperasi tersebut diantaranya 423 kopersi<br />
(=77%) adalah koperasi yang bergerak dibidang simpan-pinjam<br />
(Djojohadikoesoemo,1940 h.82) sedangkan selebihnya adalah kopersi jenis<br />
konsumsi ataupun produksi. Dari 423 koperasi simpan-pinjam tersebut<br />
diantaranya 19 buah adalah koperasi lumbung.<br />
Pada masa pendudukan bala tentara Jepang istilah koperasi lebih<br />
dikenal menjadi istilah “Kumiai”. Pemerintahan bala tentara Jepang di di<br />
Indonesia menetapkan bahwa semua Badan-badan Pemerintahan dan<br />
kekuasaan hukum serta Undang-undang dari Pemerintah yang terdahulu<br />
tetap diakui sementara waktu, asal saja tidak bertentangandengan Peraturan<br />
Pemerintah Militer. Berdasarkan atas ketentuan tersebut, maka Peraturan<br />
Perkoperasian tahun 1927 masih tetap berlaku. Akan tetapi berdasarkan<br />
Undang-undang No. 23 dari Pemerintahan bala tentara Jepang di Indonesia<br />
mengatur tentang pendirian perkumpulan dan penmyelenggaraan<br />
persidangan. Sebagai akibat daripada peraturan tersebut , maka jikalau<br />
masyarakat ingin mendirikan suatu perkumpulan koperasi harus mendapat izin<br />
Residen (Shuchokan) dengan menjelaskan syarat-syarat sebagai berikut :<br />
a. Maksud perkumpulan atau persidangan, baik sifat maupun aturan-aturannya<br />
b. Tempat dan tanggal perkumpulan didirikan atau persidangan<br />
diadakan<br />
c. Nama orang yang bertangguing jawab, kepengurusan dan anggota-anggotanya<br />
d. Sumpah bahwa perkumpulan atau persidangan yang bersangkutan<br />
itu sekali-kali bukan pergerakan politik.</p>
<p>Dengan berlakunya Undang-undang ini, maka di beberapa daerah<br />
banyak koperasi lama yang harus menghentikan usahanya dan tidak boleh<br />
bekerja lagi sebelum mendapat izin baru dari”Scuchokan”. Undang-undang<br />
ini pada hakekatnya bermaksud mengawasi perkumpulan-perkumpulan dari<br />
segi kepolisian (Team UGM 1984, h. 139 – 140).<br />
Perkembangan Pemerintahan pendudukan bala tentara Jepang<br />
dikarenakan masalah ekonomi yang semakin sulit memerlukan peran<br />
“Kumiai” (koperasi). Pemerintah pada waktu itu melalui kebijaksanaan dari<br />
atas menganjurkan berdirinya “Kumiai” di desa-desa yang tujuannya untuk<br />
melakukan kegiatan distribusi barang yang jumlahnya semakin hari semakin<br />
kurang karena situasi perang dan tekanan ekonomi Internasional (misalnya<br />
gula pasir, minyak tanah, beras, rokok dan sebagainya). Di lain pihak<br />
Pemerintah pendudukan bala tentara Jepang memerlukan barang-barang<br />
yang dinilai penting untuk dikirim ke Jepang (misalnya biji jarak, hasil-hasil<br />
bumi yang lain, besi tua dan sebagainya) yang untuk itu masyarakat agar<br />
menyetorkannya melalui “Kumiai”. Kumiai (koperasi) dijadikan alat<br />
kebijaksanaan dari Pemerintah bala tentara Jepang sejalan dengan<br />
kepentingannya. Peranan koperasi sebagaimana dilaksanakan pada zaman<br />
Pemerintahan pendudukan bala tentara Jepang tersebut sangat merugikan<br />
bagi para anggota dan masyarakat pada umumnya.</p>
<p>PERTUMBUHAN KOPERASI SETELAH KEMERDEKAAN<br />
Gerakan koperasi di Indonesia yang lahir pada akhir abad 19 dalam<br />
suasana sebagai Negara jajahan tidak memiliki suatu iklim yang<br />
menguntungkan bagi pertumbuhannya. Baru kemudian setelah Indonesia<br />
memproklamasikan kemerdekaannya, dengan tegas perkoperasian ditulis di<br />
dalam UUD 1945. DR. H. Moh Hatta sebagai salah seorang “Founding<br />
Father” Republik Indonesia, berusaha memasukkan rumusan perkoperasian<br />
di dalam “konstitusi”. Sejak kemerdekaan itu pula koperasi di Indonesia<br />
mengalami suatu perkembangan yang lebih baik. Pasal 33 UUD 1945 ayat 1<br />
beserta penjelasannya menyatakan bahwa perekonomian disusun sebagai<br />
usaha bersama berdasarkan azas kekeluargaan. Dalam penjelasannya<br />
disebutkan bahwa bangun perekonomian yang sesuai dengan azas<br />
kekeluargaan tersebut adalah koperasi. Di dalam pasal 33 UUd 1945 tersebut<br />
diatur pula di samping koperasi, juga peranan daripada Badan Usaha Milik<br />
Negara dan Badan Usaha Milik Swasta.<br />
Pada akhir 1946, Jawatan Koperasi mengadakan pendaftaran<br />
koperasi dan tercatat sebanyak 2500 buah koperasi di seluruh Indonesia.<br />
Pemerintah Republik Indonesia bertindak aktif dalam pengembangan<br />
perkoperasian. Disamping menganjurkan berdirinya berbagai jenis koperasi<br />
Pemerintah RI berusaha memperluas dan menyebarkan pengetahuantentang<br />
koperasi dengan jalan mengadakan kursus-kursus koperasi di berbagai<br />
tempat.<br />
Pada tanggal 12 Juli 1947 diselenggarakan kongres koperasi se Jawa<br />
yang pertama di Tasikmalaya. Dalam kongres tersebut diputuskan antara lain<br />
terbentuknya Sentral Organisasi Koperasi Rakyat Indonesia yang disingkat<br />
SOKRI; menjadikan tanggal 12 Juli sebagai Hari Koperasi serta<br />
menganjurkan diselenggarakan pendidikan koperasi di kalangan pengurus,<br />
pegawai dan masyarakat. Selanjutnya, koperasi pertumbuhannya semakin<br />
pesat. Tetapi dengan terjadinya agresi I dan agresi II dari pihak Belanda<br />
terhadap Republik Indonesia serta pemberontakan PKI di Madiunpada tahun<br />
1948 banyak merugikan terhadap gerakan koperasi.<br />
Pada tahun 1949 diterbitkan Peraturan Perkoperasian yang dimuat di<br />
dalam Staatsblad No. 179. Peraturan ini dikeluarkan pada waktu Pemerintah<br />
Federal Belanda menguasai sebagian wilayah Indonesia yang isinya hampir<br />
sama dengan Peraturan Koperasi yang dimuat di dalam Staatsblad No. 91<br />
tahun 1927, dimana ketentuan-ketentuannya sudah kurang sesuai dengan<br />
keadaan Inidonesia sehingga tidak memberikan dampak yang berarti bagi<br />
perkembangan koperasi.<br />
Setelah terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia tahun<br />
1950 program Pemerintah semakin nyata keinginannya untuk<br />
mengembangkan perkoperasian.Kabinet Mohammad Natsir menjelaskan di<br />
muka Dewan Perwakilan Rakyat yang berkaitan dengan program<br />
perekonomian antara lain sebagai berikut :<br />
“Menggiatkan pembangunan organisasi-organisasi<br />
rakyat , istimewa koperasi dengan cara pendidikan, penerangan, pemberian<br />
kredit yang lebih banyak dan lebih mudah, satu dan lain seimbang dengan<br />
kemampuan keuangan Negara”.<br />
Untuk memperbaiki perekonomian-perekonomian rakyat Kabinet<br />
Wilopo antara lain mengajukan suatu “program koperasi” yang terdiri dari tiga<br />
bagian, yaitu :<br />
a. Usaha untuk menciptakan suasana dan keadaan sebaik-baiknya bagi<br />
perkembangan gerakan koperasi;<br />
b. Usaha lanjutan dari perkembangan gerakan koperasi;<br />
c. Usaha yang mengurus perusahaan rakyat yang dapat diselenggarakan<br />
atas dasar koperasi.<br />
Selanjutnya Kabinet Ali Sastroamidjodjo menjelaskan program<br />
Pemerintahannya sebagai berikut :<br />
”Untuk kepentingan pembangunan dalam<br />
lapangan perekonomian rakyat perlu pula diperluas dan dipergiat gerakan<br />
koperasi yang harus disesuaikan dengan semangat gotong royong yang<br />
spesifik di Indonesia dan besar artinya dalam usaha menggerakkan rasa<br />
percaya pada diri sendiri di kalangan rakyat. Di samping itu Pemerintah<br />
hendak menyokong usaha itu dengan memperbaiki dan memperlluas<br />
perkreditan, yang terpenting antara lain dengan pemberian modal kepada<br />
badan-badan perkreditan desa seperti Lumbung dan Bank Desa, yang<br />
sedapat-dapatnya disusun dalam bentuk koperasi” (Sumodiwirjo 1954, h. 45-<br />
46).<br />
Sejalan dengan kebijaksanaan Pemerintah sebagaimana tersebut di<br />
atas, koperasi makin berkembang dari tahun ketahun baik organisasi maupun<br />
usahanya.<br />
Selanjutnya pada tanggal 15 sampai dengan 17 Juli 1953<br />
dilangsungkan kongres koperasi Indonesia yang ke II di Bandung.<br />
Keputusannya antara lain merubah Sentral Organisasi Koperasi Rakyat<br />
Indonesia (SOKRI) menjadi Dewan Koperasi Indonesia (DKI). Di samping itu<br />
mewajibkan DKI membentuk Lembaga Pendidikan Koperasi dan mendirikan<br />
Sekolah Menengah Koperasi di Provinsi-provinsi. Keputusan yang lain ialah<br />
penyampaian saran-saran kepada Pemerintah untuk segera diterbitkannya<br />
Undang-Undang Koperasi yang baru serta mengangkat Bung Hatta sebagai<br />
Bapak Koperasi Indonesia.<br />
Pada tahun 1956 tanggal 1 sampai 5 September diselenggarakan<br />
Kongres Koperasi yang ke III di Jakarta. Keputusan KOngres di samping halhal<br />
yang berkaitan dengan kehidupan perkoperasian di Indonesia, juga<br />
mengenai hubungan Dewan Koperasi Indonesia dengan International<br />
Cooperative Alliance (ICA).<br />
Pada tahun 1958 diterbitkan Undang-Undang tentang Perkumpulan<br />
Koperasi No. 79 Tahun 1958 yang dimuat di dalam Tambahan Lembar<br />
Negara RI No. 1669. Undang-Undang ini disusun dalam suasana Undang-<br />
Undang Dasar Sementara 1950 dan mulai berlaku pada tanggal 27 Oktober<br />
1958. Isinya lebih biak dan lebih lengkap jika dibandingkan dengan<br />
peraturan-peraturan koperasi sebelumnya dan merupakan Undang-Undang<br />
yang pertama tentang perkoperasian yang disusun oleh Bangsa Indonesia<br />
sendiri dalam suasana kemerdekaan.<br />
Perlu dipahami bersama perbedaan sikap Pemerintah terhadap<br />
pengembangan perkoperasian atas dasar perkembangan sejarah<br />
pertumbuhannya di Indonesia dapat diklasifikasikan sebagai berikut :<br />
a. Pemerintahan Kolonial Belanda bersikap pasif;<br />
b. Pemerintahan Pendudukan Balatentara Jepang bersikap aktif<br />
negatif, karena akibat kebijaksanaannya nama koperasi menjadi<br />
hancur (jelek);<br />
c. Bersikap aktif positif di mana Pemerintah Republik Indonesia<br />
memberikan dorongan kesempatan dan kemudahan bagi koperasi.<br />
Tabel berikut menunjukkan perkembangan koperasi pada saat-saat<br />
akhir Pemerintahan Kolonial Belanda dan angka perkembangan koperasi<br />
setelah Indonesia merdeka sampai dengan tahun 1959, dengan catatan<br />
angka-angka perkembangan koperasi pada zaman Pemerintahan<br />
Pendudukan Balatentara Jepang tidak tersedia.</p>
<p>PERKEMBANGAN KOPERASI DALAM SISTEM EKONOMI TERPIMPIN<br />
Dalam tahun 1959 terjadi suatu peristiwa yang sangat penting dalam<br />
sejarah bangsa Indonesia. Setelah Konstituante tidak dapat menyelesaikan<br />
tugas menyusun Undang-Undang Dasar Baru pada waktunya, maka pada<br />
tanggal 15 Juli 1959 Presiden Soekarno yang juga selaku PAnglima Tertinggi<br />
Angkatan Perang mengucapkan Dekrit Presiden yang memuat keputusan<br />
dan salahsatu daripadanya ialah menetapkan Undang-Undang Dasar 1945<br />
berlaku bagi segenap bangsa Indonesia dan seluruh Tanah Tumpah Darah<br />
Indonesia, terhitung mulai dari tanggal penetapan dekrit dan tidak berlakunya<br />
lagi Undang-Undang Dasar Sementara. Pada tanggal 17 Agustus 1959<br />
Presiden Soekarno mengucapkan pidato kenegaraan yang berjudul<br />
“Penemuan Kembali Revolusi Kita”, atau lebih dikenal dengan Manifesto<br />
politik (Manipol). Dalam pidato itu diuraikan berbagai persoalan pokok dan<br />
program umum Revolusi Indonesia yang bersifat menyeluruh. Berdasarkan<br />
Ketetapan MPRS No. 1/MPRS/1960 pidato itu ditetapkan sebagai Garis-garis<br />
Besar Haluan Negara RI dan pedoman resmi dalam perjuangan<br />
menyelesaikan revolusi. Dampak Dekrit Presiden dan Manipol terhadap<br />
Undang-Undang No. 79 Tahun 1958 tentang Perkumpulan Koperasi adalah<br />
undang-undang yang belum berumur panjang itu telah kehilangan dasar dan<br />
tidak sesuai lagi dengan jiwa dan semangat UUD 1945 dan Manipol.<br />
Karenanya untuk mengatasi keadaan itu maka di samping Undang-Undang<br />
No. 79 Tahun 1958 tentang Perkumpulan Koperasi dikeluarkan pula<br />
Peraturan Pemerintah No. 60 Tahun 1959 tentang Perkembangan Gerakan<br />
Koperasi (dimuat dalam Tambahan aLembaran Negara No. 1907).<br />
Peratuarn ini dibuat sebagai peraturan pelaksanaan dari Undang-<br />
Undang No. 79 Tahun 1958 tentang Perkumpulan Koperasi dan merupakan<br />
penyempurnaan dari hal-hal yang belum diatur dalam Undang-Undang<br />
tersebut. Peraturan itu membawa konsep pengembangan koperasi secara<br />
missal dan seragam dan dikeluarkan berdasarkan pertimbanganpertimbangan<br />
sebagai berikut :<br />
(1) Menyesuaikan fungsi koperasi dengan jiwa dan semangat UUD 1945<br />
dan Manipol RI tanggal 17 Agustus 1959, dimana koperasi diberi<br />
peranan sedemikian rupa sehingga kegiatan dan penyelenggaraannya<br />
benar-benar dapat merupakan alat untuk melaksanakan ekonomi<br />
terpimpin berdasarkan sosialisme ala Indonesia, sendi kehidupan<br />
ekonomi bangsa Indonesia dan dasar untuk mengatur perekonomian<br />
rakyat guna mencapai taraf hidup yang layak dalam susunan<br />
masyarakat adil dan makmur yang demokratis;<br />
(2) Bahwa pemerintah wajib mengambil sikap yang aktif dalam membina<br />
Gerakan Koperasi berdasarkan azas-azas demokrasi terpimpin, yaitu<br />
menumbuhkan, mendorong, membimbing, melindungi dan mengawasi<br />
perkembangan Gerakan Koperasi, dan;<br />
(3) Bahwa dengan menyerahkan penyelenggaraan koperasi kepada<br />
inisiatif Gerakan Koperasi sendiri dalam taraf sekarang bukan saja<br />
tidakk mencapai tujuan untuk membendung arus kapitalisme dan<br />
liberalism, tetapi juga tidak menjamin bentuk organisasi dan cara<br />
bekerja yang sehat sesuai dengan azas-azas koperasi yang<br />
sebenarnya (Sularso 1988, h. VI-VII).<br />
Dalam tahun 1960 Pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah<br />
No. 140 tentang penyaluran bahan pokok dan penugasan Koperasi untuk<br />
melaksanakannya. Dengan peraturan ini maka mulai ditumbuhkan koperasikoperasi<br />
konsumsi. Penumbuhan koperasi oleh Pemerintah secara missal<br />
dan seragam tanpa memperhatikan syarat-syarat pertumbuhannya yang<br />
sehat, telah mengakibatkan pertumbuhan koperasi yang kurang sehat. Lebih<br />
jauh dari itu Ketetapan MPRS No.II/MPRS/1960 menetapkan bahwa sector<br />
perekonomian akan diatur dengan dua sektor yakni sector Negara dan sector<br />
koperasi, dimana sector swasta hanya ditugaskan untuk membantu. Pada<br />
saat mulai dikemukakan ide pengaturan ekonomi dengan prinsip Demokrasi<br />
dan Ekoomi Terpimpin. Undang-undang No. 79 tahun 1958 tentang<br />
Perkembangan Gerakan Koperasi. Peraturan ini membawa konsep<br />
pengembangan koperasi secara massal dan seragam.<br />
Pada tahun 1961 diselenggarakan Musyawarah Nasional KOperasi I<br />
(Munaskop I) di Surabaya untuk melaksanakan prinsip Demokrasi Terpimpin<br />
dan Ekonomi Terpimpin. Langkah-langkah mempolitikankan (verpolitisering)<br />
koperasi mulai nampak. Dewan Koperasi Indonesia diganti dengan Kesatuan<br />
Organisasi KOperasi Seluruh Indonesia (KOKSI) yang bukan semata-mata<br />
organisasi koperasi sendiri malainkan organisasi koperasi-koperasi yang<br />
dipimpin oleh Pemerintah, dimasa Menteri Transmigrasi, Koperasi dan<br />
Pembangunan Masyarakat Desa (Trasnkopenda) menjadi Ketuanya (Team<br />
UGM, 1984, h.143-144).<br />
Sebagai puncak pengukuhan hokum dari uapaya mempolitikkan<br />
(verpolitisering) koperasi dalam suasana demokrasi terpimpin yakni di<br />
terbitkannya UU No.14 tahun 1965 tentang perkoperasian yang dimuat<br />
didalam Lembaran Negara No. 75 tahun 1960. Salah satu pasal yang<br />
terpenting adalah pasal 5 yang berbunyi :<br />
“Koperasi, struktur, aktivitas dan alat pembinaan serta alat<br />
perlengkapan organisasi koperasi, mencerminkan kegotong-royongan<br />
progresif revolusioner berporoskan Nasakom (Nasional, Agama, Komunis)”.<br />
Dalam memori penjelasannya dinyatakan sebagai berikut :<br />
“Sesuai dengan penjelasan umum perkoperasian (pola koperasi) tidak<br />
dapat dipisahkan dari masalah Revolusi pada umumnya (doktrin Revolusi),<br />
sehingga tantangan-tantangan dari gerakan koperasi hakekatnya merupakan<br />
tantangan daripada Revolusi itu sendiri”<br />
Pengalaman-pengalaman perjuangan kita dalam menghadapi<br />
tantangan-tantangan tersebut, menunjukkan keharusan obyektif adanya<br />
persatuan dan kesatuan segenap potensi dan kekuatan rakyat yang progresif<br />
Revolusioner berporos Nasakom, yang pelaksanaannya diatur dengan<br />
kegotong-royongan antara Pemerintah dengan kekuatan-kekuatan Nsakom.<br />
Selanjutnya peranan gerakan koperasi dalam demokrasi terpimpin dan<br />
ekonomi terpimpin diatur didalam pasal 6 dan pasal 7. Pasal 6 berbunyi<br />
sebagai berikut : “ Gerakan Koperasi mempunyai peranan :<br />
a) Dalam tahap nasional demokrasis :<br />
1. Mempersatukan dan memobilisir seluruh rakyat pekerja dan produsen<br />
kecil yang merupakan tenaga-tenaga produktif untuk meningkatkan<br />
produksi, mengadilkan dan meratakan distribusi;<br />
2. Ikut serta menghapus sisa-sisa imperalisme, kolonialisme dan<br />
feodalisme;<br />
3. Membantu memperkuat sector ekonomi Negara yang memegang<br />
posisi memimpin;<br />
4. Menciptakan syarat-syarat bagi pembangunan masyarakat sosialis<br />
Indonesia.<br />
b) Dalam Tahap sosialisme Indonesia :<br />
1. Menyelenggarakan tata ekonomi tanpa adanya penghisapan oleh<br />
manusia atas manusia;<br />
2. Meningkatkan tingkat hidup rakyat jasmaniah dan rokhaniah;<br />
3. Membina dan mengembangkan swadaya dan daya kreatif rakyat<br />
sebagai perwujudan masyarakat gotong-royong.”<br />
Pasal 7 menyatakan sebagai berikut :<br />
1. “Pemerintah menetapkan kebijaksanaan pokok perkoperasian.<br />
2. Dengan Peraturan Pemerintah diatur hubungan antara gerakan koperasi<br />
dengan Pemerintah, Perusahaan Negara/Perusahaan Daerah dan swasta<br />
bukan koperasi”. Memori penjelasannya menyatakan : “Untuk menjamin<br />
azas Demokrasi Terpimpin dan Ekonomi Terpimpin kebijaksanaan<br />
perkoperasian ditetapkan oleh Pemerintah”.<br />
Bersamaan dengan disyahkannya UU No. 14 tahuhn 1965<br />
dilangsungkan Musyawarah Nasional KOperasi (Munaskop) II di Jakarta yang<br />
pada dasarnya merupakan ajang legitiminasi terhadap masuknya kekuatankekuatan<br />
politik di dalam koperasi sebagaimana diatur oleh UU<br />
Perkoperasian tersebut. Dalam kesempatan tersebut, juga diputuskan bahwa<br />
KOKSI (Kesatuan Organisasi Koperasi Seluruh Indonesia) Menyatakan<br />
keluar dari keanggotaan ICA.<br />
Tindakan berselang lama yakni dalam bulan September 1965 terjadi<br />
pemberontakan Gerakan 30 September yang didalangi oleh Partai Komunis<br />
Indonesia (PKI) yang terpengaruh besar terhadap pengembangan koperasi.<br />
Mengingat dalam UU no. 14 tahun 1965 secara tegas memasukan warna<br />
politik di dalam kehidupan perkoperasian, maka akibat pemberontakan<br />
G30S/PKI pelaksanaanya perlu di pertimbangkan kembali. Bahkan segera<br />
disusul langkah-langkah memurnikan kembali kekoprasi kepada azas-azas<br />
yang murni dengan cara “ deverpolitisering “. Koperasi-koperasi<br />
menyelenggarakan rapat anggota untuk memperbaharui kepengurusan dan<br />
Badan Pemeriksaannya. Reorganisasi dilaksanakan secara menyeluruh<br />
untuk memurnikan koperasi di atas azas-azas koperasi yang sebenarnya<br />
(murni).</p>
<p>PERKEMBANGAN KOPERASI PADA MASA ORDE BARU<br />
Pemberontakan G30S/PKI merupakan malapetaka besar bagi rakyat<br />
dan bangsa Indonesia. Demikian pula hal tersebut didalami oleh gerakan<br />
koperasi di Indonesia. Oleh karena itu dengan kebulatan tekad rakyat dan<br />
bangsa Indonesia untuk kembali dan melaksanakan UUD-1945 dan<br />
Pancasila secara murni dan konsekwen, maka gerakan koperasi di Indonesia<br />
tidak terkecuali untuk melaksanakannya. Semangat Orde Baru yang dimulai<br />
titik awalnya 11 Maret 1996 segera setelah itu pada tanggal 18 Desember<br />
1967 telah dilahirkan Undang-Undang Koperasi yang baru yakni dikenal<br />
dengan UU No. 12/1967 tentang Pokok-pokok Perkopersian.<br />
Konsideran UU No. 12/1967 tersebut adalah sebagai berikut ;<br />
1. Bahwa Undang-Undang No. 14 Tahun 1965 tentang Perkoperasian<br />
mengandung pikiran-pikiran yang nyata-nyata hendak :<br />
a. menempatkan fungsi dan peranan koperasi sebagai abdi langsung<br />
daripada politik. Sehingga mengabaikan koperasi sebagai wadah<br />
perjuangan ekonomi rakyat.<br />
b. menyelewengkan landasan-landasan, azas-azas dan sendi-sendi<br />
dasar koperasi dari kemrniannya.<br />
2. a. Bahwa berhubung dengan itu perlu dibentuk Undang-Undang baru yang<br />
sesuai dengan semangat dan jiwa Orde Baru sebagaimana dituangkan<br />
dalam Ketepatan-ketepatan MPRS Sidang ke IV dan Sidang Istimewa<br />
untuk memungkinkan bagi koperasi mendapatkan kedudukan hokum<br />
dan tempat yang semestinya sebagai wadah organisasi perjuangan<br />
ekonomi rakyat yang berwatak sosial dan sebagai alat<br />
pendemokrasian ekonomi nasional.<br />
b. Bahwa koperasi bersama-sama dengan sector ekonomi Negara dan<br />
swasta bergerak di segala sektor ekonomi Negara dan swasta<br />
bergerak di segala kegiatan dan kehidupan ekonomi bangsa dalam<br />
rangka memampukan dirinya bagi usaha-usaha untuk mewujudkan<br />
masyarakat Sosialisme Indonesia berdasarkan Panvcasila yang adil<br />
dan makmur di ridhoi Tuhan Yang Maha Esa.<br />
3. Bahwa berhubungan dengan itu, maka Undang-Undang No. 14 tahun<br />
1965 perlu dicabut dan perlu mencerminkan jiwa, serta cita-cita yang<br />
terkandung dalam jelas menyatakan, bahwa perekonomian Indonesia<br />
disusun sebagai usaha bersama berdasarkan atas azas kekeluargaan<br />
dan koperasi adalah satu bangunan usaha yang sesuai dengan susunan<br />
perekonomian yang dimaksud itu. Berdasarkan pada ketentuan itu dan<br />
untuk mencapai cita-cita tersebut Pemerintah mempunyai kewajiban<br />
membimbing dan membina perkoperasian Indonesia dengan sikap “ ing<br />
ngarsa sung tulada, ing madya mbangun karsa, tut wuri handayani “.<br />
Dalam rangka kembali kepada kemurnian pelaksanaan Undang-<br />
Undang Dasar 1954, sesuai pula dengan Ketetapan MPRS No.<br />
XXIII/MPRS/1966 tentang Pembaharuan Kebijaksanaan Landasan Ekonomi,<br />
Keuangan dan Pembangunan, maka peninjauan serta perombakan Undang-<br />
Undang No. 14 tahun 1965 tentang Perkoperasian merupakan suatu<br />
keharusan karena baik isi maupun jiwanya Undang-Undang tersebut<br />
mengandung hal-hal yang bertentangan dengan azas-azas pokok, landasan<br />
kerja serta landasan idiil koperasi, sehingga akan menghambat kehidupan<br />
dan perkembangan serta mengaburkan hakekat koperasi sebagai organisasi<br />
ekonomi rakyat yang demokratis dan berwatak social.<br />
Peranan Pemerintah yang terlalu jauh dalam mengatur masalah<br />
perkoperasian Indonesia sebagaimana telah tercermin di masa yang lampau<br />
pada hakekatnya tidak bersifat melindungi, bahkan sangat membatasi gerak<br />
serta pelaksanaan strategi dasar perekonomian yang tidak sesuai dengan<br />
jiwa dan makna Undang-Undang Dasar 1945 pasal 33. Hal yang demikian itu<br />
akan menghambat langkah serta keswakertaan yang sesungguhnya<br />
merupakan unsur pokok dari azas-azas percaya pada diri sendiri yang pada<br />
gilirannya akan dapat merugikan masyarakat sendiri.<br />
Oleh karenanya sesuai dengan Ketetapan MPRS No. XIX/MPRS/1966<br />
dianggap perlu untuk mencabut dan mengganti Undang-Undang No. 14<br />
tahun 1965 tentang Perkoprasian tersebut dengan Undang-Undang baru<br />
yang benar-benar dapat menempatkan koperasi pada fungsi yang<br />
semestinya yakni sebagai alat dari Undang-Undang Dasar 1945 pasal 33<br />
ayat (1)<br />
Di bidang idiil, koperasi Indonesia merupakan satu-satunya wadah<br />
untuk menyusun perekonomian rakyat berazaskan kekeluargaan dan<br />
kegotong-royongan yang merupakan cirri khas dari tata kehidupan bangsa<br />
Indonesia dengan tidak memandang golongan, aliran maupun kepercayaan<br />
yang dianut seseorang. Kiperasi sebagai alat pendemokrasian ekonomi<br />
nasional dilaksanakan dalan rangka dalam rangka politik maupun perjuangan<br />
bangsa Indonesia.<br />
Di bidang organisasi koperasi Indonesia menjamin adanya hak-hak<br />
individu serta memegamg teguh azas-azas demokrasi. Rapat Anggota<br />
merupakan kekuasaan tertinggi di dalam tata kehidupan koperasi,<br />
Koperasi mendasarkan geraknya pada aktivitas ekonomi dengan tidak<br />
meninggalkan azasnya yakni kekeluargaan dan gotong-royong.<br />
Dengan berpedoman kepada Ketetapan MPRS No. XXIII/MPRS/1966<br />
Pemerintah memberikan bimbingan kepada koperasi dengan sikap seperti<br />
tersebut di atas serta memberikan perlindungan agar koperasi benar-benar<br />
mampu melaksanakan pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945 beserta<br />
penjelasannya.<br />
Menurut pasal. 3 UU No. 12/1967, koperasi Indonesia adalah<br />
organisasi ekonomi rakyat yang berwatak social, beranggotakan orang-orang<br />
atau badan hukum koperasi yang merupakan tata azas kekeluargaan.<br />
Penjelasan pasal tersebut menyatakan bahwa “ koperasi Indonesia adalah<br />
kumpulan orang-orang yang sebagai manusia secara bersamaan, bekerja<br />
untuk memajukan kepentingan-kepentingan ekonomi mereka dan<br />
kepentingan masyarakat.<br />
Dari pengertian umum di atas, maka ciri-ciri seperti di bawah ini<br />
seharusnya selalu nampak:<br />
a. Bahwa koperasi Indonesia adalah kumpulan orang-orang dan bukan<br />
kumpulan modal. Pengaruh dan penggunaan modal dalam koperasi<br />
Indonesia tidak boleh mengurangi makna dan tidak boleh mengaburkan<br />
pengertian koperasi Indonesia berdasarkan perkumpulan orang-orang<br />
dan bukan sebagai perkumpulan modal. Ini berarti bahwa koperasi<br />
Indonesia harus benar-benar mengabdikan kepada perikemanusiaan<br />
dan bukan kepada kebendaan;<br />
b. bahwa koperasi Indonesia bekerjasama, bergotong-royong berdasarkan<br />
persamaan derajat, hak dan kewajiban yang berarti koperasi adalah dan<br />
seharusnya merupakan wadah demokrasi ekonomi dan social. Karena<br />
dasar demokrasi ini, milik para anggota sendiri dan pada dasarnya harus<br />
diatur serta diurus sesuai dengan keinginan para anggota yang berarti<br />
bahwa hak tertinggi dalam koperasi terletak pada Rapat Anggota.<br />
c. Bahwa segala kegiatan koperasi Indonesia harus didasarkan atas<br />
kesadaran para anggota. Dalam koperasi tidak boleh dilakukan<br />
paksaan, ancaman, intimidasi dan campur tangan dari pihak-pihak lain<br />
yang tidak ada sangkut-pautnya dengan soal-soal intern koperasi;<br />
d. Bahwa tujuan koperasi Indonesia harus benar-benar merupakan<br />
kepentingan bersama dari para anggotanya dan disumbangkan para<br />
anggota masing-masing. Ikut sertanya anggota sesuai dengan kecilnya<br />
karya dan jasanya harus dicerminkan pula dalam hal pembagian<br />
pendapatan dalam koperasi”.<br />
Dengan berlakunya UU No. 12/1967 koperasi-koperasi yang telah<br />
berdiri harus melaksanakan penyesuaian dengan cara menyelenggarakan<br />
Anggaran dan mengesahkan Anggaran Dasar yang sesuai dengan Undang-<br />
Undang tersebut. Dari 65.000 buah koperasi yang telah berdiri ternyata yang<br />
memenuhi syarat sekitar 15.000 buah koperasi saja. Sedangkan selebihnya<br />
koperasi-koperasi tersebut harus dibubarkan dengan alasan tidak dapat<br />
menyesuaikan terhadap UU No. 12/1967 dikarenakan hal-hal sebagai<br />
berikut:<br />
a. koperasi tersebut sudah tidak memiliki anggota ataupun pengurus serta<br />
Badan Pemeriksa, sedangkan yang masih tersisa adalah papan nama;<br />
b. sebagian besar pengurus dan ataupun anggota koperasi yang<br />
bersangkutan terlibat G30S/PKI ;<br />
c. koperasi yang bersangkutan pada saat berdirinya tidak dilandasi oleh<br />
kepentingan-kepentingan ekonomi, tetapi lebih cenderung karena<br />
dorongan politik pada waktu itu ;<br />
d. koperasi yang bersangkutan didirikan atas dasar fasilitas yang tesedia,<br />
selanjutnya setelah tidak tersedia fasilitas maka praktis koperasi telah<br />
terhenti.<br />
Sejak awal Pelita I pelaksanaan pembangunan telah diarahkan untuk<br />
menyentuh segala kehidupan bangsa sebagai suatu gerak perubahan kearah<br />
kemajuan. Seperti halnya Negara-negara berkembang yang menderita<br />
penjajahan di masa lalu, maka pembangunan yang berlangsung dalam suatu<br />
hubungan kemasyarakatan yang terbentuk dalam kemerdekaan, merupakan<br />
gerak perubahan yang bersifat mendasar dan menyeluruh. Dalam kaitan ini,<br />
proses pembangunan yang berlangsung dalam periode transisional dari<br />
hubungan saling pengaruh mempengaruti yang berlaku dalam lingkungan<br />
masyarakat colonial kea rah susunan dan hubungan kemasyarakatan baru,<br />
sungguh merupakan pekerjaan besar yang tidak mudah.<br />
Periode pelita I pembangunan perkoperasian menitikbertkan pada<br />
investasi pengetahuan dan ketrampilan orang-orang koperasi, baik sebagai<br />
orang gerakan koperasi maupun pejabat-pejabat perkoperasian. Untuk<br />
memberikan peranan pada koperasi di masa dating sebagai konsekuensi<br />
Undang-Undang Dasar 1945 pasal 33 ayat (1), maka koperasi-koperasi perlu<br />
dilandasi lebih dulu dengan jiwa koperasi yang mendalam, perlengjkapan<br />
perlengkapan pengetahuan dan ketrampilan di bidang mental, organisasi,<br />
usaha dan ketatalaksanaan agar mampu terjun di tengah-tengah arena<br />
pembangunan. Untuk melaksanakan tujuan ini maka Pemerintah<br />
membangun Pusat-pusat Pendidikan Koperasi (PUSDIKOP) di tingkat Pusat<br />
dan juga di tiap ibukota Propinsi. Pusat Pendidikan Koperasi tersebut<br />
sekarang dirubah menjadi Pusat Latihan dan Penataran Perkoperasian<br />
(PUSLATPENKOP) di tingkat Pusat dan Balai Latihan Perkoperasian<br />
(BALATKOP) di tingkat Daerah.<br />
Di samping investasi mental ini telah dimulai pula rintisan investasi fisik<br />
dan financial untuk melatih koperasi bergerak di bidang ekonomi. Untuk itu<br />
maka di samping pembinaan usaha dan tatalaksana didirikan pula Lembaga<br />
Jaminan Kredit Koperasi (LJKK) di tahun 1970 yang menjamin pinjamanpinjaman<br />
koperasi dari bank-bank Pemerintah, secara selektif dan bertahap.<br />
Di samping itu LJKK juga berperan untuk ikut dalam partisipasi modal pada<br />
proyek kredit investasi sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Dalam<br />
kebijakan tertentu, Pemerintah atas dasar pertimbangannya apabila dinilai<br />
bunga atas sesuatu kredit pada koperasi terlalu tinggi, LJKK memberikan<br />
subsidi bunga. Sekarang Lembaga Jaminan Kredit Koperasi (LJKK) dirubah<br />
statusnya menjadi Perusahaan Umum Pengembangan Keuangan Koperasi<br />
(PERUM PKK).<br />
Untuk mengatasi kelemahan organisasi dan memajukan manajemen<br />
koperasi maka sejak tahun1972 dikembangkan penggabungan koperasikoperasi<br />
kecil menjadi koperasi-koperasi yang besar. Daerah-daerah di<br />
pedesaan dibagi dalam wilayah-wilayah Unit Desa (WILUD) dan koperasikoperasi<br />
yang yang ada dalam wilayah unit desa tersebut digabungkan<br />
menjadi organisasi yang besar dan dinamakan Badan Usaha Unit Desa<br />
(BUUD). Pada akhirnya koperasi-koperasi desa yang bergabung itu<br />
dibubarkan, selanjutnya BUUD menjelmas menjadi KUD (Koperasi Unit<br />
Desa). Karena secara ekonomi menjadi besar dan kuat, maka BUUD/KUD itu<br />
mampu membiayai tenaga-tenaga yang cakap seperti manajer, juru buku,<br />
juru mesin, juru toko dan lain-lain. Juga BUUD/KUD itu dipercayai untuk<br />
meminjam uang dari Bank dan membeli barang-barang produksi yang lebih<br />
modern, sesuai dengan tuntutan kemajuanzaman (mesin gilingan padi,<br />
traktor, pompa air, mesin penyemprot hama dan lain-lain). Ketentuan<br />
ketentuan yang mengatur tentang Wilayah Unit Desa, BUUD/KUD dituangkan<br />
dalam Instruksi Presiden No.4/1973 yang selanjutnya diperbaharui menjadi<br />
Instruksi Presiden No.2/1978 dan kemudian disempurnakan menjadi Instruksi<br />
Presiden No.4/1984.<br />
Dalam kenyataannya meskipun arus sumber-sumber daya<br />
pembangunan yang dicurahkan untuk mengatasi kemiskinan, khususnya di<br />
daerah-daerah pedesaan, belum pernah sebesar seperti dalam era<br />
pembangunan selama ini, namun kita sadarai sepenuhnya bahwa gejala<br />
kemiskinan dalam bentuk yang lama maupun yang baru masih dirasakan<br />
sebagai masalah mendasar dalam pembangunan nasional.<br />
Keadaan yang telah berlangsung lama tersebut membuat masyarakat<br />
yang tergolong miskin dan lemah ekonominya belum pernah mampu untuk<br />
ikut memanfaatkan secara optimal berbagai sumber pendapatan yang<br />
sebenarnya tersedia. Pada umumnya masyarakat yang termasuk golongan<br />
ini antara lain : kelompok petani, buruh tani, nelayan yang hidup di desa-desa<br />
dan kelompok pekerja kasar di kota-kota bahkan meliputi pula kelompok<br />
penerima dengan hasil tetap seperti karyawan-karyawan perusahaan serta<br />
pegawai-pegawai kecil. Mereka miskin dan lemah karena mereka tidak<br />
memiliki modal yang cukup dan ketrampilan serta pendidikan yang layak.<br />
Namun demikian, di samping kelemahan yang ada, dapat pula dicatat<br />
berbagai potensi yang mereka miliki. Potensi dan kekuatan tersebut antara<br />
lain :<br />
(1). bahwa ada kemauan dan kemampuan bekerja keras dan keuletan untuk<br />
dapat tumbuh dan berkembang;<br />
(2). bahwa sebagian besar dari mereka adalah pekerja dalam bidang<br />
pertanian yang mempengaruhi dan menentukan kekuatan<br />
perkekonomian nasional;<br />
(3). bahwa sejumlah besar mereka (70 sampai dengan 80% rakyat<br />
Indonesia tinggal di daerah pedesaan); dan<br />
(4). bahwa pada dasarnya mereka memiliki potensi social ekonomi yang<br />
dapat dikembangkan lebih lanjut melalui pendekatan pembangunan<br />
yang bersifat khusus.<br />
Sedangkan untuk keberhasilan koperasi di dalam melaksanakan<br />
peranannya perlu diperhatikan faktor-faktor sebagai berikut :<br />
1. Kemampuan menciptakan posisi pasar dan pengawasan harga yang<br />
layak oleh, dengan cara :<br />
a. bertindak bersama dalam menghadapi pasar melalui pemusatan<br />
kekuatan bersaing dari anggota;<br />
b. memperpendek jaringan pemasaran;<br />
c. Memiliki manajer yang cukup trampil berpengetahuan luas dan<br />
memiliki idealisme;<br />
d. Mempunyai dan meningkatkan kemampuan koperasi sebagai satu<br />
unit usaha dalam mengatur jumlah dan kualitas barang-barang yang<br />
dipasarkan melalui kegiatan pergudangan, penelitian kualitas yang<br />
cermat dan sebagainya.<br />
2. Kemampuan koperasi untuk menghimpun dan menanamkan kembali<br />
modal, dengan cara pemupukan pelbagai sumber keuangan dari<br />
sejumlah besar anggota.<br />
3. Penggunaan faktor-faktor produksi yang lebih ekonomis melalui<br />
pembebanan biaya over head yang lebih, dan mengusahakan<br />
peningkatan kapasitas yang pada akhirnya dapat menghasilkan biaya<br />
per unit yang relative kecil<br />
4. Terciptanya ketrampilan teknis di bidang produksi, pengolahan dan<br />
pemasaran yang tidak mungkin dapat dicapai oleh para anggota secara<br />
sendiri-sendiri.<br />
5. Pembebasan resiko dari anggota-anggota kepada koperasi sebagai satu<br />
unit usaha, yang selanjutnya hal tersebut kembali ditanggung secara<br />
bersama di antara anggota-anggotanya.<br />
6. Pengaruh dari koperasi terhadap anggota-anggotanya yang berkaitan<br />
dengan perubahan sikap dan tingkah laku yang lebih sesuai dengan<br />
perubahan tuntutan lingkungan di antaranya perubahan teknologi,<br />
perubahan pasar dan dinamika masyarakat.<br />
Pemerintah di dalam mendorong perkoperasian telah menerbitkan<br />
sejumlah kebijaksanaan-kebijaksanaan baik yang menyangkut di dalam<br />
pengembangan di bidang kelembagaan, di bidang usaha, di bidang<br />
pembiayaan dan jaminan kredit koperasi serta kebijaksanaan di dalam<br />
rangka penelitian dan pengembangan perkoperasian.<br />
Garis-Garis Besar haluan Negara 1988 menetapkan bahwa koperasi<br />
dimungkinkan bergerak di berbagai sector kegiatan ekonomi, misalnya<br />
sektor-sektor : pertanian, industri, keuangan, perdagangan, angkutan dan<br />
sebagainya.<br />
Dalam pola umum Pelita ke lima menyebutkan bahwa : “Dunia usaha<br />
nasional yang terdiri dari usaha Negara koperasi dan usaha swasta perlu<br />
terus dikembangkan menjadi usaha yang sehat dan tangguh dan diarahkan<br />
agar mampu meningkatkan kegairahan dan kegiatan ekonomi serta<br />
pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya, memperluas lapangan kerja,<br />
meningkatkan taraf hidup, kecerdasan dan kesejahteraan rakyat, serta<br />
memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa dan memantapkan ketahanan<br />
nasional. Dalam hal ini perlu diperluas kesempatan berusaha serta ditumbuh<br />
kembangkan swadaya dan kemampuan berusaha khususnya bagi koperasi,<br />
usaha kecil serta usaha informal dan tradisional, baik usaha masyarakat di<br />
pedesaan maupun di perkotaan. Selanjutnya perlu disiptakan iklim usaha<br />
yang sehat serta tata hubungan yang mendorong tumbuhnya kondisi saling<br />
menunjang antara usaha Negara, usaha koperasi dan usaha swasta<br />
keterkaitan yang saling menguntungkan dan adil sntara golongan ekonomi<br />
kuat dan golongan ekonomi lemah “ (butir 2).<br />
Untuk mewujudkan demokrasi ekonomi seperti yang dikehendaki<br />
dalam undang-undang Dasar 1945 pasal 33 ayat 1 berikut penjelasan, Pola<br />
Umum Pelita V juga menyebutkan : “Dalam rangka mewujudkan demokrasi<br />
ekonomi, koperasi harus makin dikembangkan dan ditingkatkan<br />
kemampuannya serta dibina dan dikelola secara efisien. Dalam rangka<br />
meningkatkan peranan koperasi dalam kehidupan ekonomi nasional,<br />
koperasi perlu dimasyarakatkan agar dapat tumbuh dan berkembang sebagai<br />
gerakan dari masyarakat sendiri. Koperasi di bidang produksi, konsumsi,<br />
pemasaran dan jasa perlu terus didorong, serta dikembangkan dan<br />
ditingkatkan kemampuannya agar makin mandiri dan mampu menjadi pelaku<br />
uatama dalam kehidupan ekonomi masyarakat. Pembinaan yang tepat atas<br />
koperasi dapat tumbuh dan berkembang secara sehat serta hasil-hasil<br />
usahanya makin dinikmati oleh para anggotanya, Koperasi Unit Desa (KUD)<br />
perlu terus dibina dan dikembangkan agar tumbuh sehat dan kuat sehingga<br />
koperasi akan semakin berakar dan peranannya makin besar dalam<br />
kehidupan sosial ekonomi masyarakat terutama di pedesaan “ (butir d. 33).<br />
Dalam Pelita V kebijakan pembangunan tetap bertumpu pada trilogy<br />
pembangunan dengan menekankan pemerataa pembangunan dan hasilhasilnya<br />
menuju terciptanya keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia,<br />
yang disertai pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi serta stabilitas yang<br />
mantap. Ketiga unsure Trilogi Pembangunan tersebut saling mengkait dan<br />
saling memperkuat serta perlu dikembangkan secara selaras, serasi dan<br />
seimbang.<br />
Dalam memperkokoh kerangka landasan untuk tinggal landas dibidang<br />
ekonomi, peranan koperasi merupakan aspek yang strategis di samping<br />
peran pelaku ekonomi lainnya. Kopperasi harus tumbuh kuat dan mampu<br />
menangani seluruh aspek kegiatan dibidang pertanian, industry yang kuat<br />
dan dibidang perdagangan barang-barang kebutuhan pokok masyarakat.<br />
Sejalan dengan prioritas pembangunan nasional, dalam Pelita V masih<br />
terpusatkan pada sector pertanian, maka prioritas pembinaan koperasi<br />
mengikuti pola tersebut dengan memprioritaskan pembinaan 2.000 sampai<br />
dengan 4.000 KUD Mandiri tanpa mengabaikan pembinaan-pembinaan<br />
terhadap koperasi jenis lain.<br />
Adapun tujuan pembinaan dan pengembangan KUD Mandiri adalah<br />
untuk mewujudkan KUD yang memiliki kemampuan manajemen koperasi<br />
yang rasional dan efektip dalam mengembangkan kegiatan ekonomi para<br />
anggotanya berdasarkan atas kebutuhan dan keputusan para anggota KUD.<br />
Dengan kemampuan itu KUD diharapkan dapat melaksanakan fungsi<br />
utamanya yaitu melayani para anggotanya, seperti melayani perkreditan,<br />
penyaluran barang dan pemasaran hasil produksi.<br />
Dalam rangka pengembangan KUD mandiri telah diterbitkan<br />
INSTRUKSI MENTERI KOPERASI No. 04/Ins/M/VI/1988 tentang Pedoman<br />
Pembinaan dan Pengembangan KUD mandiri. Pembinaan dan<br />
Pengembangan KUD mandiri diarahkan :<br />
1. Menumbuhkan kemampuan perekonomian masyarakat khusunya di<br />
pedesaan.<br />
2. Meningkatkan peranannya yang lebih besar dalam perekonomian<br />
nasional.<br />
3. Memberikan manfaat yang sebesar-besarnya dalam peningkatan kegiatan<br />
ekonomi dan pendapatan yang adil kepada anggotanya.<br />
Ukuran-ukuran yang digunakan untk menilai apakah suatu KUD sudah<br />
mandiri atau belum adalah sebagai berikut :<br />
1. Mempunyai anggota penuh minimal 25 % dari jumlah penduduk dewasa<br />
yang memenuhi persyaratan kenggotaan KUD di daerah kerjanya.<br />
2. Dalam rangka meningkatkan produktivitas usaha anggotany maka<br />
pelayanan kepada anggota minimal 60 % dari volume usaha KUD secara<br />
keseluruhan.<br />
3. Minimal tiga tahun buku berturut-turut RAT dilaksanan tepat pada<br />
waktunya sesuai petunjuk dinas.<br />
4. Anggota Pengurus dan Badan Pemeriksa semua berasal dari anggota<br />
KUD dengan jumlah maksimal untuk pengurus 5 orang dan Badan<br />
Pemeriksa 3 orang.<br />
5. Modal sendiri KUD minimal Rp. 25 juta.<br />
6. Hasil audit laporan keuangan layak tapa catatan (unqualified opinion).<br />
7. Batas toleransi deviasa usaha terhadap rencana usaha KUD (Program<br />
dan Non Program) sebesar 20 %.<br />
8. Ratio Keuangan :<br />
Liquiditas, antara 15 % s/d 200 %.<br />
Solvabilita, minimal 100 %.<br />
9. Total volume usaha harus proposional dengan jumlah anggota, dengan<br />
minimal rata-rata Rp. 250.000,- per anggota per tahun.<br />
10. Pendapatan kotor minimal dapat menutup biaya berdasarkan prinsip<br />
effisiensi.<br />
11. Sarana usaha layak dan dikelola sendiri<br />
12. Tidak ada penyelewengan dan manipulasi yang merugikan KUD oleh<br />
Pengelola KUD.<br />
13. Tidak mempunyai tunggakan.<br />
Keberhasilan atau kegagalan koperasi ditentukan oleh keunggulan<br />
komparatif koperasi. Hal ini dapat dilihat dalam kemampuan koperasi<br />
berkompetisi memberikan pelayanan kepada anggota dan dalam usahanya<br />
tetap hidup (survive) dan berkembang dalam melaksnakan usaha.<br />
Dikutif dr <a href="http://one.indoskripsi.com">http://one.indoskripsi.com</a></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/manajamendakwah.wordpress.com/35/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/manajamendakwah.wordpress.com/35/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/manajamendakwah.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/manajamendakwah.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/manajamendakwah.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/manajamendakwah.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/manajamendakwah.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/manajamendakwah.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/manajamendakwah.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/manajamendakwah.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/manajamendakwah.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/manajamendakwah.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/manajamendakwah.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/manajamendakwah.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/manajamendakwah.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/manajamendakwah.wordpress.com/35/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=manajamendakwah.wordpress.com&amp;blog=4519951&amp;post=35&amp;subd=manajamendakwah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://manajamendakwah.wordpress.com/2008/09/09/sejarah-koperasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3923ca157b0f4916fdb4846b3799332c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">manajamendakwah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Urgensi dan Manajemen Dakwah Kampus</title>
		<link>http://manajamendakwah.wordpress.com/2008/09/09/urgensi-dan-manajemen-dakwah-kampus/</link>
		<comments>http://manajamendakwah.wordpress.com/2008/09/09/urgensi-dan-manajemen-dakwah-kampus/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Sep 2008 12:39:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>manajamendakwah</dc:creator>
				<category><![CDATA[manajamen]]></category>
		<category><![CDATA[Kampus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://manajamendakwah.wordpress.com/?p=33</guid>
		<description><![CDATA[Urgensi Dakwah Kampus MD- Urgensi pemolaan manajemen Dakwah Kampus (membuat Dakwah Kampus yang terpola, red) bukanlah semata-mata karena tuntutan modernitas. Seolah-olah menjadi kelatahan apabila muncul sebuah kesadaran untuk lebih komprehensif mem-pola-kan Dakwah Kampus dalam rumusan-rumusan yang menjadi tradisi masyarakat modern. Padahal memenej Dakwah Kampus adalah sebuah sunnatullah bagi siapa saja yang ingin seruannya menjadi kiblat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=manajamendakwah.wordpress.com&amp;blog=4519951&amp;post=33&amp;subd=manajamendakwah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Urgensi Dakwah Kampus</strong></p>
<p><strong>MD- </strong>Urgensi pemolaan manajemen Dakwah Kampus (membuat Dakwah Kampus yang terpola, red) bukanlah semata-mata karena tuntutan modernitas. Seolah-olah menjadi kelatahan apabila muncul sebuah kesadaran untuk lebih komprehensif mem-pola-kan Dakwah Kampus dalam rumusan-rumusan yang menjadi tradisi masyarakat modern. Padahal memenej Dakwah Kampus adalah sebuah sunnatullah bagi siapa saja yang ingin seruannya menjadi kiblat yang digugu, ditiru, dan dipanuti. Jadi membuat nidzham yang sistemik dan pemprograman yang jelas merupakan kewajiban bagi setiap rijalud dakwah yang bermujahadah. Artinya, mentakwin ummat, membentuk generasi rabbani, dan menuju khairu ummah, bukanlah membangun kerajaan pendeta, rezim junta militer yang facistis, atau sekedar membuat konfrensi internasional. Akan tetapi risalahnya adalah mewujudkan pemahaman yang syamil (tidak juz’i) pada setiap diri muslim sekaligus mengejawantahkannya pada peradaban yang lengkap (tidak sektoral). Ali Ra pernah berkata: Al Haq yang tidak ternidzham akan dikalahkan oleh al bathil yang ternizham.<span id="more-33"></span></p>
<p>Kampus adalah komunitas kecil yang merepresentasikan sebuah negara dalam skala mini. Kampus juga bisa dipandang sebagai pusat informasi yang paling cepat mengolah data menjadi konseo-konsep yang siap diterapkan di tengah masyarakat. Kampus adalah sebuah wahana yang mampu membahas segala permasalahan secara komprehensif melalui pendekatan multi dimensional. Dari sisi rekrutmen, kampus merupakan tempat berkumpulnya orang-orang yang berpotensi menjadi penentu kebijakan di masa datang. Bahkan pada saat-saat tertentu kampus dapat juga menjadi faktor yang ikut menentukan perubahan sejarah.</p>
<p>Oleh karenanya kampus dapat dijadikan sebagai sebuah laboratorium untuk menelurkan berbagai konsep. Sekaligus berfungsi pula sebagai sarana latihan bagi para rijalud dakwah dalam menerapkan konsep-konsep tersebut. Homogenitas komunitas kampus justru bisa menjadi kekuatan untuk menguji seberapa handal kualitas sumber daya manusia yang ada dan seberapa bagus konsep yang ditelurkan. Sesungguhnya pergesekan elit dan perdebatan konsep terjadi pada masyarakat yang berpendidikan tinggi. Sementara, untuk menghindari kecenderungan untuk menjadi elitis harus dirumuskan kegiatan-kegiatan yang menyentuh langsung masyarakat luas.</p>
<p><strong>Manajemen Dakwah Kampus</strong></p>
<p>Apabila telah muncul persamaan persepsi pada diri setiap rijalud dakwah tentang urgensi dakwah kampus, amat penting untuk segera dipetakan permasalahan yang ada. Di sinilah perlunya para rijalud dakwah yang memiliki kemampuan manajerial tinggi. Selain itu perlu juga dikerahkan rijalud dakwah dari beragam disiplin ilmu untuk dapat mendekati permasalahan secara multi dimensional.</p>
<p>Selama ini pengelolaan dakwah kampus lebih nampak sebagai sebuah paguyuban. Lembaga musholla, rohani islam, atau lembaga dakwah kampus menunjukkan kekeluargaan yang tinggi dan mampu mengikat banyak orang. Akan tetapi pengelolaan organisasinya cenderung tradisional. Ketergantungan akan figur masih sangat tinggi, sementara sistemnya-kalau tidak bisa dibilang amburadul-sangat lemah. Lembaga lainnya di kampus nampak memiliki kecenderungan yang tinggi untuk melahirkan nidzham yang sistemik. Dalam hal profesionalitas dan etos kerja, harus diakui bahwa para rijalud dakwah masih kalah dengan para pialang peradaban barat, minimal dalam hal performance-nya.</p>
<p>Oleh karenanya hal pertama yang harus disosialisasikan adalah urgennya diselenggarakan diklat-diklat Manajemen Dakwah Kampus di setiap kampus. Mulai dari tingkat universitas, fakultas, unit-unit kegiatan, sampai jurusan-jurusan. Harus dirumuskan sebuah paket standard dalam bentuk modul atau diktat yang menjadi tolak ukur bagi peningkatan sumber daya manusia para rijalud dakwah. Paket tersebut meliputi <strong>Manhaj Dakwah Kampus, tarbiyah ruhiyah, fiqhud dakwah, fiqhul waqi’i, dauroh murabbi, dauroh sospol, dauroh akademik, dauroh ijtima’iyyah, dan ketrampilan manajemen dakwah</strong>. Pada hakekatnya paket-paket ini merupakan dauroh tarqiyah yang dikemas secara menarik.</p>
<p>Manajemen Dakwah Kampus dapat dijabarkan sebagai kiat-kiat, teknik, panduan, juklak, atau bahkan model-model dan format kegiatan yang bersifat kongkret. Manajemen Dakwah Kampus merupakan turunan langsung dari konsep dasar yang bersifat abstrak seperti yang termaktub dalam materi fiqhud dakwah. Diharapkan para rijalud dakwah memiliki bekal kemampuan praktis seperti, merumuskan masalah, komunikasi massa, teknik negoisasi, berpikir alternatif, manajemen strategi, rekayasa sospol, manajemen rapat, manajemen issu dan opini publik, networking, pengembangan kreatifitas, membuat keputusan, dan penerapannya dalam sebuah organisasi. Minimal seorang rijalud dakwah memiliki kemahiran mengelola sebuah kepanitiaan.</p>
<p>Harapannya adalah semakin banyak dihasilkan konsep-konsep terapan yang siap pakai di lapangan akan semakin banyak pula praktisi yang siap bekerja untuk dakwah. Suatu saat tidak ada lagi prinsip “yang penting kerja” akan tetapi telah berubah menjadi “yang penting kerja dengan ihsan”. Suatu saat juga tidak ada lagi pertanyaan “bagaimana ?” ketika seseorang diamanahkan sebuah pekerjaan. Dan akhirnya tidak ada lagi orang yang tidak bekerja, bukan karena tidak mau bekerja, tetapi tidak tahu apa yang mesti dikerjakannya dan atau tidak mampu mengerjakannya.</p>
<p><strong>Fiqhud Dakwah sebagai Konsep Dasar</strong></p>
<p>Pemolaan Manajemen Dakwah di kampus membutuhkan landasan fiqh yang diartikulasikan secara segar dan aktual. Keluasan dan keluwesan ajaran Islam amat mendesak untuk diperdalam bagi para rijalud dakwah yang kebetulan menjadi elit kampus. Manuver-manuver politik begitu cepat berseliweran di depan mata. Pergolakan pemikiran menjadi dinamika civitas akademikanya. Selalu saja ada informasi baru yang mengguncangkan. Sementara generasi baru yang ”hedon-norak” itu begitu aktifnya menjadi pialang-pialang yang membawa kebudayaan barat di kampus. Perubahan-perubahan yang begitu cepat dan dinamika serta pergesekan dan persaingan yang begitu tajam menjadi ciri obyek dakwah (mad’u) di dunia kampus.</p>
<p>Perumusan fiqhud dakwah kampus amatlah penting. Hal ini berkaitan dengan kebijakan dan perilaku para rijalud dakwah di kampus. Kesalahan, kerancuan, kedangkalan, dan kesempitan pemahaman akan berakibat fatal pada wajah dakwah kampus. Seringkali citra dakwah tertutupi oleh juru dakwahnya sendiri. Kecenderungan <span style="text-decoration:underline;">menghakimi</span> terkadang masih mewarnai sebuah kebijakan. Kurang tasamuh terhadap keberagaman dan cenderung <span style="text-decoration:underline;">saklak</span> atau <span style="text-decoration:underline;">hitam-putih</span> dalam memecahkan masalah. Padahal kompleksitas masyarakat modern semakin menuntut pola berpikir alternatif dalam menawarkan solusi.</p>
<p>Pemahaman akan fiqhul ikhtilaf yang senantiasa mendahulukan sisi positif (husnudzh dzhon) terhadap setiap orang dan kelompok serta mengkaitkan sisi-sisi positif tersebut dalam bangunan dakwah masih kurang sekali. Belum cukup kesadaran bahwa setiap rijalud dakwah harus mendorong terciptanya link-link dengan berbagai golongan dan kalangan serta beramal jama’I atas apa-apa yang disepakati bersama. Belum cukup usaha untuk menggerakkan partisipasi aktif masyarakat ammah dan keterkaitan semua unsur sebagai pendukung harakah. Hingga muncullah tuduhan-tuduhan seperti <span style="text-decoration:underline;">sok suci</span>, <span style="text-decoration:underline;">penguasa kebenaran</span>, atau <span style="text-decoration:underline;">facisme religius</span>.</p>
<p>Oleh karenanya di tingkat pemahaman perlu pembenahan dan penjernihan agar ada kesatuan pandang dan bahasa yang sama dari para rijalud dakwah. Kesenjangan dan perbedaan persepsi bisa menjadi potensi tafaruq di lapangan. Konsep-konsep seperti <span style="text-decoration:underline;">manhaj, uslub, harakah, tarbiyah, halaqoh, liqo, ikhwan, akhwat, futur</span> dan lainnya, telah mengalami bias, direduksi sebatas idiom dan <strong>disalahkaprahi sebagai satuan-satuan yang kategoris</strong>. Maka muncullah verbalisme yang pada gilirannya menghambat komunikasi dengan masyarakat ammah.</p>
<p>Namun hal yang amat mendesak untuk dikaji, dirumuskan, dan disosialisasikan adalah <strong>fiqhul waqi’i</strong>. Seiring dengan makin besarnya jumlah rijalud dakwah maka terbukalah peluang-peluang dakwah yang selama ini tak terbayangkan. Semangat untuk merambah ke berbagai sektor kehidupan-“yang tercermin dengan diambil alihnya berbagai posisi strategis lembaga kemahasiswaan di kampus”-seharusnya diiringi oleh bacaan yang kuat terhadap situasi dan kondisi lahan yang akan digarap. Kalau tidak, akan terjadi fitnah dan inqilabiyah yang dipaksakan (isti’jal). Manuver-manuver yang dilakukan menjadi tidak smooth. <strong>Dan sudah menjadi karakter masyarakat kampus yang tidak suka terhegemonik</strong>.</p>
<p>Kebutuhan utama akan fiqhul waqi’i adalah dalam pembuatan konsep. Oleh karenanya para konseptor yang lazimnya duduk di <strong>majelis syuro</strong> adalah orang-orang yang matang dalam pemahaman akan fiqhul waqi’i, cukup jam terbangnya pada medan dakwah yang akan diterjuni, dan memiliki penguasaan terhadap disiplin ilmu yang berkaitan erat dengan permasalahan-permasalahan obyek dakwahnya. Tentulah amat sulit menemukan tiga hal tersebut sekaligus dalam diri seseorang. Selain itu, skala yang membesar dan kompleksitas yang meningkat membuat semakin tidak mungkin apabila pembuatan konsep hanya diserahkan pada seseorang saja. Saatnya sekarang menghadirkan para rijalud dakwah sesuai spealisasi ilmu atau kafa’ahnya dalam sebuah forum dialog yang seimbang. Penglibatan rijalud dakwah yang ahli dalam masalah sosiologi misalnya, mendesak untuk dihadirkan agar gerak dakwah yang dilakukan lebih sosiologis (bil lisani qoumi) dibandingkan pendekatan politik melulu. <strong>Penglibatan beragam rijalud dakwah dari berbagai disiplin ilmu</strong> amat dimungkinkan di dunia kampus. Tantangan dakwahnya ada di depan mata yaitu, bagaimana menjawab permasalahan-permasalahan yang timbul dari fenomena generasi baru yang “hedon-norak” berikut kebudayaannnya itu.</p>
<p>Masih berkaitan dengan fiqhud dakwah, masalah <strong>kiprah muslimah</strong> nampaknya memerlukan pembahasan tersendiri. Dominasi kaum hawa di beberapa fakultas merupakan fenomena tersendiri di kampus. Lebih-lebih lagi kalau keberadaannya di kampus memperoleh-“kalau tidak bisa dibilang klaim”- legitimasi feminisme. Masalah feminisme jika diletakkan sebagai sebuah aliran pemikiran belaka mungkin hanya menjadi ghazwah di tataran pemikiran saja. Tapi kalau feminisme sudah menjadi idiologi sebuah pergerakan, ini tentu saja akan menjadi perbenturan yang mewarnai kampus di masa datang. Di tingkat nasional, bisa disaksikan maraknya buruh-buruh perempuan dan merambahnya kaum ibu ke sektor-sektor yang selama ini tak pernah terbayangkan. Beralihnya peran ibu dari sektor domestik ke sektor publik ini jelas akan berpengaruh besar di masa datang.</p>
<p>Catatan yang patut digaris bawahi pada pembahasan di sekitar fiqhud dakwah adalah <strong>manajemen konflik</strong> bagi para rijalud dakwah. Membicarakan konflik bukanlah meniatkan terjadinya konflik akan tetapi meniatkan penyelesaian konflik agar menghasilkan ishlah yang mendatangkan rahmat. Menabukan membicarakan tentang konflik justru mengingkari kenyataan yang ada. Memendam konflik berarti menyimpan bom waktu yang akan menjadi bumerang. Oleh karenanya konflik harus diselesaikan semenjak dini. Seiring dengan terajutnya tali ukhuwah, buatlah sebuah mekanisme yang mendamaikan perselisiha menjadi islah di atas landasan ketakwaan. Kalau seorang rijalud dakwah berhasil memanej konfliknya menjadi sebuah ishlah di atas ketakwaannya maka Allah akan merahmatinya (QS Al Hujurat ayat 10)</p>
<p><strong>Introspeksi dan Evaluasi</strong></p>
<p>Fenomena kefuturan pada sementara rijalud dakwah yang menggejala akhir-akhir ini bisa dilihat dari beberapa sudut. <strong>Hal pertama</strong> yang bisa dilihat adalah <strong>terhijabnya saluran komunikasi</strong> yang menimbulkan mis-persepsi dan <strong>tidak terserapnya permasalahan-permasalahan</strong> yang berkembang secara optimal. Komunikasi yang tidak efektif juga berdampak pada rendahnya pemahaman akan apa yang sebenarnya tengah diperdalam dan diperjuangkan. Akhirnya timbullah disorientasi pada sebagian rijalud dakwah.</p>
<p><strong>Hal kedua</strong> sebagai akibat dari hal pertama adalah <strong>terhambatnya aktualisasi diri sebagian rijalud dakwah yang kurang sabar dan kurang pandai memahami tapi terkenal kritis, kreatif, aktif, dan progresif</strong>. Mereka yang sangat ekspresif dan energik ini, sebenarnya aset yang mahal dalam barisan rijalud dakwah. Oleh karenanya dibutuhkan langkah-langkah yang antisipatif untuk mengarahkan mereka kearah-arah yang tepat dan telah dipersiapkan dengan matang.</p>
<p><strong>Hal ketiga</strong> sebagai akibat dari hal kedua adalah terjadinya <strong>stagnasi internal</strong>, di mana terdapat kecenderungan untuk <strong>defensif, tidak argumentatif, dan tidak antisipatif</strong> terhadap perkembangan yang ada. Kecenderungan yang umum adalah bertahan pada apa yang sudah ada, beku pada apa yang dianggap baku, takut berkreatifitas, malu berinovasi, khawatir salah, dan pasif menerima apa adanya. Akhirnya <strong>muncullah kebosanan dan kebencian akan kemapanan yang bersifat emosional</strong>.</p>
<p><strong>Hal keempat</strong> dan terakhir adalah <strong>rongrongan eksternal</strong>. Bagaimanapun golongan kiri, kanan, haddamah, dan generasi baru yang menjadi pialang peradaban barat akan merongrong terus baik secara politis maupun pemikiran dengan pola kerja yang sistematis. Sementara-“di sinilah pentingnya fiqhul ikhtilaf dan pemahaman terhadap harokah yang baik”-kelompok politik atau aliran pemikiran tertentu dalam Islam lainnya menawarkan berbagai alternatif lain untuk dipilih.</p>
<p>Khatimah</p>
<p>Memenej dakwah pada hakekatnya menjalankan fungsi kekhalifan di muka bumi ini. Jangan sampai ketika kita berdakwah di kampus, kaidah dakwah ‘ammah wa harokatudzh dzhohiroh (dakwah umum dan aktifitas terbuka) berubah perlahan-lahan menjadi kaidah dakwah khashshah wa harokatus sirriyah (dakwah khusus dan aktifitas tertutup). Jangan sampai ketika kita berdakwah, melakukan suatu kegiatan di kampus, pemberi materinya kita, panitianya kita, dan para pesertanyapun kita semua. Marilah kita belaku professional dalam berdakwah sehingga kita dapat menjalankan tugas sebagai khalifah di muka bumi ini.</p>
<p>Allah menyaksikan apa yang terlintas pada setiap lubuk hati para Aktifis Dakwah Kampus. Maha suci Engkau Ya Allah, dengan memuji Engkau, aku bersaksi tiada Ilah kecuali Engkau. Aku mohon ampun kepada Mu dan aku bertaubat kepada Mu</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/manajamendakwah.wordpress.com/33/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/manajamendakwah.wordpress.com/33/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/manajamendakwah.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/manajamendakwah.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/manajamendakwah.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/manajamendakwah.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/manajamendakwah.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/manajamendakwah.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/manajamendakwah.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/manajamendakwah.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/manajamendakwah.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/manajamendakwah.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/manajamendakwah.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/manajamendakwah.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/manajamendakwah.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/manajamendakwah.wordpress.com/33/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=manajamendakwah.wordpress.com&amp;blog=4519951&amp;post=33&amp;subd=manajamendakwah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://manajamendakwah.wordpress.com/2008/09/09/urgensi-dan-manajemen-dakwah-kampus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3923ca157b0f4916fdb4846b3799332c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">manajamendakwah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perlu Manajemen Strategis</title>
		<link>http://manajamendakwah.wordpress.com/2008/09/06/perlu-manajemen-strategis/</link>
		<comments>http://manajamendakwah.wordpress.com/2008/09/06/perlu-manajemen-strategis/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Sep 2008 07:21:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>manajamendakwah</dc:creator>
				<category><![CDATA[manajamen]]></category>
		<category><![CDATA[dakwah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://manajamendakwah.wordpress.com/?p=30</guid>
		<description><![CDATA[Dakwah di Era Global Dakwah di era global selalu berhadap dengan politik luar negeri negara-negara besar dan maju yang cenderung mendominasi negara-negara kecil dan terbelakang. Konstelasi ini meniscayakan perubahan manajemen dakwah agar dakwah tidak hanya dipahami sebagai “orasi di atas mimbar”, tetapi juga semua aktivitas yang mengarah pada kemaslahatan dan kemakmuran umat manusia. Ketika Islam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=manajamendakwah.wordpress.com&amp;blog=4519951&amp;post=30&amp;subd=manajamendakwah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://www.cmm.or.id"> Dakwah di Era Globa</a>l</strong></p>
<p>Dakwah di era global selalu berhadap dengan politik luar negeri negara-negara besar dan maju yang cenderung mendominasi negara-negara kecil dan terbelakang. Konstelasi ini meniscayakan perubahan manajemen dakwah agar dakwah tidak hanya dipahami sebagai “orasi di atas mimbar”, tetapi juga semua aktivitas yang mengarah pada kemaslahatan dan kemakmuran umat manusia. Ketika Islam dan Barat tengah mengalami gangguan hubungan, kemasan dakwah yang dialogis dan universal menjadi kebutuhan yang relevan dan signifikan. Bagaimana manajemen strategis dakwah di era modern? Berikut perbincangan Reporter CMM dengan<span id="more-30"></span> Dr. Ibnu Hamad, pakar komunikasi dan dosen Universitas Indonesia:</p>
<p><strong>Bagaimana agar tema-tema khutbah para dai sesuai dengan masalah sosial kemasyarakatan?</strong><br />
Kita harus memahami konsep dai. Dai hendaknya tidak dipandang orang perorangan, tapi dalam sebuah manajeman organisasi yang baik. Di dalamnya bergabung orang-orang yang menguasai atau ahli dalam pelbagai disiplin ilmu. Jadi, dakwah utama sekarang tidak harus menjadi penceramah ulung di depan publik, tapi bagaimana memberdayakan masyarakat (society enpowerment) yang harus ditopang dengan teknologi rekayasa sosial (social engineering) dan dibantu oleh rekaya teknologi (technology engineering) yang baik. Dakwah kita maknai dengan usaha-usaha membangun peradaban umat. Petani yang bercocok tanam dengan baik dalam rangka beribadah kepada Allah termasuk juga dakwah. Kita seringkali memahami dai hanyalah orang yang mampu beretorika dengan baik di depan publik.</p>
<p><strong>Jadi, setiap orang bisa menjadi dai dengan profesi masing-masing. Barangkali ini yang perlu dipahami oleh umat Islam, begitu?</strong><br />
Benar, tapi kita harus memperbaiki manajemen dakwah dengan memakai konsep manajemen komunikasi strategis atau dalam istilah lain manajemen dakwah strategis. Maksudnya, visi dan misi ajaran Islam diturunkan dalam level operasional, kemudian direncanakan dalam program kerja sehari-hari.</p>
<p><strong>Bisakah Anda memberi contoh?</strong><br />
Contoh organisasi yang menerapkan konsep seperti ini adalah Muhammadiyah. Mereka punya visi dan misi yang diterjemahkan ke dalam bentuk sebuah program ekonomi ataupun pendidikan. Muhammadiyah telah berdakwah, tapi tidak dalam arti berpidato di depan publik.</p>
<p><strong>Menurut Anda, pa makna kehadiran CMM bagi geliat dakwah di era global?</strong><br />
Menurut saya, CMM hadir sebagai wahana kita bersama memahami Islam dengan lebih komprehensif, tidak “kanan” dan tidak “kiri”. Dalam arti menciptakan suasana keislaman yang rasional bagi semua kalangan, termasuk umat Islam dan umat di luar Islam.</p>
<p><strong>Bagaimana belajar agama yang efektif di tengah keberagaman pendapat tentang ajaran Islam?</strong><br />
Mengenai banyaknya ragam pendapat tentang ajaran Islam, saya cuma ingin menyatakan pendapat orang dahulu di pesantren, “Kalau mengaji tidak ada gurunya, sama halnya mengaji pada setan.” Artinya, dalam memahami Islam harus mempunyai guru. Islam mengajarkan tentang urusan dunia dan akhirat, berarti kita harus mempunyai guru yang mumpuni dalam kedua hal ini.</p>
<p><strong>Bagaimana jika seseorang tidak bertemu dengan guru yang tepat?</strong><br />
Kita harus mencari guru yang baik. Saat ini alat-alat komunikasi semakin canggih yang memungkinkan seseorang mendapatkan guru yang baik tanpa harus tatap muka dengannya. Jika ia bertemu dengan guru yang menyesatkan, harusnya yang bersangkutan cross check dengan sumber-sumber lain sehingga bisa mengetahui kebenaran dari suatu pernyataan. Jangan taklid buta, tapi harus kritis.</p>
<p><strong>Manusia menjadi tidak tidak berharga ketika mempunyai sifat sombong, misalnya. Menurut Anda, bagaimana mengatasinya?</strong><br />
Spirit dari kaum muslim yang Anda katakan adalah terlena dengan kebesaran Islam dan congkak. Ini adalah penyakit hati dan Islam melarang hal ini. Islam mengajarkan umatnya untuk rendah hati dan bersemangat dalam hidup. Kesempurnaan Islam bukan hanya keyakinan belaka, tapi harus dibuktikan sehingga tidak terjebak dari label yang kita agung-agungkan, padahal kita kecil.</p>
<p><strong>Islam dan Barat kini berada dalam posisi berhadapan. Bagaimana mengatasinya?</strong><br />
Posisi Islam dan Barat seharusnya tidak bermusuhan tapi harus menjadi partner. Penyebab hal ini, kedua belah pihak mempunyai provokator yang selalu membuat kedua belah pihak sepertinya selalu berhadap-hadapan. Misalnya di Barat, ada sarjana yang melakukan analisa atau penelitian secara ilmiah, tapi tiba-tiba mengeluarkan suatu dogma ilmiah seperti konsep “<em>clash of civilitization</em>” dari Samuel P. Huntington.</p>
<p>Awalnya, apa yang dilakukan oleh Huntington adalah ilmiah tapi lama kelamaan berubah menjadi dogma ilmiah. Tesis Huntington menempatkan Islam dan peradaban di luar Barat, seperti Konghucu dan China, sebagai musuh peradaban Barat. Ini sangat disayangkan. Semestinya tesis Huntington dilanjutkan dengan kata, “meskipun peradaban berbeda-beda mestinya harus menjadi partner.” Tapi sayang kesimpulan dari tesis Huntington menyatakan akan terjadi suatu benturan besar.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/manajamendakwah.wordpress.com/30/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/manajamendakwah.wordpress.com/30/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/manajamendakwah.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/manajamendakwah.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/manajamendakwah.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/manajamendakwah.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/manajamendakwah.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/manajamendakwah.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/manajamendakwah.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/manajamendakwah.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/manajamendakwah.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/manajamendakwah.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/manajamendakwah.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/manajamendakwah.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/manajamendakwah.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/manajamendakwah.wordpress.com/30/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=manajamendakwah.wordpress.com&amp;blog=4519951&amp;post=30&amp;subd=manajamendakwah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://manajamendakwah.wordpress.com/2008/09/06/perlu-manajemen-strategis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3923ca157b0f4916fdb4846b3799332c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">manajamendakwah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>manajamen waktu</title>
		<link>http://manajamendakwah.wordpress.com/2008/08/22/manajamen-waktu/</link>
		<comments>http://manajamendakwah.wordpress.com/2008/08/22/manajamen-waktu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Aug 2008 01:53:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>manajamendakwah</dc:creator>
				<category><![CDATA[manajamen]]></category>
		<category><![CDATA[waktu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://manajamendakwah.wordpress.com/?p=9</guid>
		<description><![CDATA[Masa adalah keadaan lahir dan batin yang tengah dijalani seorang hamba. Sungguh merugi manusia kecuali orang yang tengah menetapi iman dan melaksanakan amal saleh. Karena itu Islam membimbing bagaimana seharusnya insan mengatur hari-harinya agar selalu berada dalam masa yang penuh keberuntungan. Berikut tulisan mengenai cara-cara mengatur hari-hari kita, dimulai dengan Menyambut Pagi. Bangunlah sebelum fajar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=manajamendakwah.wordpress.com&amp;blog=4519951&amp;post=9&amp;subd=manajamendakwah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Masa adalah keadaan lahir dan batin yang tengah dijalani seorang hamba. Sungguh merugi manusia kecuali orang yang tengah menetapi iman dan melaksanakan amal saleh. Karena itu Islam membimbing bagaimana seharusnya insan mengatur hari-harinya agar selalu berada dalam masa yang penuh keberuntungan.<br />
Berikut tulisan mengenai cara-cara mengatur hari-hari kita, dimulai dengan Menyambut Pagi.<span id="more-9"></span><!--more--><!--more--><img src="http://manajamendakwah.files.wordpress.com/2008/08/waktu.jpg?w=477" alt=""   class="alignnone size-full wp-image-10" /></p>
<p>Bangunlah sebelum fajar dan berdzikir, segera setelah itu, lalu berwudhu, kemudian shalat. Rasulullah shalallahu&#8217;alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلاَثَ عُقَدٍ يَضْرِبُ عَلَى مَكَانِ كُلِّ عُقْدَةٍ: عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيْلٌ فَارْقُدْ. فَإِنِ اسْتَيْقَظَ فَذِكْرَ اللهَ اِنْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ تَوَضَّأَ اِنْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ صَلَّى اِنْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَأَصْبَحَ نَشِيْطاً طَيِّبَ النَّفْسِ وَإِلاَّ أَصْبَحَ خَبِيْثَ النَّفْسِ كَسْلاَنَ</p>
<p>“Syaithan mengikat tengkuk salah seorang dari kalian saat ia tidur dengan tiga ikatan. Pada tiap-tiap ikatan itu, Syaithan menghembuskan: Tidurlah terus, malam masih larut. Maka, jika ia terbangun, hendaklah ia berdzikrullâh, sehingga terputuslah satu ikatan Syaithan itu. Jika ia (melanjutkannya dengan) berwudhu, maka terputus lagi satu ikatan Syaithan itu. Jika ia (meneruskannya dengan mengerjakan) shalat, maka terputus lagi satu ikatan Syaithan itu (sehingga ikatan Syaithan itu terputus seluruhnya). Dengan demikian, niscaya memancarlah ketangkasan dan kebersihan dari jiwanya, namun jika ia tidak melakukan hal-hal tersebut, maka memancarlah dari jiwanya kekotoran dan berbagai kemalasan.” (Dikeluarkan oleh Al-Bukhâriy[1], Muslim[2], Ahmad[3], Ibnu Mâjjaĥ[4], Abû Dâwûd[5] dan Mâlik[6]). Ini lafaz dari Al-Bukhâriy dalam Shahîhu l-Bukhâriy: Kitâbu t-Tahajjud.</p>
<p># Sebelum berwudhu, seyogyanya mencuci dulu kedua tangan di luar bejana dan beristintsâr (menghirup air ke dalam hidung lalu menghembuskannya) serta menggosok gigi. Rasulullah shalallahu&#8217;alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>إِذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ نَوْمِهِ فَلْيَغْسِلْ يَدَهُ قَبْلَ أَنْ يُدْخِلَهَا فِى وُضُوئِهِ فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لاَ يَدْرِى أَيْنَ بَاتَتْ يَدُهُ</p>
<p>“Apabila salah seorang dari kalian bangun dari tidur, maka cucilah tangannya sebelum ia mencelupkannya ke dalam air untuk wudhunya, karena sesungguhnya ia tidak tahu di mana tangannya itu terletak ketika tidur.” (Dikeluarkan oleh Muslim[7], Ahmad[8], Ibnu Mâjjaĥ[9], Ad-Darâmiy[10], Abû Dâwûd[11], At-Turmudziy[12], An-Nasâ-iy[13] dan Mâlik[14]). Ini lafaz dari Mâlik. Dalam hadîts yang diterima Ibnu Mâjjaĥ melalui jalur ‘Abdu r-Rahmân bin Ibrâhîm Ad-Dimasyqiy, pencucian tangan itu dilakukan sebanyak dua atau tiga kali. Kebanyakan riwayat menyatakan tiga kali, kecuali hadîts yang diriwayatkan oleh Mâlik serta sebagian dari yang diriwayatkan Ahmad dan Ibnu Mâjjaĥ, yang tidak menyebutkan banyaknya pencucian.</p>
<p>إِذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ مَنَامِهِ فَلْيَسْتَنْثِرْ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَبِيْتُ عَلَى خَيَاشِيْمِهِ</p>
<p>“Apabila salah seorang dari kalian bangun dari tidur, maka ber-istintsâr-lah tiga kali, karena sesungguhnya Syaithan bermalam dalam rongga hidungnya.” (Dikeluarkan oleh Al-Bukhâriy[15], Muslim[16] dan An-Nasâ-iy[17]). Ini lafaz dari Muslim.</p>
<p>لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِيْ لَأَمَرْتُ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ وُضُوْءٍ</p>
<p>“Seandainya tidak memberatkan ummatku, aku benar-benar telah memerintahkan menggosok gigi setiap kali wudhu.” (Dikeluarkan oleh Ahmad[18], An-Nasâ-iy[19] dan Mâlik[20]). Ini lafaz dari An-Nasâ-iy. Ibnu Khuzaimaĥ menilainya shahîh, sedangkan Al-Bukhâriy menilainya mu’allaq.</p>
<p># Jika berhajat ke kamar kecil atau WC, mencuci kedua tangan, beristintsâr serta menggosok gigi, dilakukan usai buang hajat.</p>
<p>Dalam membuang hajat, tetapilah dengan seksama aturan dan adab-adabnya; sebab, “tidak bersih” dalam kencing saja sudah cukup menjadi jalan datangnya siksa kubur. Rasulullah shalallahu&#8217;alaihi wa sallam pernah bersabda ketika melewati dua kuburan yang masih baru:</p>
<p>إِنَّهُمَا لَيُعَذِّبَانِ وَمَا يُعَذِّبَانِ فِى كَبِيْرٍ أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لاَ يَسْتَنْزِهُ مِنْ بَوْلِهِ وَأَمَّا اْلآخَرُ فَكَانَ يَمْشِى بِالنَّمِيْمَةِ</p>
<p>“Sesungguhnya dua penghuni kubur ini benar-benar tengah ditimpa siksa; dan tidaklah keduanya disiksa karena dosa besar. Salah seorang dari mereka, disiksa karena tidak bersuci dari kencingnya; sedangkan yang satunya karena ia senang melakukan namîmah.” (Dikeluarkan oleh Al-Bukhâriy[21], Muslim[22], Ahmad[23], Ibnu Mâjjaĥ[24], Ad-Darâmiy[25], Abû Dâwûd[26], At-Turmudziy[27] dan An-Nasâ-iy[28]). Ini lafaz dari Ibnu Mâjjaĥ.</p>
<p># Jika dalam keadaan junub, setelah mencuci kedua tangan, beristintsâr serta menggosok gigi, lakukanlah mandi secara sempurna, sesuai aturan dan adab-adabnya, dan tidak mengapa mencukupkan wudhu dengannya. Ummu l-Mu˙minîn ‘Âîsyaĥ t meriwayatkan:</p>
<p>كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ يَتَوَضَّأُ بَعْدَ الْغُسْلِ</p>
<p>“Adalah Rasulullah shalallahu&#8217;alaihi wa sallam tidak lagi mengambil wudhu sesudah mandi.” (Dikeluarkan oleh Ahmad[29], Ibnu Mâjjaĥ[30], At-Turmudziy[31] dan An-Nasâ-iy[32]). At-Turmudziy menyatakan hadîts yang diriwayatkannya: hasan shahîh. Ibnu Mâjjaĥ meriwayatkannya dengan lafaz: ba’da l-ghusli mina l-janâbaĥ (sesudah mandi junub).</p>
<p># Usai berwudhu (atau mandi) dengan sempurna, mengikuti aturan dan adab-adabnya, tunaikanlah dua raka’at shalat sunat wudhu, dan apabila “fajar shadiq” belum lagi terbit, bagi yang berniat shaum bisa mengerjakan sahur. Rasulullah shalallahu&#8217;alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>اَلْفجْرُ فَجْرَانِ فَجْرٌ يُحَرِّمُ الطَّعَامُ وَتَحِلُّ فِيْهِ الصَّلاةُ وَفَجْرٌ تَحْرُمُ فِيْهِ الصَّلاَةُ وَيَحِلُّ فِيْهِ الطَّعَامُ</p>
<p>“Fajar itu ada dua: Fajar yang mengharamkan makan-minum, tetapi menghalalkan shalat; dan fajar yang mengharamkan di dalamnya mengerjakan shalat, tetapi menghalalkan makan-minum.” (Dikeluarkan oleh Ibnu Khuzaimaĥ dan Al-Hâkim[33]). Al-Hâkim men-shahîh-kan hadîts ini.</p>
<p>Fajar yang pertama itulah yang disebut “Fajar Shadiq”; dan yang kedua, disebut “Fajar Kidzib”.</p>
<p>مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَتَوَضَّأُ فَيُحْسِنُ وُضُوْءَهُ ثُمَّ يَقُوْمُ فَيُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ مُقْبِلٌ عَلَيْهِمَا بِقَلْبِهِ وَوَجْهِهِ إِلاَّ وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ</p>
<p>“Tidak seorang Muslim pun berwudhu dengan membaguskan wudhunya, kemudian berdiri menunaikan shalat dua raka’at dengan menghadapkan sepenuh hati dan wajahnya dalam shalat itu, melainkan wajib baginya Surga.” (Dikeluarkan oleh Muslim[34], Ahmad[35], Abû Dâwûd[36] dan An-Nasâ-iy[37]).</p>
<p># Apabila fajar shadiq telah terbit, tegakkanlah dua raka’at shalat sunat fajar. Mengenai shalat ini, ada riwayat dari Ummu l-Mu˙minîn ‘Âîsyaĥ radhiallahu&#8217;anhu:</p>
<p>لَمْ يَكُنْ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى شَيْءٍ مِنَ النَّوَافِلِ أَشَدُّ مُعَاهَدَةً مِنْهُ عَلَى الرَّكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ</p>
<p>“Tidak pernah Rasulullah shalallahu&#8217;alaihi wa sallam amat sangat mementingkan suatu nawafil seperti halnya terhadap dua raka’at sebelum fajar.” (Dikeluarkan oleh Al-Bukhâriy[38], Muslim[39], Ahmad[40], Abû Dâwûd[41] dan An-Nasâ-iy[42]). Ini lafaz dari An-Nasâ-iy.</p>
<p>Apabila luput dari melaksanakannya sebelum shalat shubh, laksanakanlah segera setelah shalat shubh, jika waktu shalat shubh belum berakhir. Qais bin ‘Amrû t meriwayatkan:</p>
<p>خَرَجَ إِلَى الصُّبْحِ فَوَجَدَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِى الصُّبْحِ وَلَمْ يَكُنْ رَكَعَ رَكْعَتَيِ الْفَجْرِ فَصَلَّى مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَامَ حِيْنَ فَرَغَ مِنَ الصُّبْحِ فَرَكَعَ رَكْعَتَيِ الْفَجْرِ فَمَرَّ بِهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: مَا هَذِهِ الصَّلاَةَ؟ فَأَخْبَرَهُ فَسَكَتَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَضَى وَلَمْ يَقُلْ شَيْئاً</p>
<p>“Suatu hari, ia keluar ke Masjid untuk berjama’ah shalat shubh. Setibanya di sana, ia mendapatkan Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam telah shalat shubh, padahal ia belum menunaikan dua raka’at shalat fajar. Maka, ia pun shalat shubh bersama Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam. Setelah selesai, segera ia melaksanakan dua raka’at shalat fajar. Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam lalu mendatanginya, dan bertanya: shalat apa ini? Ia pun memberitahu (bahwa itu shalat fajar). Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam pun diam dan berlalu, tidak mengatakan sepatah kata pun.” (Dikeluarkan oleh Ahmad[43]). Al-‘Irâqiy menyatakan hadîts ini isnadnya jayyid.</p>
<p>Jika waktu shubh sudah berakhir, matahari telah terbit, “qadhâ” shalat sunat fajar dilaksanakan sesudah matahari agak tinggi. ‘Imrân bin Hushain t meriwayatkan:</p>
<p>أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ فِى مَسِيْرٍ لَهُ فَنَامُوْا عَنْ صَلاَةِ الْفَجْرِ فَاسْتَيْقَظُوْا بِحَرِّ الشَّمْسِ فَارْتَفَعُوْا قَلِيْلاً حَتَّى اسْتَقَلَّتِ الشَّمْسُ ثُمَّ أَمَرَ مُؤَذِّناً فَأَذَّنَ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَقَامَ ثُمَّ صَلَّى الْفَجْرَ</p>
<p>“Dalam suatu perjalanan bersama Rasulullah shalallahu&#8217;alaihi wa sallam, rombongan tertidur hingga luput melaksanakan shalat fajar. Mereka terbangun saat matahari telah terbit. Lalu mereka melanjutkan perjalanan hingga matahari agak tinggi. Setelah itu, Rasulullah shalallahu&#8217;alaihi wa sallam pun menyuruh Muadzdzin untuk mengumandangkan adzan, dan beliau pun menunaikan dua raka’at shalat sunat fajar. Lalu dikumandangkanlah iqamah, maka kemudian beliau menunaikan shalat fajar.” (Dikeluarkan oleh Ahmad[44], Abû Dâwûd[45] dan An-Nasâ-iy[46]). Ini lafaz dari Abû Dâwûd.</p>
<p>Shalat fajar (dan, secara umum, shalat-shalat sunat lainnya) seyogyanya dilaksanakan di rumah. Rasulullah shalallahu&#8217;alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>صَلاَةُ الرَّجُلِ فِى بَيْتِهِ تَطَوُّعاً نُوْرٌ فَمَنْ شَاءَ نَوَّرَ بَيْتِهِ</p>
<p>“Shalat tathawwu’ seseorang di rumahnya laksana cahaya; maka barangsiapa yang mau, cahayailah rumahnya.” (Dikeluarkan oleh Ahmad[47]).</p>
<p># Usai shalat sunat fajar, jika shalat shubh belum lagi di-iqamah-kan, atau jika diperkirakan cukup waktu untuk berjalan ke Masjid, berbaringlah sejenak pada lambung kanan, atau, bercakap-cakap sejenak dengan anggota keluarga yang telah bangun. Ummu l-Mu˙minîn ‘Âîsyah t meriwayatkan:</p>
<p>كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا صَلَّى رَكْعَتَيِ الْفَجْرِ فإِنْ كُنْتُ نَائِمَةً اضْطَجَعَ وَإِنْ كُنْتُ مُسْتَيْقِظَةً حَدّثَنِي</p>
<p>“Adalah Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam apabila telah menunaikan dua raka’at fajar, dan saya masih tidur, beliau pun berbaring; apabila saya sudah bangun, beliau bercakap-cakap dengan saya.” (Dikeluarkan oleh Muslim[48] dan Abû Dâwûd[49]). Ini lafaz dari Abû Dâwûd.</p>
<p>Lalu pergi menuju Masjid untuk menunaikan shalat shubh berjama’ah. Berjalanlah dengan tenang, tidak terburu-buru, serta tidak mempersilangkan jari jemari atau bersidekap, dan berdo’alah sepanjang jalan. Rasulullah shalallahu&#8217;alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>إِذَا سَمِعْتُمُ اْلإِقَامَةَ فَامْشُوْا إِلَى الصَّلاَةِ وَعَلَيْكُمْ بِالسَّكِيْنَةِ والْوَقَارِ وَلاَ تُسْرِعُوْا فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوْا وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوْا</p>
<p>“Apabila kalian mendengar seruan shalat akan ditegakkan, maka pergilah shalat. Jagalah cara berjalan kalian, setenang dan setegap mungkin. Jangan terburu-buru. Maka yang kalian dapatkan dari shalat secara berjama’ah, lakukanlah, dan yang ketinggalan, sempurnakanlah.” (Dikeluarkan oleh Al-Bukhâriy[50], Muslim[51], Ahmad[52], Ibnu Mâjjaĥ[53], Abû Dâwûd[54], At-Turmudziy[55] dan Mâlik[56]). Ini lafaz dari Al-Bukhâriy.</p>
<p>إِذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ فَأَحْسَنَ وُضُوْءَهُ ثُمَّ خَرَجَ عَامِداً إِلَى المَسْجِدِ فَلاَ يُشَبِّكَنَّ يَدَيْهِ فَإِنَّهُ فِى صَلاَةٍ (وفى لفظ) فَلاَ يُشَبِّكَنَّ بَيْنَ أَصَابِعِهِ</p>
<p>“Apabila salah seorang dari kalian berwudhu, sempurnakanlah wudhunya. Kemudian, apabila ia keluar menuju Masjid dengan sengaja, maka janganlah ia bersidekap, atau, mempersilangkan jari jemari, karena saat berjalan itu ia berada dalam shalat.” (Dikeluarkan oleh Abû Dâwûd[57] dan At-Turmudziy[58]).</p>
<p>CATATAN: Berjama’ah di Masjid bagi wanita dibolehkan dengan syarat, walaupun bagi mereka lebih baik shalat di rumah. Sabda Rasulullah shalallahu&#8217;alaihi wa sallam:</p>
<p>لاَ تَمْنَعُوْا نِسَاءَكُمُ الْمَسَاجِدَ وَبُيُوْتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ</p>
<p>“Janganlah kalian melarang para wanita ke Masjid, namun di rumah-rumah mereka adalah lebih baik bagi mereka.” (Dikeluarkan oleh Ahmad[59] dan Abû Dâwûd[60]). Ini lafaz dari Abû Dâwûd.</p>
<p>لاَ تَمْنَعُوْا إِمَاءَ اللهِ مَسَاجِدَ اللهِ وَلَكِنْ لِيَخْرُجْنَ وَهُنَّ تَفِلاَتٌ</p>
<p>“Janganlah kalian melarang para wanita ke Masjid-masjid Allâh, namun hendaklah mereka keluar tanpa wewangian.” (Dikeluarkan oleh Ahmad[61], Ad-Darâmiy[62] dan Abû Dâwûd[63]).</p>
<p># Sesampainya di Masjid, masuklah ke dalamnya dengan kaki kanan terlebih dahulu seraya membaca do’a. Mengenai mendahulukan kaki kanan dalam suatu urusan, ada riwayat dari Ummu l-Mu˙minîn ‘Âîsyaĥ radhiall:</p>
<p>كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحِبُّ التَّيَمُّنَ مَا اسْتَطَاعَ فِى شَأْنِهِ كُلِّهِ</p>
<p>“Adalah Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam amat mementingkan bagian kanan dalam setiap urusannya.” (Dikeluarkan oleh Al-Bukhâriy[64], Muslim[65], Ahmad[66] dan Abû Dâwûd[67]). Ini lafaz dari Al-Bukhâriy dan Abû Dâwûd.</p>
<p>Setibanya di dalam, berusahalah menempati shaff paling depan sebelah kanan, dan jangan melangkahi pundak-pundak orang lain, kecuali jika orang-orang menyia-nyiakannya (membiarkannya tidak terisi) &#8211;Pengecualian ini adalah pendapat sebagian Ahlu l-‘Ilmi lihat Al-Ghazâliy: Ihyâْ ‘Ulûma d-Dîn, Kitâb Asrâri sh-Shalât wa Mahmâtihâ, al-Bâbu l-Khâmis fî Fadhli l-Jum’ati wa Âdâbihâ wa Sunnanihâ wa Syurûtihâ, Bayânu Âdâbi l-Jum’ati ‘alâ Tartîbi l-‘Âdat, fî Hay-ati d-Dukhûli). Rasulullah shalallahu&#8217;alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى الصَّفِّ اْلأَوَّلِ</p>
<p>“Sesungguhnya Allâh dan para Malaikat-Nya bershalawat bagi shaff pertama.” (Dikeluarkan oleh Ahmad[68], Ibnu Mâjjaĥ[69] dan Ad-Darâmiy[70]). Dalam buku Mishbâhu z-Zujâjah fî Zawâ-idin Ibni Mâjjaĥ disebutkan bahwa hadîts mengenai ini dari ‘Abdu r-Rahmân bin ‘Auf t yang diriwayatkan oleh Ibnu Mâjjaĥ, shahîh dan rijal-rijalnya tsiqât. Hadîts lain dari Al-Barâ` bin ‘Âzib t yang diriwayatkan oleh Ahmad dan An-Nasâ-iy menggunakan lafaz: ’alâ sh-shaffi l-muqaddami (atas shaf yang lebih awal).</p>
<p>إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى مَيَامِنِ الصُّفُوْفِ</p>
<p>“Sesungguhnya Allâh dan para Malaikat-Nya bershalawat bagi shaff sebelah kanan.” (Dikeluarkan oleh Ibnu Mâjjaĥ[71] dan Abû Dâwûd[72]).</p>
<p>مَنْ تَخَطَّى رِقَابَ النَّاسِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ اتَّخِذَ جِسْراً إِلَى جَهَنَّمَ</p>
<p>“Barangsiapa yang melangkahi pundak-pundak orang pada hari jum’at, ia telah mengambil jalan lintas menuju Jahannam.” (Dikeluarkan oleh Ibnu Mâjjaĥ[73] dan At-Turmudziy[74]).</p>
<p>Kemudian, tunaikanlah dua raka’at shalat sunat tahiyyatul masjid, sebelum duduk, kecuali jika shalat sudah di-iqamah-kan. Jika tidak (hendak) melakukannya, cukup membaca al-bâqiyyâtu sh-shâlihât satu, tiga atau empat kali (lihat Al-Ghazâliy: Bidâyatu l-Hidâyah, Âdâbu Dukhûli l-Masjid dan An-Nawawiy: Al-Adzkâr An-Nawawiyyah, Bâb Mâ Yaqûlu fî l-Masjid.). Rasulullah shalallahu&#8217;alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ فَلِيَرْكِعْ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يَجْلِسَ</p>
<p>“Apabila salah seorang dari kalian memasuki Masjid maka hendaklah ia tunaikan dua raka’at shalat, sebelum ia duduk.” (Dikeluarkan oleh Al-Bukhâriy[75], Muslim[76], Ahmad[77], An-Nasâ-iy[78] dan Mâlik[79]). Ibnu Mâjjaĥ meriwayatkannya dengan lafaz: fa l yushalli rak’ataini (maka hendaklah shalat dua raka’at).</p>
<p>إِذَا أُقِيْمَتِ الصَّلاَةُ فَلاَ صَلاَةَ إِلاَّ الْمَكْتُوْبَةُ</p>
<p>“Apabila telah di-iqamah-kan shalat, maka tidak ada shalat kecuali yang diwajibkan.” (Dikeluarkan oleh Muslim[80], Ahmad[81], Ibnu Mâjjaĥ[82], Ad-Darâmiy[83], Abû Dâwûd[84] dan An-Nasâ-iy[85]).</p>
<p># Sesudah menunaikan shalat tahiyyatul masjid, dan shalat fardhu belum diserukan, berdzikirlah dan bertasbih, atau membaca Al-Qur-ân. Firman Allâh ta&#8217;ala:</p>
<p>فِى بُيُوْتٍ أَذِنَ اللهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيْهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيْهَا بِالْغُدُوِّ وَاْلأَصَلِ رِجَالٌ</p>
<p>“Bertasbih kepada Allâh para Rijâl di masjid-masjid yang telah diperintahkan-Nya untuk dimuliakan dan disebut-sebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan petang.” (An-Nûr 36-37).</p>
<p>Apabila adzan dan iqamah diperdengarkan, hentikanlah semua aktifitas itu, dan jawablah seruan adzan atau iqamah, lalu di penghujungnya memanjatkan do’a. Rasulullah shalallahu&#8217;alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>إِذَا سَمِعْتُمُ النِّدَاءَ فَقُوْلُوْا مِثْلَ مَا يَقُوْلُ الْمُؤَذِّنُ</p>
<p>“Apabila kalian mendengar seruan adzan, maka ucapkanlah seperti apa yang diucapkan oleh Muadzdzin.” (Dikeluarkan oleh Al-Bukhâ-riy[86], Muslim[87], Ahmad[88], Abû Dâwûd[89], At-Turmudziy[90], An-Nasâ-iy[91] dan Mâlik[92]).</p>
<p>Dan menurut keterangan dari Abû Umâmah t:</p>
<p>أَنَّ بِلاَلاً أَخَذَ فِى اْلإِقَامَةَ فَلَمَّا أَنْ قَالَ قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَقَامَهَا اللهُ وَأَدَامَهَا وَقَالَ فِى سَائِرِ اْلإِقَامَةِ</p>
<p>“Adalah Bilâl menyerukan iqamah. Maka, tatkala sampai pada seruan qad qâmati sh-shalâh, Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam pun menjawab: aqâmahâ llâhu wa adâmahâ; dan Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam menjawab seluruh seruan iqamah.” (Dikeluarkan oleh Abû Dâwûd[93]). Menurut Al-Mundziriy, dalam sanad hadîts ini ada orang yang majhul dan Syahr bin Hausyab sendiri diperselisihkan statusnya.</p>
<p>Antara adzan dan iqamah adalah waktu mustajab bagi do’a, karena itu panjatkanlah do’a yang berisi permohonan untuk keafiatan di dunia dan akhirat, dan jika tidak ada keperluan yang mendesak, tetaplah di tempat, jangan keluar dari Masjid. Rasulullah shalallahu&#8217;alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>اَلدُّعَاءُ لاَ يُرَدُّ بَيْنَ اْلأَذَانِ واْلإِقَامَةِ. قَالُوْا فَمَاذَا نَقُوْلُ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ سَلُوا اللهَ الْعَافِيَةَ فِى الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ</p>
<p>“Do’a yang dipanjatkan antara adzan dan iqamah tidak akan ditolak. Mereka (para shahabat yang mendengar sabda beliau e itu pun) bertanya: Apa yang kami mohonkan, Ya Rasulullah shalallahu&#8217;alaihi wa sallam? Jawab Rasulullah shalallahu&#8217;alaihi wa sallam: Mohonlah kepada Allâh keafiaatan di dunia dan akhirat.” (Bagian pertamanya dikeluarkan oleh Ahmad[94], Abû Dâwûd[95], At-Turmudziy[96] dan An-Nasâ-iy[97]; sedangkan tambahan pertanyaan: fa mâ dzâ naqûlu dan jawabannya dikeluarkan oleh At-Turmudziy[98]). Menurut At-Turmudziy, hadîts ini hasan, dan tambahan tersebut dari yang disampaikan oleh Yahyâ bin Al-Yamâni.</p>
<p>مَنْ أَدْرَكَهُ اْلأَذَانُ فِى الْمَسْجِدِ ثُمَّ خَرَجَ لَمْ يَخْرُجْ لِحَاجَةٍ وَهُوَ لاَ يُرِيدُ الرّجْعَةَ فَهُوَ مُنَافِقٌ</p>
<p>“Barangsiapa yang telah berada di Masjid mendengar adzan, lalu ia keluar bukan karena suatu keperluan mendesak, dan tidak bermaksud kembali lagi, maka ia seorang Munâfiq.” (Dikeluarkan oleh Abû Dâwûd[99]). Dalam buku Mishbâhu z-Zujâjaĥ fî Zawâ-idin Ibni Mâjjaĥ disebutkan bahwa Ibnu Abî Farwaĥ dan ‘Abdu l-Jabbâr bin ‘Umar yang terdapat dalam sanad hadîts ini, dhaîf. Namun demikian, Ath-Thabrâniy dalam Al-Wasith meriwayatkan hadîts yang semakna dengan ini melalui perawi-perawi yang shahîh lihat Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy: Koleksi Hadits-Hadits Hukum 2 (Semarang: PT Pustaka Rizki Putera, 2001) “Masalah 196: Keluar Mesjid Sesudah Azan Dikumandangkan”, h.203.</p>
<p># Sesudah menunaikan shalat shubh berjama’ah, hingga matahari terbit isi dengan berdo’a, berdzikir, bertasbih, membaca Al-Qur-ân, atau bertafakkur. Rasulullah shalallahu&#8217;alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>لأَنْ أقْعُدَ مَعَ قَوْمٍ يَذْكُرُونَ اللهَ تَعَالَى مِنْ صَلاَةِ الْغَدَاةِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ أَحَبُّ إلَيَّ مِنْ أَنْ أُعْتِقَ أَرْبَعَةً مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيْلَ</p>
<p>“Sungguh dudukku bersama suatu kaum yang berdzikir kepada Allâh sejak dari shalat shubh hingga terbit matahari, lebih aku sukai daripada membebaskan empat puluh budak keturunan Ismâ’îl.” (Dikeluarkan oleh Ahmad[100] dan Abû Dâwûd[101]). Ini lafaz dari Abû Dâwûd. Al-‘Irâqiy menyatakan hadîts Abû Dâwûd ini isnadnya jayyid. Ahmad meriwayatkannya dengan lafaz: adzkaro llâha wa ukabbiruhu wa uhammiduhu wa usabbihuhu wa uhalliluhu (berdzikir kepada Allâh dan bertakbir, bertahmid, bertasbih serta bertahlil kepada-Nya), tanpa menyebut lafaz: min shalâti l-ghadât.</p>
<p>Kemudian, hingga matahari naik setengah tombak, sehingga jelas benderang cahayanya (kira-kira 3 jam setelah terbitnya), isilah waktu dengan 4 hal: (1) Meneruskan berdo’a, berdzikir, bertasbih, membaca Al-Qur-ân, atau bertafakkur, (2) menuntut Ilmu, (3) melakukan tindakan-tindakan yang menguntungkan sesama dan membahagiakan orang-orang beriman serta turut aktif dalam berbagai usaha meninggikan Kalimatillâh di tengah masyarakat, dan (4) mencukupi kebutuhan diri dan keluarga. Rasulullah shalallahu&#8217;alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلاَّ سَيُكَلِّمُهُ اللهُ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ تُرْجُمَانٌ وَلاَ حِجَابً يَحْجُبُهُ فَيَنْظُرُ أَيْمَنَ مِنْهُ فَلاَ يَرَى إِلاَّ مَا قَدَّمَ وَيَنْظُرُ أَشْأَمَ مِنْهُ فَلاَ يَرَى إِلاَّ مَا قَدَّمَ وَيَنْظُرُ بَيْنَ يَدَيْهِ فَلاَ يَرَى إِلاَّ النَّارَ تِلْقَاءَ وَجْهِهِ فَاتَّقُوْا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ وَلَوْ بِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ</p>
<p>“Tiada seorang pun dari kalian kecuali kelak Allâh akan berbicara kepadanya tanpa penerjemah dan tanpa hijab yang menutupinya. Lalu ia berpaling ke sisi kanannya, maka tidak ada yang ia lihat selain amal perbuatannya yang telah lalu. Begitu pula ketika ia berpaling ke sisi kirinya, tidak ada yang ia lihat selain amal perbuatannya yang telah lalu. Dan ketika ia berpaling ke muka, maka tidak ada yang ia lihat selain Neraka yang tepat berada di hadapan wajahnya. Karena itu, hindarilah Neraka itu oleh kalian walaupun dengan sebiji kurma dan kalimat thayyibah.” (Dikeluarkan oleh Al-Bukhâriy[102], Muslim[103], Ahmad[104], Ibnu Mâjjah[105] dan At-Turmudziy[106]). Ini gabungan lafaz dari Muslim dan Al-Bukhâriy. Ahmad, Ibnu Mâjjaĥ dan At-Turmudziy meriwayatkannya dengan lafaz: mani s-tathâ’a min kum an yaqiya wajhahu hurri n-nâra walaw bi syiqqin tamratin wa bi kalimatin thayyibatin fa l yaf’al (barangsiapa sanggup di antara kalian untuk melindungi wajahnya dari panas api Neraka, walau hanya dengan sebiji korma dan dengan kalimah thayyibah, maka lakukanlah). At-Turmudziy menilai hadîts mengenai ini yang diriwayatkannya, hasan shahîh.</p>
<p>#<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p>[1] Shahîhu l-Bukhâriy: Kitâbu t-Tahajjud, Bâb ‘Aqidi sy-Syaithân ‘alâ Qâfiyati r-Ra`si idzâ lam Yushalli bi l-Laili; Al-Bukhâriy menerimanya melalui jalur ‘Abdullâh bin Yûsuf dari Mâlik dari Abû z-Zinâd dari Al-A’raj dari Abû Hurairah t. Dalam Kitâb Bada-i l-Khalqi, Bâb Shifati Iblîs wa Junûdihi; Al-Bukhâriy menerimanya melalui jalur Ismâ‘îl bin Abî Uwais dari saudaranya dari Sulaimân bin Bilâl dari Yahyâ bin Sa’îd dari Sa’îd bin Al-Musayyab dari Abû Hurairah t.</p>
<p>[2] Shahîh Muslim: Kitâbu sh-Shalâti l-Musâfirîn wa Qashrihâ, Bâbu l-Hitstsi ‘alâ Shalâti l-Waqti wa in Qillat; Muslim menerimanya melalui jalur ‘Amrû An-Nâqid dan Zuhair bin Harb dari Sufyân bin ‘Uyainah dari Abû z-Zinâd dari Al-A’raj dari Abû Hurairah t.</p>
<p>[3] Musnad Ahmad: Musnad Abû Hurairah t; ‘Abdullâh bin Ahmad menerimanya dari ayahnya, Ahmad bin Hanbal, yang menerimanya melalui jalur Sufyân bin ‘Uyainah dari Abû z-Zinâd dari Al-A’raj dari Abû Hurairah t.</p>
<p>[4] Sunan Ibnu Mâjjah: Kitâbu sh-Shalât, Bâb Mâ Jâ-a fî Qiyâmu l-Lail; Ibnu Mâjjah menerimanya melalui jalur Abû Bakr bin Abî Syaibah dari Abû Mu’âwiyyah dari Al-A’masy dari Abû Shâlih dari Abû Hurairah t.</p>
<p>[5] Sunan Abû Dâwûd: Kitâbu sh-Shalât, Bâb Qiyâmi l-Lail; Abû Dâwûd menerimanya melalui jalur ‘Abdullâh bin Yûsuf dari Mâlik dari Abû z-Zinâd dari Al-A’raj dari Abû Hurairah t.</p>
<p>[6] Al-Muwatha`: Kitâbu sh-Shalât, Jâmi’u t-Targhîb fî sh-Shalât; Mâlik menerimanya melalui jalur Mâlik dari Abû z-Zinâd dari Al-A’raj dari Abû Hurairah t.</p>
<p>[7] Shahîh Muslim: Kitâbu th-Thahârah, Bâb Karâhatin Ghamasa l-Mu-tawadhdhi-i wa Ghairihi Yadahi l-Masykûki fî Najâsatihâ fî l-Inâ-i Qabla Ghasalahâ Tsalâtsân; Muslim menerimanya melalui jalur Nashr bin ‘Aliy Al-Jahdhamiy dan Hâmid bin ‘Umar Al-Bakrâwiy dari Bisyr bin Al-Mufadhdhal dari Khâlid dari ‘Abdullâh bin Syaqîq (juga melalui jalur Salamah bin Syabîb dari Al-Hasan bin A’yan dari Ma’qil dari Abû z-Zubair dari Jâbir) dari Abû Hurairah t.</p>
<p>[8] Musnad Ahmad: Musnad Abû Hurairah t; ‘Abdullâh bin Ahmad menerimanya dari ayahnya, Ahmad bin Hanbal, yang menerimanya melalui jalur Sufyân dari Az-Zuhriy (juga melalui jalur Muhammad bin Ja’far dari Muhammad bin ‘Amrû) dari Abû Salamah (juga melalui jalur ‘Abdu r-Razzâq dari Ma’mar dari Hammâm bin Munabbih, dan dari Az-Zuhriy dari Ibnu l-Musayyab; dan jalur Hawdzah dari ‘Awf dari Muhammad; serta jalur Mûsâ bin Dâwud dari Ibnu Luhai’ah dari Abû z-Zubair dari Jâbir; dan jalur Muhammad bin Ja’far dari Syu’bah dari Khâlid dari ‘Abdullâh bin Syaqîq; dan jalur Mâlik dari Abû z-Zinâd dari Is-hâq dan Al-A’raj; juga jalur Wakî’ dari Al-A’masy dari Abû Shâlih dan Abû Razîn; dan jalur Yazîd dari Ibnu Is-hâq dari Mûsâ bin Yassâr; serta jalur Yazîd dari Hisyâm dari Muhammad) dari Abû Hurairah t.</p>
<p>[9] Sunan Ibnu Mâjjah: Kitâbu th-Thahârah wa Sunnanihâ, Bâbu r-Rajuli Yastaiqazhi min Manâmi hi Hal Yadkhulu Yadahu fî l-Inâ-i Qabla an Yaghsilahâ; Ibnu Mâjjah menerimanya melalui jalur ‘Abdu r-Rahmân bin Ibrâhîm Ad-Dimasyqiy dari Al-Walîd bin Muslim dari Al-Awzâ‘iy dari Az-Zuhriy dari Sa’îd bin Al-Musayyab dan Abû Salamah bin ‘Abdi r-Rahmân dari Abû Hurairah t; juga melalui jalur Harmalah bin Yahyâ dari ‘Abdullâh bin Wahb dari Ibnu Luhai‘ah dan Jâbir bin Ismâ‘îl dari ‘Uqail dari Ibnu Syihâb dari Sâlim dari Bapaknya.</p>
<p>[10] Sunan Ad-Darâmiy: Kitâbu sh-Shalât wa th-Thahârah, Bâb Idzâ Istaiqazha Ahadukum min Manâmihi; Ad-Darâmiy menerimanya melalui jalur Abû Nu’aim dari Ibnu ‘Uyainah dari Az-Zuhriy dari Abû Salamah dari Abû Hurairah t.</p>
<p>[11] Sunan Abû Dâwûd: Kitâbu th-Thahârah, Bâb fî r-Rajuli Yadkhulu Yadahu fî l-Inâ-i Qabla an Yaghsilahâ; Abû Dâwûd menerimanya melalui jalur Ahmad bin ‘Amrû bin As-Sarh dan Muhammad bin Salamah Al-Murâdiy dari Ibnu Wahb dari Mu’âwiyyah bin Shâlih dari Abû Maryam dari Abû Hurairah t.</p>
<p>[12] Jâmi’u t-Turmudziy: Abwâbu th-Thahârah, Bâb Mâ Jâ-a Idzâ Istaiqazha Ahadukum min Manâmihi fa Lâ Yaghmis Yadahu fî l-Inâ-i Hattâ Yaghsilahâ; At-Turmudziy menerimanya melalui jalur Abû l-Walîd Ahmad bin Bakkâr Ad-Dimasyqiy dari Al-Walîd bin Muslim dari Al-Awzâ‘iy dari Az-Zuhriy dari Sa’îd bin Al-Musayyab dan Abû Salamah dari Abû Hurairah t.</p>
<p>[13] Sunan An-Nasâ-iyyu l-Kubrâ: Kitâbu th-Thahârah, Bâb Wudhû-i n-Nâ-imi Idzâ Qâma ilâ sh-shalât dan Sunan An-Nasâ-iyyu sh-Shughrâ: Kitâbu th-Thahârah, Bâb Ta’wîl Qawluhu ‘Azza wa Jalla Idzâ Qumtum ilâ sh-shalât; An-Nasâ-iy menerimanya melalui jalur Qutaibah bin Sa’îd dari Sufyân (juga, dalam Sunan An-Nasâ-iyyu l-Kubrâ: Kitâbu th-Thahârah, Bâbu l-Amri bi l-Wudhû-i li n-Nâ-imi l-Mudhtaji’ dan Sunan An-Nasâ-iyyu sh-Shughrâ: Kitâbu th-Thahârah, Bâbu l-Wudhû-i mina n-Nawmi, melalui jalur Ismâ’îl bin Mas’ûd dari Yazîd dari Ma’mar) dari Az-Zuhriy dari Abû Salamah dari Abû Hurairah t.</p>
<p>[14] Al-Muwatha`: Kitâbu sh-Shalât, Wudhû-i n-Nâ-imi Idzâ Qâma ilâ sh-Shalât; Mâlik menerimanya melalui jalur Yahyâ dari Mâlik dari Abû z-Zinâd dari Al-A’raj dari Abû Hurairah t.</p>
<p>[15] Shahîhu l-Bukhâriy: Kitâb Bada-i l-Khalqi, Bâb Shifati Iblîs wa Junûdihi; Al-Bukhâriy menerimanya melalui jalur Ibrâhîm bin Hamzah dari Ibnu Abî Hâzim dari Yazîd bin ‘Abdillâh dari Muhammad bin Ibrâhîm dari ‘Îsâ bin Thalhah dari Abû Hurairah t.</p>
<p>[16] Shahîh Muslim: Kitâbu th-Thahârah, Bâbu l-Ibtâr fî l-Istintsâr wa l-Istijmâr; Muslim menerimanya melalui jalur Bisyr bin Al-Hakam Al-‘Abdiy dari ‘Abdu l-‘Azîz Ad-Darâwardiy dari Ibnu l-Hâdi dari Muhammad bin Ibrâhîm dari ‘Îsâ bin Thalhah dari Abû Hurairah t.</p>
<p>[17] Sunan An-Nasâ-iyyu l-Kubrâ: Kitâbu th-Thahârah, Bâb bi Kum Yastantsir; An-Nasâ-iy menerimanya melalui jalur Muhammad bin Zunbûr Al-Makkiy dari Ibnu Abî Hâzim dari Yazîd bin ‘Abdillâh dari Muhammad bin Ibrâhîm dari ‘Îsâ bin Thalhah dari Abû Hurairah t.</p>
<p>[18] Musnad Ahmad: Musnad Abû Hurairah t; ‘Abdullâh bin Ahmad menerimanya dari ayahnya, Ahmad bin Hanbal, yang menerimanya melalui jalur Abû ‘Ubaidah Al-Haddâd dari Muhammad bin ‘Amrû dari Abû Salamah (juga melalui jalur Mâlik dari Ibnu Syihâb dari Humaid bin ‘Abdi r-Rahmân) dari Abû Hurairah t.</p>
<p>[19] Sunan An-Nasâ-iyyu l-Kubrâ: Kitâbu sh-Shiyâmi l-Awwal, As-Siwâk li sh-Shâ-imi bi l-Ghadâ ti wa DzakaRa Ikhtilâf; An-Nasâ-iy menerimanya melalui jalur Suwaid bin Nashr dari ‘Abdullâh dari ‘Ubaidillâh bin ‘Amr (juga melalui jalur Ibrâhîm bin Ya’qûb dari Abû Nu’mân dari Hammâd bin Zaid dari ‘Abdu r-Rahmân As-Sirâj) dari Sa’îd bin Abî Sa’îd Al-Maqbariy (juga melalui jalur Muhammad bin Yahyâ dari Bisyr bin ‘Amr dari Mâlik dari Ibnu Syihâb dari Humaid bin ‘Abdi r-Rahmân) dari Abû Hurairah t.</p>
<p>[20] Al-Muwatha`: Kitâbu sh-Shalât, Mâ Jâ-a fî s-Siwâk; Mâlik menerimanya melalui jalur Mâlik dari Ibnu Syihâb dari Humaid bin ‘Abdi r-Rahmân dari Abû Hurairah t.</p>
<p>[21] Shahîhu l-Bukhâriy: Kitâbu l-Wudhû’; Al-Bukhâriy menerimanya melalui jalur Muhammad bin Al-Mutsannâ dari Muhammad bin Khâzim (juga, dalam Kitâbu l-Janâ-iz, Bâbu l-Jarîdati ‘alâ l-Qabri, melalui jalur Yahyâ dari Abû Mu’âwiyyah; dan dalam Bâb ‘Adzâbi l-Qabri mina l-Ghîbati wa l-Bawli, melalui jalur Qutaibah dari Jarîr) dari Al-A’masy dari Mujâhid dari Thâwus dari Ibnu ‘Abbâs y.</p>
<p>[22] Shahîh Muslim: Kitâbu th-Thahârah, Bâbu d-Dalîl ‘alâ Najâsati l-Bawli wa Wujûbi l-Istibrâ-i minhu; Muslim menerimanya melalui jalur Abû Sa’îd Al-Asyajj, Abû Kuraib Muhammad bin Al-‘Alâْ dan Is-haq bin Ibrâhîm dari Wakî’ (juga melalui jalur Ahmad bin Yûsuf Al-Azadiy dari Mu’allâ bin Asad dari ‘Abdu l-Wâhid) dari Al-A’masy dari Mujâhid dari Thâwus dari Ibnu ‘Abbâs y.</p>
<p>[23] Musnad Ahmad: Musnad ‘Abdullâh bin ‘Abbâs y; ‘Abdullâh bin Ahmad menerimanya dari ayahnya, Ahmad bin Hanbal, yang menerimanya melalui jalur Abû Mu’âwiyyah dan Wakî’ dari Al-A’masy dari Thâwus dari Ibnu ‘Abbâs y; juga, dalam Hadîts Abû Umâmah t, melalui jalur Mujâhid Abû l-Mughîrah dari Ma’ân bin Rifâ’ah dari ‘Aliy bin Yazîd dari Al-Qâsim Abû ‘Abdu r-Rahmân dari Abû Umâmah t.</p>
<p>[24] Sunan Ibnu Mâjjah: Kitâbu th-Thahârah wa Sunnanihâ, Bâbu t-Tasydîdi fî l-Bawli; Ibnu Mâjjah menerimanya melalui jalur Abû Bakr bin Abî Syaibah dari Abû Mu’âwiyyah dan Wakî’ dari Al-A’masy dari Thâwus dari Ibnu ‘Abbâs y.</p>
<p>[25] Sunan Ad-Darâmiy: Kitâbu sh-Shalât wa th-Thahârah, Bâbu l-IttIqâ-i mina l-Bawli; Ad-Darâmiy menerimanya melalui jalur Al-Mu’allâ bin Asad dari ‘Abdu l-Wâhid bin Ziyâd dari Al-A’masy dari Mujâhid dari Thâwus dari Ibnu ‘Abbâs y.</p>
<p>[26] Sunan Abû Dâwûd: Kitâbu th-Thahârah, Bâbu l-Istibrâ-i mina l-Bawli; Abû Dâwûd menerimanya melalui jalur Zuhair bin Harb dan Hannâd bin As-Sariy dari Wakî’ dari Al-A’masy dari Mujâhid dari Thâwus (juga melalui jalur ‘Utsmân bin Abî Syaibah dari Jarîr dari Manshûr dari Mujâhid) dari Ibnu ‘Abbâs y.</p>
<p>[27] Jâmi’u t-Turmudziy: Abwâbu th-Thahârah, Bâb Mâ Jâ-a t-Tasydîdi fî l-Bawli; At-Turmudziy menerimanya melalui jalur Hannâd, Qutaibah dan Abû Kuraib dari Wakî’ dari Al-A’masy dari Mujâhid dari Thâwus dari Ibnu ‘Abbâs y.</p>
<p>[28] Sunan An-Nasâ-iyyu l-Kubrâ dan Sunan An-Nasâ-iyyu sh-Shughrâ: Kitâbu th-Thahârah, Bâbu t-Tanzihi ‘ani l-Bawli; An-Nasâ-iy menerimanya melalui jalur Hannâd bin As-Sariy dari Wakî’ (juga, dalam Kitâbu th-Thahârah, Bâb Wadh’i l-Jarîdah ‘alâ l-Qabri, melalui jalur Hannâd bin As-Sariy dari Abû Mu’âwiyyah) dari Al-A’masy dari Mujâhid dari Thâwus dari Ibnu ‘Abbâs y.</p>
<p>[29] Musnad Ahmad: Hadîts As-Sayyidatu ‘Âîsyah t; ‘Abdullâh bin Ahmad menerimanya dari ayahnya, Ahmad bin Hanbal, yang menerimanya melalui jalur Aswad bin ‘Âmir, Wakî’ dan Hisyâm dari Syarîk (juga melalui jalur Yahyâ bin Âdam dari Hasan) dari Abû Is-hâq dari Al-Aswad dari ‘Âîsyah t.</p>
<p>[30] Sunan Ibnu Mâjjah: Abwâbu t-Tayammum, Bâb fî l-Wudhû-i Ba’da l-Ghusl; Ibnu Mâjjah menerimanya melalui jalur Abû Bakr bin Abî Syaibah, ‘Abdullâh bin ‘Âmir bin Zurârah dan Ismâ’îl bin Mûsâ As-Saddiy dari Syarîk dari Abû Is-hâq dari Al-Aswad dari ‘Âîsyah t.</p>
<p>[31] Jâmi’u t-Turmudziy: Abwâbu th-Thahârah, Bâb Mâ Jâ-a fî l-Wudhû-i Ba’da l-Ghusl; At-Turmudziy menerimanya melalui jalur Ismâ’îl bin Mûsâ dari Syarîk dari Abû Is-hâq dari Al-Aswad dari ‘Âîsyah t.</p>
<p>[32] Sunan An-Nasâ-iyyu l-Kubrâ dan Sunan An-Nasâ-iyyu sh-Shughrâ: Kitâbu th-Thahârah, Bâb Tarki l-Wudhû-i Ba’da l-Ghusl; An-Nasâ-iy menerimanya melalui jalur Ahmad bin ‘Utsmân bin Hakîm dari Bapaknya dari Al-Hasan (juga melalui jalur ‘Amrû bin ‘Aliy dari ‘Abdu r-Rahmân dari Syarîk) dari Abû Is-hâq dari Al-Aswad dari ‘Âîsyah t.</p>
<p>[33] Hadîts riwayat Ibnu Khuzaimah dan Al-Hâkim ini terdapat dalam Kitâb “Subulu s-Salâm Syarh Bulûghi l-Marâm min Jami’ Adillati l-Ahkâm” karya Ash-Shan’âniy, tanpa menyebutkan sanadnya, dari Ibnu ‘Abbâs y.</p>
<p>[34] Shahîh Muslim: Kitâbu th-Thahârah, Bâbu dz-Dzikri l-Mustahabbi ‘Iqabi l-Wudhû-i; Muslim menerimanya melalui jalur Muhammad bin Hâtim bin Maymûn dari ‘Abdu r-Rahmân bin Mahdiy dari Mu’âwiyyah bin Shâlih dari Rubai’ah bin Yazîd dari Abû Idrîs Al-Khawlâniy, dan dari Abû ‘Utsmân dari Jubair bin Nufair, dari ‘Uqbah bin ‘Âmir t.</p>
<p>[35] Musnad Ahmad: Hadîts ‘Uqbah bin ‘Âmir t; ‘Abdullâh bin Ahmad menerimanya dari ayahnya, Ahmad bin Hanbal, yang menerimanya melalui jalur ‘Abdu r-Rahmân dari Mu’âwiyyah dari Rubai’ah dari Abû Idrîs Al-Khawlâniy, dan dari Abû ‘Utsmân dari Jubair bin Nufair dari ‘Uqbah bin ‘Âmir t.</p>
<p>[36] Sunan Abû Dâwûd: Kitâbu th-Thahârah, Bâb Mâ Yaqûlu r-Rajuli Idzâ Tawadha-a; Abû Dâwûd menerimanya melalui jalur Ahmad bin Sa’îd Al-Mahdâniy dari Ibnu Wahb dari Mu’â wiyyah bin Shâlih dari Abû ‘Utsmân (juga, dalam Bâb Karâhiyati l-Waswasah wa Hadîtsi n-Nafsi fî sh-Shalât, melalui jalur ‘Utsmân bin Abî Syaibah dari Zaid bin Al-Hubâb dari Mu’âwiyyah bin Shâlih dari Rubai’ah bin Yazîd dari Abû Idrîs Al-Khawlâniy) dari Jubair bin Nufair dari ‘Uqbah bin ‘Âmir t.</p>
<p>[37] Sunan An-Nasâ-iyyu l-Kubrâ dan Sunan An-Nasâ-iyyu sh-Shughrâ: Kitâbu th-Thahârah, Bâb Tsawâbu Man Ahsana l-Wudhû-a Tsumma Shallâ Rak’ataini; An-Nasâ-iy menerimanya melalui jalur Mûsâ bin ‘Abdi r-Rahmân dari Zaid bin Hubâb dari Mu’âwiyyah bin Shâlih dari Rubai’ah bin Yazîd Ad-Dimasyqiy dari Abû Idrîs Al-Khawlâniy, dan dari Abû ‘Utsmân dari Jubair bin Nufair, dari ‘Uqbah bin ‘Âmir t.</p>
<p>[38] Shahîhu l-Bukhâriy: Kitâbu t-Tahajjud, Bâb Ta’âhudi Raka’atayi l-Fajr wa Man Sammâhumâ Tathawwu’ân; Al-Bukhâriy menerimanya melalui jalur Bayân bin ‘Amrû dari Yahyâ bin Sa’îd dari Ibnu Juraij dari ‘Athâ` dari ‘Ubaidillâh bin ‘Umair dari ‘Âîsyah t.</p>
<p>[39] Shahîh Muslim: Kitâbu sh-Shalâti l-Musâfirína wa Qashrahâ, Bâb Istihbâbi Raka’atayi Sunnati l-Fajr wa l-Hitstsi ‘Alaihimâ; Muslim menerimanya melalui jalur Zuhair bin Harb dari Yahyâ bin Sa’îd dari Ibnu Juraij dari ‘Athâ` dari ‘Ubaidillâh bin ‘Umair dari ‘Âîsyah t.</p>
<p>[40] Musnad Ahmad: Hadîts As-Sayyidatu ‘Âîsyah t; ‘Abdullâh bin Ahmad menerimanya dari ayahnya, Ahmad bin Hanbal, yang menerimanya melalui jalur Yahyâ bin Sa’îd, ‘Abdu r-Razzâq dan Ibnu Bakr dari (juga langsung melalui) Ibnu Juraij dari ‘Athâ` dari ‘Ubaidillâh bin ‘Umair dari ‘Âîsyah t.</p>
<p>[41] Sunan Abû Dâwûd: Kitâbu sh-Shalât, Bâb Raka’atayi l-Fajr; Abû Dâwûd menerimanya melalui jalur Musaddad dan Yahyâ bin Sa’îd dari Ibnu Juraij dari ‘Athâ` dari ‘Ubaidillâh bin ‘Umair dari ‘Âîsyah t.</p>
<p>[42] Sunan An-Nasâ-iyyu l-Kubrâ: Kitâbu s-Shalât, Bâbu l-Mu’âhadati ‘alâ r-Raka’ataini Qabla Shalâti l-Fajr; An-Nasâ-iy menerimanya melalui jalur Ya’qûb bin Ibrâhîm dari Yahyâ bin Sa’îd dari Ibnu Juraij dari ‘Athâ` dari ‘Ubaidillâh bin ‘Umair dari ‘Âîsyah t.</p>
<p>[43] Musnad Ahmad: Hadîts Qais bin ‘Amrû t; ‘Abdullâh bin Ahmad menerimanya dari ayahnya, Ahmad bin Hanbal, yang menerimanya melalui jalur ‘Abdu r-Razâq dari Ibnu Juraij dari ‘Abdullâh bin Sa’îd dari Kakeknya.</p>
<p>[44] Musnad Ahmad: Hadîts ‘Imrân bin Hushain t; ‘Abdullâh bin Ahmad menerimanya dari ayahnya, Ahmad bin Hanbal, yang menerimanya melalui jalur Yazîd dari Hisyâm dan Rawah dari Al-Hasan dari ‘Imrân bin Hushain t.</p>
<p>[45] Sunan Abû Dâwûd: Kitâbu sh-Shalât, Bâb fî Man Nâmi ‘an Shalâtin aw Nasîhâ; Abû Dâwûd menerimanya melalui jalur Wahb bin Baqiyyah dari Khâlid dari Yûnus bin ‘Ubaid dari Al-Hasan dari ‘Imrân bin Hushain t.</p>
<p>[46] Sunan An-Nasâ-iyyu l-Kubrâ dan Sunan An-Nasâ-iyyu sh-Shughrâ: Kitâbu l-Mawâqît, Bâb Kaifa Yaqdhiya l-Fâ-itu mina sh-Shalâti; An-Nasâ-iy menerimanya melalui jalur Hannâd bin As-Sirriy dari Abû l-Ahwash dari ‘Athâ` bin As-Sâ-ib dari Buraida bin Abî Maryam dari Bapaknya.</p>
<p>[47] Musnad Ahmad: Musnad ‘Umar bin Al-Khaththâb t; ‘Abdullâh bin Ahmad menerimanya dari ayahnya, Ahmad bin Hanbal, yang menerimanya melalui jalur Muhammad bin Ja’far dari Syu’bah dari Hâsyim bin ‘Amrû Al-Bajaliy dari ‘Umar bin Al-Khaththâb t.</p>
<p>[48] Shahîh Muslim: Kitâbu sh-Shalâti l-Musâfirína wa Qashrahâ, Bâb Shalâti l-Lail wa ‘Iddadu Raka’âti n-Nabiyy; Muslim menerimanya melalui jalur Abû Bakr bin Abî Syaibah, Nashr bin ‘Aliy dan Ibnu Abî ‘Umar dari Sufyân bin ‘Uyainah dari Abû An-Nadhr dari Abû Salamah dari ‘Âîsyah t.</p>
<p>[49] Sunan Abû Dâwûd: Kitâbu sh-Shalât, Bâbu Idhtijâ’i Ba’dihâ; Abû Dâwûd menerimanya melalui jalur Musaddad dari Sufyân dari Zayâd bin Sa’d dari Ibnu Abî ‘Attâb dari Abû Salamah dari ‘Âîsyah t.</p>
<p>[50] Shahîhu l-Bukhâriy: Kitâbu l-Adzân, Bâb Qawli r-Rajuli fa Atatnâ sh-Shalât dan Kitâbu l-Jamâ’ah, Bâbu l-Masy-yi ilâ l-Jamâ’ah; Al-Bukhâriy menerimanya melalui jalur Âdam dari Ibnu Abî Dzi’b dari Az-Zuhriy dari Sa’îd bin Al-Musayyab dan Abû Salamah dari Abû Hurairah t. Dalam Kitâbu l-Jamâ’ah, Bâbu l-Masy-yi ilâ l-Jamâ’ah; Al-Bukhâriy juga menerimanya tanpa melalui Âdam, tetapi langsung dari Ibnu Abî Dzi’b.</p>
<p>[51] Shahîh Muslim: Kitâbu l-Masâjid wa Mawâdhi’i sh-Shalât, Bâb Istihbâbi Ityâni sh-Shalât bi WIqârin wa Sakînatin wa n-Nahyi ‘an Ityânahâ Sa’iyyân; Muslim menerimanya melalui jalur Abû Bakr bin Abî Syaibah, ‘Amrû An-Nâqid dan Zuhair bin Harb dari Sufyân bin ‘Uyainah (juga melalui jalur Muhammad bin Ja’far bin Ziyâd dari Ibrâhîm bin Sa’d) dari Az-Zuhriy dari Sa’îd bin Al-Musayyab dan Abû Salamah (juga melalui jalur Yahyâ bin Ayyûb, Qutaibah bin Sa’îd dan Ibnu Hujr dari Ismâ’îl bin Ja’far dari Al-‘Alâ` dari Bapaknya; dan jalur Muhammad bin Râfi’ dari ‘Abdu r-Razzâq dari Ma’mar dari Hammâm bin Munabbih) dari Abû Hurairah t.</p>
<p>[52] Musnad Ahmad: Musnad Abû Hurairah t; ‘Abdullâh bin Ahmad menerimanya dari ayahnya, Ahmad bin Hanbal, yang menerimanya melalui jalur ‘Abdu r-Razzâq dari Ma’mar dari Hammâm bin Munabbih (juga dari Az-Zuhriy dari Sa’îd bin Al-Musayyab; juga melalui jalur Hajjâj dari Laits dari ‘Uqail dari Ibnu Syihâb dari Abû Salamah; dan jalur ‘Abdu r-Rahmân, Is-hâq dan ‘Utsmân bin ‘Umar dari Mâlik dari Al-A’lâ` bin ‘Abdi r-Rahmân bin Ya’qûb dari Bapaknya dan Is-hâq bin ‘Abdillâh; juga jalur Wakî’ dan ‘Abdu r-Rahmân dari Sufyân Al-Ma’aniy dari Sa’d bin Ibrâhîm dari ‘Amrû bin Salamah) dari Abû Hurairah t; juga melalui jalur Muhammad bin Ja’far dari ‘Awf dari Al-Hasan.</p>
<p>[53] Sunan Ibnu Mâjjah: Kitâbu l-Masâjid wa l-Jamâ’ah, Bâbu l-Masy-yi ilâ sh-Shalât; Ibnu Mâjjah menerimanya melalui jalur Muhammad bin ‘Utsmân dari Ibrâhîm bin Sa’d dari Sa’îd bin Al-Musayyab dan Abû Salamah dari Abû Hurairah t.</p>
<p>[54] Sunan Abû Dâwûd: Kitâbu sh-Shalât, Bâbu l-Sa’iyyi ilâ sh-Shalât; Abû Dâwûd menerimanya melalui jalur Ahmad bin Shâlih dari ‘Anbasah dari Yûnus dari Ibnu Syihâb dari Sa’îd bin Al-Musayyab dan Abû Salamah dari Abû Hurairah t.</p>
<p>[55] Jâmi’u t-Turmudziy: Kitâbu sh-Shalât, Bâb Mâ Jâ-a fî l-Masy-yi ilâ l-Masjid; At-Turmudziy menerimanya melalui jalur Muhammad bin ‘Abdi l-Malik bin Abî sy-Syawârib dari Yazîd bin ZuRay’i dari Ma’mar dari Az-Zuhriy dari Abû Salamah dari Abû Hurairah t.</p>
<p>[56] Al-Muwatha`: Kitâbu sh-Shalât, Bâb Mâ Jâ-a fî n-Nidâ-i sh-Shalât; Mâlik menerimanya melalui jalur Mâlik dari Al-A’lâْ bin ‘Abdi r-Rahmân bin Ya’qûb dari Bapaknya dan Is-hâq bin ‘Abdillâh dari Abû Hurairah t.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/manajamendakwah.wordpress.com/9/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/manajamendakwah.wordpress.com/9/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/manajamendakwah.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/manajamendakwah.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/manajamendakwah.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/manajamendakwah.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/manajamendakwah.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/manajamendakwah.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/manajamendakwah.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/manajamendakwah.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/manajamendakwah.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/manajamendakwah.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/manajamendakwah.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/manajamendakwah.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/manajamendakwah.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/manajamendakwah.wordpress.com/9/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=manajamendakwah.wordpress.com&amp;blog=4519951&amp;post=9&amp;subd=manajamendakwah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://manajamendakwah.wordpress.com/2008/08/22/manajamen-waktu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3923ca157b0f4916fdb4846b3799332c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">manajamendakwah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://manajamendakwah.files.wordpress.com/2008/08/waktu.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>AYAT-AYAT DAN HADIST PACARAN</title>
		<link>http://manajamendakwah.wordpress.com/2007/08/22/ayat-ayat-dan-hadist-pacaran/</link>
		<comments>http://manajamendakwah.wordpress.com/2007/08/22/ayat-ayat-dan-hadist-pacaran/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Aug 2007 13:51:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>manajamendakwah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadist]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://manajamendakwah.wordpress.com/?p=21</guid>
		<description><![CDATA[AYAT-AYAT DAN HADIST (insya Allah bisa jadi pertimbangan buat yg sedang) PACARAN *) Al Qur’an 1. Al-Ahzab ayat 53: “Dan jika kalian (para shahabat) meminta suatu hajat (kebutuhan) kepada mereka (istri-istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) maka mintalah dari balik hijab. Hal itu lebih bersih (suci) bagi kalbu kalian dan kalbu mereka.” 2. Al-Isra`: 32 [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=manajamendakwah.wordpress.com&amp;blog=4519951&amp;post=21&amp;subd=manajamendakwah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><a title="Permalink" href="http://rifay.wordpress.com/2008/03/11/ayat-ayat-dan-hadist-pacaran/"><br />
</a></h2>
<p><a href="http://rifay.files.wordpress.com/2008/04/images3.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-73" style="float:left;" src="http://rifay.files.wordpress.com/2008/04/images3.jpg?w=133&#038;h=152&#038;h=152" alt="" width="133" height="152" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">AYAT-AYAT DAN HADIST </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">(insya Allah bisa jadi pertimbangan buat yg sedang) </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">PACARAN</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">*) Al Qur’an</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white none repeat scroll 0 50%;text-align:justify;line-height:18pt;margin:9pt 0;"><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">1. </span><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">Al-Ahzab ayat 53:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">“Dan jika kalian (para shahabat) meminta suatu hajat (kebutuhan) kepada mereka (istri-istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) maka mintalah dari balik hijab. Hal itu lebih bersih (suci) bagi kalbu kalian dan kalbu mereka.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white none repeat scroll 0 50%;text-align:justify;line-height:18pt;margin:9pt 0;"><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">2. Al-Isra`: 32 </span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white none repeat scroll 0 50%;text-align:justify;line-height:18pt;margin:9pt 0;"><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">“Dan janganlah kalian mendekati perbuatan zina, sesungguhnya itu adalah perbuatan nista dan sejelek-jelek jalan.” <span id="more-21"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white none repeat scroll 0 50%;text-align:justify;line-height:18pt;margin:9pt 0;"><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">3. An-Nur ayat 30:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white none repeat scroll 0 50%;text-align:justify;line-height:18pt;margin:9pt 0;"><span class="gen"><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.”</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white none repeat scroll 0 50%;text-align:justify;line-height:18pt;margin:9pt 0;"><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">4. An-Nur ayat 31:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white none repeat scroll 0 50%;text-align:justify;line-height:18pt;margin:9pt 0;"><span class="gen"><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white none repeat scroll 0 50%;text-align:justify;line-height:18pt;margin:9pt 0;"><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">5. Al-Ahzab: 32</span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white none repeat scroll 0 50%;text-align:justify;line-height:18pt;margin:9pt 0;"><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;"><span> </span>“Maka janganlah kalian (para istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam) berbicara dengan suara yang lembut, sehingga lelaki yang memiliki penyakit dalam kalbunya menjadi tergoda dan ucapkanlah perkataan yang ma’ruf (baik).”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">6. Al Ahzab : <span class="gen">53. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span class="gen"><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span class="gen"><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah- rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak (makanannya)<sup><span>[1228]</span></sup>, tetapi jika kamu diundang maka masuklah dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi lalu Nabi malu kepadamu (untuk menyuruh kamu keluar), dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar. Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri- isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini isteri- isterinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi Allah.”</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white none repeat scroll 0 50%;text-align:justify;line-height:18pt;margin:9pt 0;"><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">*) Hadist</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;"><span style="text-decoration:none;"> </span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">1. “Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau (indah memesona), dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kalian sebagai khalifah (penghuni) di atasnya, kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala memerhatikan amalan kalian. Maka berhati-hatilah kalian terhadap dunia dan wanita, karena sesungguhnya awal fitnah (kehancuran) Bani Israil dari kaum wanita.” (HR. Muslim, dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white none repeat scroll 0 50%;text-align:justify;line-height:18pt;margin:9pt 0;"><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">2. “Tidaklah aku meninggalkan fitnah sepeninggalku yang lebih berbahaya terhadap kaum lelaki dari fitnah (godaan) wanita.” (Muttafaqun ‘alaih, dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white none repeat scroll 0 50%;text-align:justify;line-height:18pt;margin:9pt 0;"><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">3. “Hati-hatilah kalian dari masuk menemui wanita.” Seorang lelaki dari kalangan Anshar berkata: “Bagaimana pendapatmu dengan kerabat suami? ” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Mereka adalah kebinasaan.” (Muttafaq ‘alaih, dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">4. “Jangan sekali-kali salah seorang kalian berkhalwat dengan wanita, kecuali bersama mahram.” (Muttafaq ‘alaih, dari<span> </span>Ibnu‘Abbas.R.A)<br />
<!--[if !supportLineBreakNewLine]--><br />
<!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">5. “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka jangan sekali-kali dia berkhalwat dengan seorang wanita tanpa disertai mahramnya, karena setan akan menyertai keduanya.” (HR. Ahmad)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white none repeat scroll 0 50%;text-align:justify;line-height:18pt;margin:9pt 0;"><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">6. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:“Telah ditulis bagi setiap Bani Adam bagiannya dari zina, pasti dia akan melakukannya, kedua mata zinanya adalah memandang, kedua telinga zinanya adalah mendengar, lidah(lisan) zinanya adalah berbicara, tangan zinanya adalah memegang, kaki zinanya adalah melangkah, sementara kalbu berkeinginan dan berangan-angan, maka kemaluan lah yang membenarkan atau mendustakan.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white none repeat scroll 0 50%;text-align:justify;line-height:18pt;margin:9pt 0;"><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">7. “Demi Allah, sungguh jika kepala salah seorang dari kalian ditusuk dengan jarum dari besi, maka itu lebih baik dari menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (HR. Ath-Thabarani dan Al-Baihaqi dari Ma’qil bin Yasar radhiyallahu ‘anhu, dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 226)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white none repeat scroll 0 50%;text-align:justify;line-height:18pt;margin:9pt 0;"><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">8. Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Tidak. Demi Allah, tidak pernah sama sekali tangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyentuh tangan wanita (selain mahramnya), melainkan beliau membai’at mereka dengan ucapan (tanpa jabat tangan).” (HR. Muslim)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white none repeat scroll 0 50%;text-align:justify;line-height:18pt;margin:9pt 0;"><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">9. Dalam Shahih Muslim dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata: “Aku bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang pandangan yang tiba-tiba (tanpa sengaja)? Maka beliau bersabda: ‘Palingkan pandanganmu’.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">10. ” Janganlah kalian masuk ke tempat wanita. ‘Lalu seseorang dari kaum Anshar berkata : “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu mengenai ipar?’. Beliau menjawab, “Ipar itu maut (menyendiri dengannya bagaikan bertemu dengan kematian)”. (Hadits Riwayat Muttafaqun ‘alaih)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;">11. Ath-Thabrany mentakhrij sebuah hadits. “Janganlah kamu sekalian berkhalwat dengan wanita. Demi diriku yang ada dalam kekuasaan-Nya, tidaklah seorang laki-laki berkhalwat dengan seorang wanita melainkan syetan akan masuk di antara keduanya. Lebih baik seorang laki-laki berdekatan dengan babi yang berlumuran tanah liat atau lumpur daripada dia mendekatkan bahunya ke bahu wanita yang tidak halal baginya”.</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/manajamendakwah.wordpress.com/21/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/manajamendakwah.wordpress.com/21/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/manajamendakwah.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/manajamendakwah.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/manajamendakwah.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/manajamendakwah.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/manajamendakwah.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/manajamendakwah.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/manajamendakwah.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/manajamendakwah.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/manajamendakwah.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/manajamendakwah.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/manajamendakwah.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/manajamendakwah.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/manajamendakwah.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/manajamendakwah.wordpress.com/21/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=manajamendakwah.wordpress.com&amp;blog=4519951&amp;post=21&amp;subd=manajamendakwah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://manajamendakwah.wordpress.com/2007/08/22/ayat-ayat-dan-hadist-pacaran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3923ca157b0f4916fdb4846b3799332c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">manajamendakwah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rifay.files.wordpress.com/2008/04/images3.jpg?w=133&#38;h=152" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>tips membuat situs web atau blog kamu terkenal</title>
		<link>http://manajamendakwah.wordpress.com/2006/08/18/tips-membuat-situs-web-atau-blog-kamu-terkenal/</link>
		<comments>http://manajamendakwah.wordpress.com/2006/08/18/tips-membuat-situs-web-atau-blog-kamu-terkenal/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Aug 2006 09:43:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>manajamendakwah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips dan Trik]]></category>
		<category><![CDATA[tips dan trik blogger]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://manajamendakwah.wordpress.com/?p=5</guid>
		<description><![CDATA[Berbisnis di ranah maya? Mengapa tidak. Agar sukses berbisnis di ranah maya, faktor pentingnya terletak pada publikasi dan promosi. Caranya adalah dengan membuat situs kita dikenal oleh pengguna. Sedapat mungkin situs kita harus muncul pada halaman-halaman awal situs mesin pencari (search engine) yang dikenal dengan teknik SEO (Search Engine Optimizer). Nah, bagaimana kiat-kiat untuk meningkatkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=manajamendakwah.wordpress.com&amp;blog=4519951&amp;post=5&amp;subd=manajamendakwah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berbisnis di ranah maya? Mengapa tidak. Agar sukses berbisnis di ranah maya, faktor pentingnya terletak pada publikasi dan promosi. Caranya adalah dengan membuat situs kita dikenal oleh pengguna. Sedapat mungkin situs kita harus muncul pada halaman-halaman awal situs mesin pencari (<em>search engine</em>) yang dikenal dengan teknik SEO (Search Engine Optimizer).</p>
<p>Nah, bagaimana kiat-kiat untuk meningkatkan rating website dalam indeks search engine? Pakar bidang Internet Business dan blogger senior Indonesia, Cosa Aranda, dalam workshop yang mengambil tema “Meningkatkan Ranking Website dalam Indeks Search Engine”, di Laboratorium Komputer FMIPA Selatan UGM, Sabtu (24/5/2008), berbagi tips yang tampaknya sepele, tapi penting. Berikut kuncinya:<span id="more-5"></span></p>
<p><strong>1. Kunci sukses pertama terletak pada konten </strong></p>
<p>Menurut Cosa, kunci sukses pertama dalam ‘melariskan’ website Anda terletak pada konten. Tulislah konten secara jujur, biarkan mengalir. Jangan mengada-ada, biarkan mengalir sealamiah mungkin. Buatlah kalimat-kalimat yang menarik dan enak dibaca, sehingga pengunjung akan senang mengunjungi webAnda. Jangan terjebak dengan kalimat yang bertele-tele.</p>
<p><strong>2. Penulisan atribut konten</strong></p>
<p>Pergunakan keyword yang berkaitan dengan konten web Anda. Jangan lupa untuk memberikan keyword utama pada judul halaman web. Anda harus pintar memilih keyword yang berpotensi untuk muncul pada search engine.</p>
<p><strong>3. Membuat backlink</strong></p>
<p>Jangan ragu untuk membuat link ke sumber lain yang terkait dengan tulisan yang Anda buat. Link-link ini ini akan memperkaya website Anda.</p>
<p>Jika Anda ingin mengetahui lebih lengkap tentang tips menaikkan rating website, Anda bisa berkunjung ke website <a href="http://www.cosaaranda.com/" target="_blank">Cosa Aranda</a>. Di sana Anda bisa mendapatkan tips dan trik dan hambatan-hambatan yang dapat ditemui selama berbisnis melalui internet.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/manajamendakwah.wordpress.com/5/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/manajamendakwah.wordpress.com/5/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/manajamendakwah.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/manajamendakwah.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/manajamendakwah.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/manajamendakwah.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/manajamendakwah.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/manajamendakwah.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/manajamendakwah.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/manajamendakwah.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/manajamendakwah.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/manajamendakwah.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/manajamendakwah.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/manajamendakwah.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/manajamendakwah.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/manajamendakwah.wordpress.com/5/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=manajamendakwah.wordpress.com&amp;blog=4519951&amp;post=5&amp;subd=manajamendakwah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://manajamendakwah.wordpress.com/2006/08/18/tips-membuat-situs-web-atau-blog-kamu-terkenal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3923ca157b0f4916fdb4846b3799332c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">manajamendakwah</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
